Edukator Sebaya Kemenag, Siswa Dilibatkan untuk Cegah Pernikahan Anak

Kementerian Agama melibatkan siswa madrasah dan sekolah dalam upaya mencegah pernikahan anak. Mereka dibina sebagai Edukator Sebaya atau Peer Educator, yakni siswa yang nantinya dapat berbagi informasi dan menjadi teman diskusi bagi remaja seusianya.

Program ini menjadi salah satu cara Kemenag mendekati persoalan remaja melalui lingkungan yang memang mereka kenal sehari-hari. Pembicaraan mengenai pernikahan anak, kesehatan reproduksi, dan hak anak diharapkan tidak berhenti dalam kegiatan penyuluhan, tetapi bisa diteruskan melalui hubungan antarteman.

Pada 2026, Kemenag kembali melakukan pembinaan terhadap 80 siswa dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelumnya, program yang berjalan pada 2024–2025 telah melibatkan 480 siswa dari sembilan provinsi.

Siswa madrasah dan sekolah mendapat pembekalan khusus

Peserta Edukator Sebaya tidak langsung menjalankan tugas pendampingan setelah ditunjuk. Mereka terlebih dahulu mendapatkan pembinaan mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan remaja.

Materi yang diberikan mencakup risiko dan dampak pernikahan anak, kesehatan reproduksi, hak anak, serta kemampuan komunikasi dan konseling sebaya.

Bekal tersebut diperlukan karena persoalan yang dibicarakan dengan teman sebaya tidak selalu sederhana. Seorang siswa bisa saja datang membawa pertanyaan tentang hubungan pertemanan, tekanan dari lingkungan, persoalan keluarga, atau rencana menikah pada usia yang masih muda.

Edukator Sebaya perlu mengetahui bagaimana merespons pembicaraan seperti itu dengan tepat. Mereka juga perlu memahami kapan sebuah masalah cukup dibicarakan sebagai persoalan ringan dan kapan harus diteruskan kepada orang dewasa atau pihak yang mempunyai keahlian.

Programnya sudah berjalan sejak 2024

Pembentukan Edukator Sebaya Kemenag bukan program yang baru dimulai pada 2026.

Kemenag mencatat sebanyak 480 siswa dari sembilan provinsi mengikuti pembentukan Peer Educator pada periode 2024–2025. Program kemudian dilanjutkan dengan pembinaan 80 siswa pada 2026.

Wilayah yang terlibat pada pembinaan 2026 mencakup DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan DIY.

Kemenag juga menetapkan 90 siswa dari delapan provinsi sebagai Duta Nasional Peer Educator. Mereka menjadi bagian dari pengembangan jaringan edukator sebaya yang membawa pesan pencegahan pernikahan anak di lingkungan masing-masing.

Mengapa siswa dilibatkan?

Ada alasan praktis di balik pendekatan ini. Remaja menghabiskan banyak waktu bersama teman seusianya di sekolah, madrasah, maupun lingkungan pergaulan.

Dalam situasi tertentu, seorang siswa mungkin lebih dahulu bercerita kepada temannya ketika sedang menghadapi persoalan. Teman sebaya bisa menjadi tempat pertama untuk bertanya sebelum persoalan tersebut dibicarakan dengan guru, orang tua, atau pihak lain.

Kondisi inilah yang ingin dimanfaatkan melalui Peer Educator.

Seorang siswa yang sudah mendapatkan pembinaan dapat membantu menyampaikan informasi yang benar kepada teman-temannya. Jika persoalannya membutuhkan penanganan lebih lanjut, ia dapat membantu mengarahkan temannya untuk mencari bantuan kepada pihak yang tepat.

Materi pernikahan anak menjadi salah satu fokus

Pencegahan pernikahan anak menjadi perhatian utama dalam program tersebut.

Siswa dibekali pemahaman mengenai risiko dan dampak yang dapat muncul ketika pernikahan terjadi pada usia anak. Pembahasan ini penting karena keputusan menikah pada usia muda dapat berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, kondisi sosial, serta kesiapan menghadapi kehidupan berkeluarga.

Informasi tersebut perlu disampaikan dengan cara yang bisa dipahami remaja. Edukasi yang terlalu menggurui justru berisiko membuat pembicaraan menjadi tertutup.

Di sinilah peran teman sebaya cukup membantu. Bahasa yang digunakan dalam percakapan antarsiswa biasanya lebih dekat dengan keseharian mereka.

Kesehatan reproduksi juga masuk dalam pembinaan

Pembinaan Edukator Sebaya tidak berhenti pada isu pernikahan anak. Kesehatan reproduksi juga menjadi materi yang diberikan kepada peserta.

Pembahasan mengenai kesehatan reproduksi penting bagi remaja karena mereka berada pada masa ketika terjadi banyak perubahan pada tubuh dan kehidupan sosial. Informasi yang benar dapat membantu mereka memahami kondisi tersebut dan tidak mudah mempercayai informasi yang keliru.

Materi mengenai hak anak juga diberikan dalam pembinaan. Pemahaman ini membantu siswa mengenali hak yang dimiliki anak sekaligus memahami pentingnya perlindungan dan kesempatan untuk tetap mendapatkan pendidikan.

