Bukan Marmer Biasa, Ini Rahasia Lantai Masjidil Haram Tetap Sejuk di Tengah Panas Makkah

Jamaah haji dan umrah yang berjalan tanpa alas kaki di halaman Masjidil Haram pada siang hari mungkin merasakan hal yang tidak biasa. Saat matahari Makkah terasa sangat terik, permukaan lantai masjid tetap relatif sejuk dan nyaman untuk dipijak.

Rahasia di balik kondisi tersebut ternyata berkaitan dengan material yang digunakan. Lantai di sejumlah area Masjidil Haram menggunakan Marmer Thassos, jenis marmer putih yang berasal dari Pulau Thassos, Yunani, dan memiliki karakter khusus dalam memantulkan radiasi matahari serta menghantarkan panas.

Pemilihan marmer ini bukan sekadar untuk memperindah tampilan Masjidil Haram. Material tersebut dipakai pada kawasan yang setiap hari menerima lalu lintas jamaah dalam jumlah sangat besar, sehingga kemampuan menghadapi panas Makkah sekaligus memberikan kenyamanan saat diinjak menjadi pertimbangan penting.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Construction and Building Materials pada 2021 bahkan menempatkan penggunaan Marmer Thassos di Masjidil Haram sebagai contoh cool pavement, yakni permukaan yang dirancang untuk membantu mengendalikan panas. Penelitian tersebut menyebut material ini telah digunakan di Masjidil Haram selama lebih dari 35 tahun.

Marmer Thassos Berasal Dari Pulau Di Yunani

Thassos merupakan sebuah pulau di Yunani yang berada di Laut Aegea, dekat wilayah Kavala. Pulau ini telah lama dikenal sebagai salah satu sumber marmer putih berkualitas tinggi.

Marmer dari wilayah tersebut memiliki warna putih yang sangat bersih sehingga sering disebut sebagai snow white marble. Karakter visual itu menjadi salah satu ciri paling mudah dikenali ketika melihat lantai Masjidil Haram.

Namun, nilai Marmer Thassos untuk Masjidil Haram bukan hanya terletak pada warnanya. Struktur mineral batu dan sifat termalnya menjadi alasan utama material tersebut dipilih untuk area yang terpapar panas.

Penelitian ilmiah mengenai material ini menjelaskan bahwa Marmer Thassos yang digunakan di Masjidil Haram merupakan jenis marmer dolomitik. Komposisi tersebut berkaitan dengan karakter termal yang membuatnya berbeda dari sejumlah material batu lain.

Baca juga: Mushaf Al Quran Berusia 3 Abad Dipamerkan di Makkah, Mengingatkan Panjangnya Sejarah Penulisan Mushaf

Warna Putih Membantu Memantulkan Panas Matahari

Salah satu alasan lantai Masjidil Haram tidak cepat menjadi sangat panas adalah warna permukaannya yang sangat putih.

Permukaan putih memiliki kemampuan memantulkan radiasi matahari dalam jumlah besar. Artinya, energi matahari yang mengenai lantai tidak seluruhnya berubah menjadi panas yang tersimpan di permukaan.

Faktor ini menjadi sangat penting di Makkah. Lingkungan sekitar Masjidil Haram memiliki paparan matahari yang kuat dan suhu udara dapat meningkat sangat tinggi pada musim panas.

Penelitian terhadap pavement Marmer Thassos di Masjidil Haram menemukan bahwa tingkat reflektansi mataharinya menjadi salah satu faktor utama yang membantu mempertahankan suhu permukaan pada tingkat yang lebih rendah.

Jadi, penjelasan bahwa lantai terasa sejuk bukan sekadar karena marmernya berwarna putih. Warna tersebut berhubungan langsung dengan kemampuan permukaan dalam merespons energi matahari.

Konduktivitas Termalnya Juga Menjadi Faktor Penting

Ada satu bagian yang sering terlewat ketika membahas lantai Masjidil Haram, yaitu konduktivitas termal.

Marmer Thassos mempunyai kemampuan menghantarkan panas yang relatif tinggi. Dalam penelitian 2021, nilai konduktivitas termalnya dilaporkan sekitar 4,8 W/m-K, lebih tinggi dibanding sejumlah material pembanding seperti marmer biasa, batu kapur, beton, dan aspal.

Secara sederhana, sifat tersebut membuat panas tidak mudah berhenti dan menumpuk hanya di permukaan yang bersentuhan dengan telapak kaki.

Kondisi ini berbeda dengan material yang lebih mudah menyimpan panas di lapisan permukaan. Karena panas dapat ditransfer lebih cepat melalui material, suhu permukaan Marmer Thassos dapat dipertahankan lebih rendah.

Gabungan antara warna putih dengan reflektansi tinggi dan konduktivitas termal yang tinggi menjadi penjelasan ilmiah yang lebih lengkap mengenai kesejukan lantai Masjidil Haram.

