PKUMI Gandeng Universitas Amerika Serikat, Pendidikan Ulama Diperluas ke Ranah Internasional

Pendidikan kader ulama Indonesia mendapat ruang baru untuk berkembang melalui kerja sama internasional. Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) bersama Hartford International University for Religion and Peace (HIU), Amerika Serikat, sepakat memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan kapasitas ulama.

Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan MoU di Masjid Istiqlal Jakarta, Jumat (21/8/2026). Kerja sama ini juga mencakup pertukaran akademisi serta pengembangan program ulama perempuan.

Bagi PKUMI, kemitraan tersebut membuka kesempatan untuk memperluas pengalaman akademik para kader ulama melalui lingkungan pendidikan internasional. Hubungan dengan HIU juga mempertemukan kajian keislaman dengan pengalaman dialog lintas agama dan budaya.

Kerja sama tidak berhenti pada pertukaran akademisi

Program yang disepakati PKUMI dan HIU memiliki cakupan yang cukup luas. Kedua lembaga akan mengembangkan pendidikan, riset bersama, pertukaran akademisi serta program pengembangan ulama.

Perhatian juga diberikan kepada pengembangan ulama perempuan. Langkah tersebut menunjukkan bahwa penguatan kapasitas keulamaan tidak hanya diarahkan pada satu kelompok, tetapi membuka ruang lebih besar bagi perempuan untuk terlibat dalam pendidikan dan kepemimpinan keagamaan.

Kolaborasi semacam ini menjadi penting bagi kader ulama yang nantinya berhadapan dengan persoalan masyarakat yang semakin beragam. Pengalaman belajar dan berdiskusi dengan akademisi dari negara lain dapat memberikan perspektif tambahan dalam memahami isu keagamaan dan sosial.

Baca Juga: Kemenag Tegaskan Masjid Istiqlal Tak Akan IPO, Ini Sebenarnya Program Wakaf Saham

HIU sudah terlibat dalam perjalanan PKUMI

Kemitraan antara PKUMI dan HIU bukan hubungan yang baru dimulai pada penandatanganan MoU kali ini. Hartford International University sebelumnya telah menjadi bagian dari program pendidikan yang melibatkan kader PKUMI.

Pada Februari 2026, HIU menerima delapan mahasiswa Indonesia yang mengikuti angkatan kelima program PKUMI. Para peserta mendapatkan pengalaman akademik melalui seminar, pendampingan penelitian, kegiatan lintas budaya dan penguatan kemampuan bahasa Inggris.

Pengalaman tersebut memberi gambaran mengenai arah kerja sama yang kini kembali diperkuat. Kader ulama tidak hanya mendapatkan pembelajaran di dalam negeri, tetapi juga berkesempatan mengenal lingkungan akademik internasional secara langsung.

Lingkungan Hartford juga memiliki perhatian terhadap kajian agama dan hubungan antarumat beragama. Kondisi tersebut membuat pertukaran pengetahuan antara PKUMI dan HIU memiliki ruang yang cukup luas untuk dikembangkan.

Nasaruddin Umar melihat peluang diplomasi keagamaan

Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai kerja sama tersebut dapat menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkenalkan pendekatan keagamaan yang mengedepankan toleransi dan kemanusiaan.

“Langkah ini merupakan bagian dari misi kita untuk mempromosikan diplomasi keagamaan. Kita ingin menunjukkan bahwa Istiqlal bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat peradaban, toleransi, dan pendidikan kemanusiaan yang terbuka bagi siapa saja,” ujarnya di Istiqlal, Jumat (21/8/2026).

Pandangan tersebut membuat kerja sama pendidikan antara PKUMI dan HIU memiliki dimensi yang lebih luas. Pendidikan kader ulama tidak hanya diposisikan sebagai proses pembelajaran keagamaan, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun kemampuan dialog dengan masyarakat lintas negara dan kepercayaan.

Nasaruddin menekankan bahwa nilai kemanusiaan menjadi dasar penting dalam membangun hubungan lintas bangsa. Prinsip tersebut menjadi salah satu pijakan dalam melihat agama sebagai kekuatan yang dapat ikut berkontribusi terhadap perdamaian.

“Nilai kemanusiaan (humanity) merupakan landasan utama dalam menjalin kolaborasi lintas bangsa dan kepercayaan,” kata Nasaruddin.

Baca juga: Kemenag Dorong AI Masuk Pendidikan Agama, Guru hingga ASN Bakal Diperkuat

Istiqlal punya pengalaman membangun ruang perjumpaan

Peran Istiqlal dalam kerja sama tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman masjid itu dalam membangun hubungan lintas agama. Salah satu simbol yang paling dikenal adalah Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta.