Edukator Sebaya punya batas dalam mendampingi teman

Seorang siswa yang menjadi Edukator Sebaya tidak otomatis menjadi konselor profesional.

Peran mereka lebih dekat dengan teman diskusi dan penyampai informasi. Mereka dapat mendengarkan cerita, memberikan informasi berdasarkan pembekalan yang diterima, serta mengarahkan temannya kepada pihak yang sesuai.

Masalah seperti kekerasan, persoalan kesehatan, tekanan keluarga, atau kondisi lain yang membutuhkan penanganan khusus tentu tidak bisa diselesaikan hanya melalui percakapan antarteman.

Dalam keadaan seperti itu, guru, orang tua, tenaga kesehatan, konselor, atau pihak terkait tetap dibutuhkan.

Pemahaman mengenai batas peran tersebut penting agar siswa yang menjadi Edukator Sebaya tidak merasa harus menyelesaikan semua persoalan temannya sendiri.

Kemampuan berbicara bukan satu-satunya bekal

Edukator Sebaya memang perlu mampu menyampaikan informasi. Namun, kemampuan mendengarkan juga menjadi bagian penting ketika berhadapan dengan teman yang sedang mempunyai masalah.

Percakapan mengenai pernikahan anak atau kesehatan reproduksi juga membutuhkan sikap yang tidak menghakimi. Remaja akan lebih mudah bercerita ketika merasa aman untuk menyampaikan pertanyaan atau pengalaman tanpa langsung disalahkan.

Karena itu, komunikasi dan konseling sebaya menjadi salah satu materi dalam pembinaan.

Siswa tidak dituntut mempunyai jawaban untuk setiap persoalan. Mereka justru perlu tahu sumber informasi yang tepat dan pihak mana yang bisa dimintai bantuan.

Sekolah dan madrasah tetap punya peran besar

Program Edukator Sebaya tidak berdiri sendiri. Siswa yang telah mengikuti pembinaan tetap membutuhkan dukungan dari lingkungan sekolah dan madrasah.

Guru dapat membantu ketika ada persoalan yang membutuhkan campur tangan orang dewasa. Pihak sekolah juga dapat memastikan kegiatan edukasi berlangsung dalam suasana yang aman bagi siswa.

Keluarga memiliki peran yang sama pentingnya. Remaja akan lebih mudah membicarakan persoalan pribadi ketika komunikasi di rumah terbuka dan tidak langsung diwarnai dengan penghakiman.

Karena itu, keberadaan Edukator Sebaya lebih tepat dilihat sebagai salah satu jalur komunikasi tambahan bagi remaja.

Baca juga: Maraknya Pernikahan Dini Jadi Perhatian, Kemenag Siapkan Siswa sebagai Edukator Sebaya

Dari teman, kemudian diarahkan kepada pihak yang tepat

Seorang Edukator Sebaya bisa saja menjadi orang pertama yang mendengar cerita temannya. Misalnya ketika ada siswa yang bingung menghadapi tekanan untuk menikah atau mempunyai pertanyaan mengenai kesehatan reproduksi.

Pada tahap awal, percakapan dengan teman bisa membantu siswa tersebut mendapatkan informasi dan keberanian untuk mencari bantuan.

Jika masalahnya lebih serius, percakapan itu perlu dilanjutkan kepada pihak yang mempunyai kemampuan untuk menangani persoalan tersebut.

Pola seperti ini membuat peran Edukator Sebaya menjadi lebih jelas. Mereka membantu membuka komunikasi di antara remaja, sementara pendampingan lebih lanjut tetap dilakukan oleh orang atau lembaga yang mempunyai kewenangan.

Baca juga: Syarat Numpang Nikah Beda Kecamatan, Ini Dokumen yang Perlu Disiapkan

Kemenag terus memperluas jaringan Peer Educator

Pembinaan yang dilakukan pada 2026 menunjukkan bahwa Kemenag masih mengembangkan program Peer Educator dengan melibatkan siswa dari madrasah dan sekolah.

Sebanyak 80 siswa mengikuti pembinaan pada 2026, sementara 90 siswa dari delapan provinsi ditetapkan sebagai Duta Nasional Peer Educator.

Program ini memberi ruang bagi siswa untuk ikut menyampaikan pesan mengenai pencegahan pernikahan anak kepada teman seusianya. Bagi remaja yang membutuhkan tempat untuk bertanya, keberadaan teman yang sudah mendapatkan pembekalan juga dapat menjadi pintu awal sebelum mencari pendampingan lebih lanjut.

Pendekatan tersebut membuat pembicaraan mengenai persoalan remaja tidak hanya berlangsung dalam forum resmi. Sebagian pesan dapat dibawa kembali ke lingkungan sekolah, madrasah, dan pergaulan sehari-hari oleh siswa yang telah mendapatkan pembinaan.

Sangat senang dapat berbagi info di kemenagpasangkayu.id ini, sebagai seorang pemuda yang masih kuliah, menulis bisa menjadi sumber pengetahuan baru.

Leave a Comment