Gelar akademik tidak banyak berarti jika berhenti sebagai pencapaian pribadi. Di tengah kebutuhan pembangunan yang semakin beragam, kemampuan lulusan perguruan tinggi justru dituntut bisa menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Pesan itulah yang disampaikan Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i saat menghadiri Pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Universitas Sumatera Utara (PW IKA USU) Banten Periode 2026-2030 di Tangerang, Banten, Sabtu (22/8/2026).
Romo Syafi’i mendorong para cendekiawan dan alumni perguruan tinggi untuk terus memperkuat keahlian masing-masing. Menurutnya, pembangunan nasional membutuhkan tenaga profesional dari berbagai bidang agar program pemerintah tidak hanya berhenti sebagai kebijakan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi layanan dan pekerjaan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Ketika pembangunan membuka kebutuhan akan banyak profesi
Ada satu bagian dari pidato Romo Syafi’i yang menarik perhatian karena melihat pembangunan dari sisi yang lebih luas.
Ia mengaitkan pembangunan sekolah, perhatian terhadap kesejahteraan guru, hingga layanan pemeriksaan kesehatan gratis dengan kebutuhan terhadap tenaga ahli. Dalam pandangannya, berbagai program tersebut pada saat yang sama menciptakan ruang kerja dan pengabdian bagi masyarakat yang memiliki kompetensi.
“Semua upaya yang dilakukan oleh Presiden, termasuk memberikan perhatian kepada pendidikan, membangun rumah sekolah, meningkatkan kesejahteraan guru, cek kesehatan gratis dan sebagainya, di mata saya itu adalah penciptaan lapangan kerja. Hal ini membutuhkan ahli di banyak bidang yang terus dikembangkan,” ujar Romo Syafi’i.
Pernyataan tersebut memberi gambaran bahwa kebutuhan tenaga profesional tidak hanya muncul dari perusahaan atau pasar kerja. Program pembangunan pemerintah juga membutuhkan manusia dengan keahlian yang sesuai.
Pembangunan sekolah membutuhkan banyak profesi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Begitu pula layanan kesehatan, pengelolaan energi, ketahanan pangan, administrasi pemerintahan, teknologi, hingga berbagai bentuk pelayanan publik lainnya.
Karena itu, kompetensi menjadi bagian penting dari keberhasilan pembangunan. Semakin kompleks program yang dijalankan, semakin beragam pula keahlian yang diperlukan.
Baca juga: Tantangan Hafal Surat Ad-Duha untuk Dapat Minuman Jadi Sorotan, Ini Kata Wamenag
Pesan ini tidak berdiri sendiri
Perhatian Romo Syafi’i terhadap kualitas sumber daya manusia juga terlihat dalam sejumlah agenda Kementerian Agama sepanjang beberapa pekan terakhir.
Pada awal Agustus, misalnya, Wamenag membahas ekosistem pendidikan yang aman dan nyaman bersama Jaksa Agung. Kemenag juga pada Agustus membahas pengelolaan guru agama dalam revisi UU Sistem Pendidikan Nasional, termasuk persoalan yang berkaitan dengan pengangkatan dan pembiayaan guru agama.
Konteks tersebut membuat pesan kepada alumni perguruan tinggi menjadi lebih mudah dipahami. Penguatan pendidikan dan layanan keagamaan membutuhkan bukan hanya kebijakan, tetapi juga orang-orang yang mampu mengerjakannya.
Di bidang pesantren, perhatian terhadap kelembagaan dan pemberdayaan juga menjadi salah satu agenda yang terus dibicarakan Kemenag. Pada saat yang sama, Romo Syafi’i sebelumnya menekankan pentingnya peran strategis kelompok alumni dan cendekiawan dalam mendukung kemandirian nasional.
Dengan begitu, ajakan untuk memperkuat kompetensi bukan sekadar pesan seremonial dalam acara pelantikan organisasi alumni. Ada kebutuhan yang lebih luas di baliknya: memastikan sumber daya manusia yang tersedia mampu mengikuti kebutuhan pembangunan.
Alumni USU punya ruang pengabdian yang luas
Pelantikan PW IKA USU Banten periode 2026-2030 menjadi salah satu momentum untuk melihat kembali fungsi organisasi alumni.
Ikatan alumni memiliki anggota dengan latar belakang pekerjaan dan keahlian yang beragam. Ada yang bergerak di pemerintahan, pendidikan, dunia usaha, kesehatan, hukum, teknologi, maupun bidang profesional lainnya.
Keragaman tersebut sebenarnya dapat menjadi kekuatan tersendiri. Alumni tidak harus memberikan kontribusi dengan bentuk yang sama karena kebutuhan masyarakat juga berbeda-beda.
Seorang tenaga pendidik dapat berkontribusi melalui peningkatan kualitas pembelajaran. Profesional di bidang kesehatan dapat membantu memperkuat layanan masyarakat, sedangkan orang yang memiliki pengalaman di bidang ekonomi dapat mengambil bagian dalam pengembangan usaha dan pemberdayaan.