Ketebalan Marmer Mencapai Lima Sentimeter

Marmer yang digunakan di kawasan Masjidil Haram juga bukan lempengan tipis seperti sebagian produk dekorasi rumah.

Menurut keterangan pihak teknis pengelola Dua Masjid Suci yang diberitakan Arab News, setiap lempengan memiliki ketebalan sekitar 5 sentimeter, dengan ukuran salah satu spesifikasi yang disebut mencapai 120 × 60 sentimeter. Material tersebut didatangkan dari Thassos dalam bentuk bongkahan besar sebelum diproses dan dipasang.

Ketebalan tersebut memberikan konstruksi lantai yang kuat untuk menghadapi lalu lintas jamaah dalam jumlah sangat besar. Beban yang diterima lantai Masjidil Haram tentu jauh berbeda dengan lantai bangunan biasa.

Pemilihan material akhirnya harus mempertimbangkan lebih dari satu kebutuhan: kemampuan menghadapi beban, ketahanan, kenyamanan ketika diinjak tanpa alas kaki, serta kemampuan menghadapi panas lingkungan.

Baca juga: Kemenhaj Siapkan Ekspo untuk Bawa Produk UMKM Haji dan Umrah ke Arab Saudi

Marmernya Tidak Didinginkan Dengan AC Dari Bawah

Kesejukan lantai Masjidil Haram sering memunculkan anggapan bahwa terdapat sistem pendingin khusus di bawah marmer.

Penjelasan mengenai karakter material menunjukkan bahwa kesejukan permukaan terutama berasal dari sifat alami Marmer Thassos. Penelitian termofisika terhadap lantai Masjidil Haram juga menemukan bahwa material tersebut mampu mempertahankan kondisi permukaan yang lebih sejuk dibandingkan sejumlah alternatif seperti beton dan aspal dalam simulasi kondisi cuaca Makkah.

Sistem pendingin udara di Masjidil Haram memang ada, tetapi fungsinya berkaitan dengan kondisi udara di dalam kawasan masjid. Mekanisme tersebut berbeda dari alasan mengapa lantai marmer di area terbuka tetap relatif nyaman ketika diinjak.

Perbedaan ini penting karena istilah “lantai dingin” tidak berarti Marmer Thassos menghasilkan hawa dingin seperti mesin pendingin. Material tersebut lebih tepat disebut memiliki kemampuan mengurangi penumpukan panas pada permukaan.

Marmer Menyerap Kelembapan Pada Malam Hari

Selain reflektansi dan konduktivitas termal, ada karakter lain yang disampaikan pihak pengelola Dua Masjid Suci.

Insinyur Fares Al-Saedi menjelaskan bahwa lempengan Marmer Thassos mempunyai pori-pori halus yang dapat menyerap kelembapan pada malam hari dan melepaskannya pada siang hari. Menurutnya, proses tersebut ikut membantu permukaan marmer tetap lebih sejuk ketika suhu meningkat.

“Setiap lempengan marmer memiliki ketebalan lima sentimeter,” kata Fares Al-Saedi, seraya menjelaskan kemampuan material tersebut menyerap kelembapan melalui pori-pori halus pada malam hari dan melepaskannya pada siang hari.

Penjelasan tersebut melengkapi hasil penelitian termofisika. Kesejukan lantai bukan berasal dari satu faktor tunggal, melainkan dari kombinasi karakter material dan kondisi lingkungan.

Baca juga: Mengenal Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal, Cara Baru Berwakaf Lewat Pasar Modal

Luas Penggunaan Marmernya Sangat Besar

Penggunaan Marmer Thassos di Masjidil Haram juga menarik jika dilihat dari skalanya.

Penelitian yang diterbitkan pada 2021 memperkirakan total cakupan Marmer Thassos di Masjidil Haram mencapai sekitar 1,5 juta meter persegi. Penelitian tersebut menyebut penggunaan material ini pada pavement, dinding, bahkan bagian atap di kawasan masjid.

Angka tersebut menunjukkan bahwa penggunaan Marmer Thassos bukan sekadar untuk beberapa bagian dekoratif. Material tersebut menjadi bagian penting dari konstruksi kawasan dalam skala yang sangat besar.

Dengan luas seperti itu, pemilihan jenis batu harus mempertimbangkan ketersediaan material, konsistensi kualitas, proses pemotongan, pengangkutan, pemasangan, hingga pemeliharaan jangka panjang.

Bongkahan Marmer Diolah Sebelum Dipasang

Marmer yang digunakan untuk Masjidil Haram tidak langsung dikirim dari Yunani dalam bentuk ubin siap pasang.

Material tersebut didatangkan dalam bentuk bongkahan besar dari Thassos. Setelah tiba, batu diproses dan dipotong sesuai kebutuhan sebelum digunakan sebagai lantai. Informasi mengenai proses tersebut juga tercatat dalam laporan mengenai pengembangan kawasan Masjidil Haram.

