Aktivitas santri di Pondok Pesantren Nihadlul Qulub, Moga, Pemalang, Jawa Tengah, tidak berhenti pada kegiatan mengaji dan menghafal Al-Qur’an. Sejumlah santri justru memanfaatkan waktu terbatas di laboratorium komputer untuk membuat desain digital yang dipasarkan ke konsumen luar negeri, dengan penghasilan mencapai jutaan rupiah per bulan.
Kegiatan tersebut memperlihatkan cara berbeda pesantren dalam membekali santri menghadapi persoalan kemandirian ekonomi. Kemampuan agama tetap menjadi fondasi, sementara keterampilan desain, pemasaran digital, dan pengelolaan toko daring digunakan sebagai bekal untuk mencari penghasilan.
Waktu di depan komputer hanya beberapa jam
Rutinitas para santri tetap mengikuti pola pendidikan pesantren yang cukup ketat. Mereka menjaga hafalan melalui muraqabah satu juz setelah salat fardu, melakukan muraja’ah, serta mengikuti setoran hafalan setelah Subuh.
Waktu untuk mengembangkan bisnis digital diberikan secara terbatas, yakni sekitar pukul 09.00 hingga 11.00 WIB di laboratorium komputer. Jumat dan Minggu menjadi hari libur dari aktivitas tersebut, sehingga para santri dituntut benar-benar memanfaatkan waktu yang tersedia.
Pengasuh Pesantren Nihadlul Qulub, Kyai Ali Sobirin, menilai keberhasilan dalam bisnis desain tidak hanya bergantung pada kemampuan menggunakan perangkat lunak. “Tingkat keberhasilan ada di ketekunan dan sense seni,” ujar Kyai Ali Sobirin di Moga-Pemalang, Sabtu (21/8/2026).
Ia menambahkan, “Karena produknya adalah gambar desain digital.”
Pola pendidikan semacam ini sebenarnya bukan hal yang muncul secara tiba-tiba di Nihadlul Qulub. Pesantren tersebut sudah menjalankan berbagai program pengembangan keterampilan digital dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari digital marketing, website dan SEO, hingga pelatihan ekspor produk digital melalui platform seperti Amazon dan Redbubble.
Dari laboratorium pesantren menuju pasar internasional
Produk yang dibuat para santri bukan barang fisik yang harus dikirim dari Pemalang ke luar negeri. Mereka mengembangkan produk digital berupa desain grafis dan memasarkannya melalui platform e-commerce internasional, sehingga pembelinya dapat berasal dari Amerika, Kanada, maupun negara-negara Eropa.
Model tersebut membuat keterampilan visual menjadi aset ekonomi yang tidak terlalu bergantung pada lokasi. Seorang santri di Moga dapat membuat produk dari laboratorium pesantren, sementara pasar yang dituju berada ribuan kilometer jauhnya.
Perkembangan ini juga menjadi bagian dari pembinaan yang lebih panjang. Pada Maret 2025, BAZNAS pernah menggelar pelatihan di Nihadlul Qulub mengenai penggunaan Canva dan strategi ekspor produk digital melalui Amazon serta Redbubble, disertai materi digital marketing dan penguatan keagamaan.
Abdinal mengirim penghasilan untuk pengobatan ibunya
Cerita paling kuat datang dari Abdinal, santri asal Cirebon yang mencatat penghasilan sekitar Rp4 juta per bulan dari aktivitas digitalnya. Dorongan untuk terus mengembangkan kemampuan tersebut tidak lepas dari kondisi ibunya yang sedang sakit dan menjalani kemoterapi.
Penghasilan dari desain digital menjadi lebih dari sekadar pencapaian pribadi bagi Abdinal. Uang yang diperoleh dapat digunakan untuk membantu kebutuhan keluarga, sekaligus menjadi bukti bahwa keterampilan yang dipelajari di pesantren dapat memiliki manfaat langsung bagi kehidupan di kampung halaman.
Lehan, santri asal Lampung, memiliki cerita berbeda. Pada bulan ketiga sejak toko digitalnya berdiri, pendapatannya sempat mencapai Rp9 juta dalam satu bulan.
Ada pula Andar yang berasal dari Papua. Kendati sempat menghadapi kendala administrasi perbankan ketika memulai, ia mampu mengumpulkan total penghasilan sekitar Rp7 juta pada bulan ke-10.
Baca juga: Punya Emas, Tabungan, dan Penghasilan? Begini Cara Menghitung Zakatnya
Uang tidak berhenti di tangan santri
Penghasilan dari bisnis digital tersebut tidak selalu dipandang sebagai tujuan akhir. Sebagian besar santri memilih mengirimkan uang yang diperoleh kepada orang tua di daerah asal mereka.
Percakapan sederhana antara pengasuh dan seorang santri menggambarkan sikap tersebut. Ketika ditanya, “Uangmu mana? Saya tidak mau minta,” santri itu menjawab, “Dikirim ke orang tua, Kyai. Semua.”
Pengasuh kemudian merespons, “Bagus. Itu seperti saya dulu. Uang gampang dicari, bakti kepada orang tua secepat-cepatnya. Mumpung berkesempatan.”
Cerita tersebut memberi konteks lain terhadap keberhasilan finansial para santri. Penghasilan dari internet tidak hanya ditempatkan sebagai ukuran keberhasilan bisnis, tetapi juga dikaitkan dengan tanggung jawab kepada keluarga.