Nasaruddin turut memperkenalkan sejumlah fasilitas di lingkungan Istiqlal yang dirancang terbuka untuk berbagai kegiatan. Di antaranya terdapat ruang kolaborasi antarnegara, pusat kebugaran dan layanan kesehatan gratis.

Kehadiran Terowongan Silaturahmi memperkuat gambaran bahwa hubungan antarumat beragama dapat diwujudkan melalui ruang perjumpaan yang konkret. Fasilitas tersebut juga beberapa kali menjadi perhatian tamu dari luar negeri yang berkunjung ke Istiqlal.

Pada Juli 2026, sekitar 120 kardinal dan uskup dari 22 konferensi waligereja serta yurisdiksi gerejawi anggota Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) mengunjungi Terowongan Silaturahmi. Sebelumnya, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier juga mengunjungi Istiqlal dan melewati terowongan tersebut dalam kunjungannya ke Jakarta.

HIU melihat pesan toleransi dari Istiqlal

Presiden HIU Sherry L. Turner memberikan apresiasi terhadap keterbukaan yang ditunjukkan Istiqlal. Ia menilai keberadaan Terowongan Silaturahmi membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar menghubungkan dua bangunan.

“Terowongan ini bukan sekadar fisik, melainkan ‘terowongan persahabatan’ yang menghubungkan hati satu sama lain. Masjid Istiqlal memberikan suasana yang sangat damai dan menjadi cerminan nyata dari moderasi beragama masyarakat Indonesia,” ungkap Sherry saat ditemui usai penandatanganan MoU.

Pandangan tersebut sejalan dengan semangat kerja sama PKUMI dan HIU. Pertemuan akademik dan pendidikan dapat menjadi ruang untuk mengenalkan pengalaman Indonesia dalam mengelola kehidupan masyarakat yang memiliki latar belakang agama dan budaya berbeda.

Bagi HIU, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman lintas agama. Bagi PKUMI, hubungan akademik dengan lembaga internasional membuka kesempatan untuk membawa pengalaman pendidikan ulama Indonesia ke ruang yang lebih luas.

Kader ulama disiapkan dengan perspektif yang lebih luas

Kerja sama PKUMI dan HIU pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai program akademik. Ada upaya untuk membangun kapasitas kader ulama agar mampu berkomunikasi dan bekerja sama dalam lingkungan yang lebih beragam.

Perkembangan persoalan keagamaan saat ini juga semakin sering bersinggungan dengan isu sosial, pendidikan, kemanusiaan dan hubungan antarbangsa. Kondisi tersebut membuat wawasan internasional menjadi salah satu bekal yang dapat memperkaya kemampuan ulama dalam membaca persoalan masyarakat.

Pertukaran akademisi dan penelitian bersama dapat menjadi pintu untuk menghasilkan kajian yang tidak hanya relevan bagi Indonesia. Hasil kerja sama juga berpeluang memperkenalkan pengalaman keberagamaan Indonesia kepada komunitas akademik internasional.

Program ulama perempuan yang turut masuk dalam kerja sama tersebut memberikan dimensi tambahan. Penguatan kapasitas perempuan dalam pendidikan keagamaan dapat memperluas kontribusi kader ulama dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.

Dari ruang kelas menuju dialog lintas negara

MoU yang ditandatangani PKUMI dan HIU menjadi langkah lanjutan dari hubungan akademik yang sebelumnya telah berjalan. Kerja sama tersebut kini diarahkan agar mencakup pendidikan, riset, pertukaran akademisi dan pengembangan kader ulama secara lebih luas.

Peran Istiqlal kemudian menjadi bagian penting dalam konteks tersebut. Masjid tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan keagamaan, tetapi juga ruang bertemunya gagasan mengenai pendidikan, kemanusiaan dan hubungan lintas agama.

Bagi Indonesia, kerja sama seperti ini dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan pengalaman moderasi beragama kepada dunia. Sementara bagi kader ulama, kesempatan berinteraksi dengan lingkungan akademik internasional memberi bekal tambahan untuk menghadapi persoalan keagamaan yang tidak lagi terbatas pada lingkup lokal.

Diplomasi keagamaan yang didorong Nasaruddin Umar pun memiliki pijakan yang lebih konkret melalui pendidikan dan pertukaran pengetahuan. Dari ruang kelas, penelitian dan perjumpaan lintas agama, gagasan tentang perdamaian dapat dibangun melalui kerja sama yang berlangsung dalam jangka panjang.

Sangat senang dapat berbagi info di kemenagpasangkayu.id ini, sebagai seorang pemuda yang masih kuliah, menulis bisa menjadi sumber pengetahuan baru.

Leave a Comment