Ruang pengabdian menjadi semakin besar ketika keahlian tersebut dipertemukan melalui jejaring organisasi.
Baca juga: Kemenag Dukung Prodi S1 Manajemen Masjid, Lulusan Disiapkan Jadi Pengelola Masjid Profesional
Pendidikan tinggi bukan garis akhir
Ada pesan lain yang cukup penting dari pernyataan Wamenag: kemampuan profesional harus terus dikembangkan.
Lulusan perguruan tinggi tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh saat kuliah. Perubahan kebutuhan pekerjaan, perkembangan ilmu pengetahuan, dan persoalan masyarakat membuat proses belajar perlu terus berlangsung.
Kondisi ini juga berlaku bagi mereka yang sudah lama bekerja. Pengalaman memang penting, tetapi pengalaman akan semakin bernilai jika terus diperbarui dengan pengetahuan dan kemampuan baru.
Bagi alumni, pengembangan kompetensi bisa dilakukan melalui pendidikan lanjutan, pelatihan profesional, kegiatan organisasi, penelitian, pertukaran pengetahuan atau pengalaman langsung di lapangan.
Ukuran keberhasilan akhirnya bukan sekadar seberapa tinggi gelar yang dimiliki, tetapi seberapa jauh keahlian tersebut mampu menghasilkan pekerjaan yang baik dan memberikan manfaat.
Wakaf Rumah Tahfiz melengkapi pesan tentang pengabdian
Pelantikan IKA USU Banten juga memiliki sisi lain yang berkaitan langsung dengan pendidikan keagamaan.
Pada kesempatan tersebut dilakukan penyerahan sertifikat tanah wakaf beserta bangunannya kepada Yayasan Izzatul Amaliyah Komunitas Alumni Muslim USU (YIAK). Aset tersebut direncanakan digunakan sebagai Rumah Tahfiz.
Rencana tersebut menunjukkan bentuk pengabdian yang berbeda. Jika penguatan kompetensi berbicara mengenai kemampuan manusia, wakaf menyediakan sarana yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pendidikan keagamaan.
Pemanfaatan aset wakaf sebagai Rumah Tahfiz juga memperlihatkan bagaimana kontribusi alumni dapat mengambil bentuk yang konkret. Tidak hanya melalui gagasan atau kegiatan organisasi, tetapi melalui penyediaan fasilitas yang dapat digunakan masyarakat.
Bagi lingkungan sekitar, keberadaan tempat pembelajaran Al-Qur’an dapat menjadi bagian dari penguatan pendidikan keagamaan. Pengelolaan yang baik akan menjadi faktor penting agar manfaat aset tersebut dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Tantangan sebenarnya ada setelah pelantikan
Pelantikan pengurus organisasi selalu mempunyai momen seremonial, tetapi ukuran kontribusi sebuah organisasi biasanya baru terlihat setelah kegiatan tersebut selesai.
Pesan Wamenag mengenai kompetensi memberikan salah satu arah yang dapat diterjemahkan oleh organisasi alumni: membangun jejaring yang tidak hanya menjaga hubungan antarangkatan, tetapi juga menghasilkan kegiatan yang mempunyai manfaat.
Hal itu bisa dimulai dari hal yang sederhana, seperti mempertemukan alumni lintas profesi untuk berbagi pengalaman, membantu mahasiswa dan lulusan baru, mengembangkan kegiatan sosial, mendukung pendidikan, atau membuka kerja sama yang sesuai dengan kemampuan anggota.
Tidak semua kontribusi harus berskala nasional. Pekerjaan profesional yang dilakukan dengan baik di lingkungan masing-masing juga merupakan bentuk pengabdian.
Keahlian yang kembali kepada masyarakat
Pesan Romo Syafi’i pada akhirnya membawa perhatian pada hubungan antara pendidikan tinggi dan kepentingan masyarakat.
Indonesia tidak hanya membutuhkan lebih banyak orang berpendidikan, tetapi juga membutuhkan orang yang mampu menggunakan pendidikannya untuk menyelesaikan persoalan. Perbedaan antara keduanya terletak pada bagaimana pengetahuan diterapkan setelah seseorang meninggalkan ruang kuliah.
Bagi para alumni, tantangannya adalah menjaga agar ilmu dan pengalaman tidak berhenti menjadi pencapaian pribadi. Keahlian yang terus diasah akan mempunyai nilai lebih ketika dapat digunakan untuk memperbaiki layanan, menciptakan pekerjaan, membantu pendidikan, atau menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dalam konteks itulah pelantikan PW IKA USU Banten periode 2026-2030 memiliki makna yang lebih luas. Organisasi alumni bukan hanya tempat bertemu kembali setelah bertahun-tahun meninggalkan kampus, melainkan dapat menjadi ruang untuk menghubungkan pendidikan, profesi dan pengabdian.
Jika hubungan tersebut berjalan baik, gelar yang diperoleh di perguruan tinggi tidak berhenti sebagai tanda kelulusan. Ia berubah menjadi bekal untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan bangsa.