Penelitian akademik mengenai sumber material bahkan mencatat bahwa marmer yang digunakan di Makkah diperoleh dari pemasok di kawasan Thassos sejak 2008 dalam rangka memenuhi kebutuhan proyek Masjidil Haram.

Proses seperti ini menjelaskan mengapa material untuk proyek sebesar Masjidil Haram tidak bisa disamakan dengan pembelian marmer biasa untuk rumah.

Perawatan Dilakukan Terus-Menerus

Marmer dengan kualitas tinggi tetap membutuhkan perawatan, terlebih ketika digunakan pada kawasan yang dilalui jamaah dalam jumlah sangat besar setiap hari.

Pihak teknis Dua Masjid Suci menjelaskan bahwa pemeriksaan dan pemeliharaan dilakukan secara rutin. Marmer yang mengalami kerusakan atau kehilangan karakteristik yang dibutuhkan dapat dipoles, diperbaiki, atau diganti.

Menurut keterangan Fares Al-Saedi yang diberitakan pada 2026, pekerjaan pemeliharaan dilakukan sepanjang waktu dengan melibatkan lebih dari 40 insinyur dan teknisi.

Perawatan menjadi bagian penting karena fungsi lantai bukan hanya sebagai elemen arsitektur. Permukaannya harus tetap aman dan nyaman untuk jamaah yang berjalan tanpa alas kaki.

Bukan Sekadar Marmer Mahal

Marmer Thassos memang termasuk material premium dan harga komersialnya dapat tinggi. Namun, angka harga dari pemasok atau marketplace tidak bisa langsung dianggap sebagai harga marmer yang digunakan di Masjidil Haram.

Harga batu alam dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kualitas, warna, ukuran blok, ketebalan, proses pemotongan, pengiriman, hingga spesifikasi proyek. Harga satu meter persegi produk komersial juga tidak sama dengan biaya pengadaan material untuk proyek infrastruktur berskala sangat besar.

Nilai utama Marmer Thassos di Masjidil Haram justru terletak pada kombinasi sifatnya. Material ini memiliki warna putih dengan reflektansi tinggi, karakter termal yang mendukung pelepasan panas, kekuatan untuk penggunaan jangka panjang, serta karakter yang sesuai dengan kebutuhan jamaah yang berjalan tanpa alas kaki.

Penelitian Membandingkan Dengan Beton Dan Aspal

Keistimewaan material tersebut tidak hanya berdasarkan pengalaman jamaah.

Penelitian dalam Construction and Building Materials melakukan pemodelan suhu permukaan Marmer Thassos berdasarkan kondisi cuaca Makkah. Hasilnya menunjukkan bahwa marmer tersebut mampu mempertahankan suhu permukaan pada tingkat yang lebih dapat diterima untuk kontak manusia selama periode musim panas.

Penelitian yang sama membandingkannya dengan material seperti beton dan aspal. Dalam kondisi lingkungan yang sama, kedua material tersebut diperkirakan menghasilkan permukaan yang jauh lebih panas sehingga tidak ideal untuk kontak langsung dengan kulit pada musim panas.

Temuan ini memberikan penjelasan yang lebih kuat mengenai alasan pemilihan Marmer Thassos. Material tersebut bukan hanya dipilih karena terlihat putih dan mewah, tetapi karena karakter fisiknya memang sesuai dengan persoalan panas yang dihadapi kawasan Masjidil Haram.

Mengapa Marmer Thassos Dipilih Untuk Masjidil Haram?

Jika seluruh fakta tersebut dirangkum, ada beberapa alasan utama yang membuat Marmer Thassos sesuai untuk kawasan Masjidil Haram.

Pertama, warna putihnya memiliki kemampuan refleksi matahari yang sangat tinggi. Kedua, karakter dolomitiknya memberikan konduktivitas termal yang tinggi sehingga panas lebih mudah didistribusikan melalui material.

Ketiga, ketebalan lempengan memberikan ketahanan terhadap penggunaan berat. Keempat, kemampuan menyerap dan melepaskan kelembapan ikut mendukung kondisi permukaan yang lebih sejuk.

Pemilihan material ini akhirnya mempertemukan kebutuhan arsitektur dengan kebutuhan jamaah. Marmer tetap memberikan tampilan putih yang khas, tetapi pada saat yang sama mempunyai fungsi teknis untuk menghadapi lingkungan panas Makkah.

Lantai putih Masjidil Haram yang terlihat sederhana dari kejauhan ternyata menyimpan rekayasa material yang cukup kompleks. Marmer Thassos dari Yunani dipilih karena karakter alamiahnya mampu menjawab salah satu tantangan terbesar kawasan tersebut: bagaimana menyediakan permukaan yang kuat, tahan lama, dan tetap nyaman bagi jamaah yang berjalan tanpa alas kaki di tengah panas Makkah.

Sangat senang dapat berbagi info di kemenagpasangkayu.id ini, sebagai seorang pemuda yang masih kuliah, menulis bisa menjadi sumber pengetahuan baru.

Leave a Comment