Pendidikan digital tidak menggantikan pendidikan agama
Pengembangan keterampilan digital di Nihadlul Qulub berjalan bersama pendidikan keagamaan. Program-program sebelumnya juga menunjukkan pola yang sama, ketika pelatihan pemasaran digital dan desain ditempatkan berdampingan dengan kajian Al-Qur’an, fikih, sirah, zikir, serta pembinaan mental.
Pada 2026, pendekatan tersebut bahkan berkembang ke materi digital branding dan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk pembuatan konten. Pelatihan yang berlangsung di pesantren menempatkan kemampuan teknologi, pembentukan mental, dakwah, dan kemandirian ekonomi dalam satu rangkaian pembelajaran.
Perubahan ini menunjukkan bahwa keterampilan teknologi di lingkungan pesantren tidak harus diposisikan berlawanan dengan pendidikan agama. Keduanya dapat berjalan beriringan selama teknologi digunakan sebagai sarana untuk memperkuat kemampuan dan kemandirian santri.
Gunung Slamet menjadi bagian dari pembentukan mental
Pembinaan santri tidak hanya berlangsung di depan komputer. Para santri juga menjalani kegiatan pendakian Gunung Slamet sebagai bagian dari latihan fisik dan mental.
Dalam kegiatan tersebut, mereka belajar menghadapi kelelahan, mengatur emosi, berkomunikasi dengan orang lain, mendokumentasikan perjalanan, serta mengambil keputusan ketika menghadapi kondisi sulit. Pengalaman tersebut kemudian menjadi latihan karakter yang berguna ketika mereka menghadapi tekanan dalam mengembangkan usaha digital.
Kegiatan di luar ruang tersebut menjadi menarik karena memperlihatkan bahwa kemandirian ekonomi tidak hanya dibangun melalui keterampilan teknis. Ketekunan, kemampuan menghadapi kegagalan, kerja sama, dan keberanian mengambil keputusan juga menjadi bagian dari proses pendidikan.
Gagasan ini sudah dibangun sejak beberapa tahun lalu
Perjalanan Nihadlul Qulub dalam mengembangkan keterampilan digital bukan proyek yang baru dimulai pada 2026. Pada 2022, pesantren tersebut bahkan membuka Program Beasiswa Santri Digitalpreneur dengan tujuan membentuk santri yang memahami pemasaran dan mampu menjangkau pasar bagi produk dalam negeri.
Setahun kemudian, pengasuh pesantren menyebut lima karakter yang ingin dibangun dalam pendidikan santri, yakni kuat secara intelektual, mental, spiritual, amal, dan finansial. Pelatihan digital marketing, website, dan SEO ditempatkan sebagai salah satu sarana untuk mendukung tujuan tersebut.
Rangkaian program itu memperlihatkan bahwa aktivitas bisnis digital para santri sekarang merupakan hasil dari proses yang sudah berlangsung cukup lama. Teknologi bukan sekadar tambahan pelajaran, tetapi mulai ditempatkan sebagai salah satu keterampilan yang dapat digunakan untuk membangun kemandirian.
Pesantren menghadapi tantangan kerja dengan cara berbeda
Di tengah persaingan mencari pekerjaan, kemampuan membuat dan menjual produk digital membuka kemungkinan lain bagi generasi muda. Mereka tidak harus selalu menunggu lowongan kerja formal untuk mulai menghasilkan pendapatan, meskipun kemampuan tersebut tetap membutuhkan proses belajar, konsistensi, dan pemahaman terhadap pasar.
Kisah Nihadlul Qulub juga menunjukkan bahwa pasar global tidak selalu harus dimulai dari perusahaan besar. Produk yang dibuat oleh individu dengan peralatan sederhana dapat menemukan pembeli di negara lain apabila memiliki kualitas dan strategi pemasaran yang sesuai.
Pengalaman para santri tersebut bukan berarti bisnis digital selalu menghasilkan pendapatan besar atau mudah dilakukan. Justru keterbatasan waktu, tuntutan menjaga hafalan, kemampuan teknis, dan kebutuhan memahami pasar membuat prosesnya membutuhkan disiplin yang kuat.
Dari Moga, pelajaran tentang kemandirian santri
Pendidikan di pesantren sering kali dipahami terutama dari sisi pembentukan karakter dan penguasaan ilmu agama. Nihadlul Qulub memperlihatkan sisi lain, ketika pembentukan spiritual berjalan bersama latihan keterampilan yang dapat digunakan untuk menghadapi kebutuhan ekonomi.
Pengasuh pesantren, Kyai Ali Sobirin El-Muannatsy, pernah mengkritisi ketergantungan berlebihan pada ijazah formal dalam menentukan masa depan seseorang. “Ijazah dan sebangsanya konon sekadar hiburan dan gegayaan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai dorongan agar pendidikan tidak berhenti pada dokumen kelulusan. Kemampuan menciptakan karya, membangun keterampilan, menjaga disiplin, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat juga menjadi bagian penting dari bekal seorang santri.
Dari kaki Gunung Slamet, para santri Nihadlul Qulub menunjukkan bahwa hafalan Al-Qur’an dan keterampilan ekonomi digital tidak harus berjalan di jalur yang berbeda. Ketika keduanya dipadukan dengan disiplin dan tanggung jawab kepada keluarga, laboratorium komputer pesantren pun dapat menjadi ruang belajar sekaligus pintu menuju pasar yang lebih luas.