Menag Nasaruddin Umar Targetkan Indonesia Bebas Buta Huruf Al-Qur’an dalam Tiga Tahun

Gerakan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an mendapat dorongan baru setelah Menteri Agama Nasaruddin Umar mengukuhkan 10.000 guru Al-Qur’an dalam pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah di Jakarta. Ribuan pengajar tersebut diharapkan menjadi penggerak pembelajaran Al-Qur’an di berbagai daerah.

Nasaruddin bahkan memasang target cukup ambisius. Ia optimistis Indonesia dapat terbebas dari buta huruf Al-Qur’an dalam waktu tiga tahun apabila setiap guru mampu membina sejumlah murid secara berkelanjutan.

10.000 Guru Jadi Kekuatan Baru Pembelajaran Al-Qur’an

Pengukuhan 10.000 guru Al-Qur’an berlangsung dalam pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (22/8/2026). Agenda tersebut menjadi salah satu bagian penting dari muktamar yang berlangsung pada 21–25 Agustus 2026.

Wahdah Islamiyah sebelumnya menyebut pengukuhan tersebut sebagai bentuk penguatan peran para pengajar Al-Qur’an yang selama ini bergerak di berbagai wilayah Indonesia. Program tersebut juga diposisikan sebagai bagian dari perjuangan memperluas pembelajaran Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Nasaruddin menilai pemerintah tidak mungkin menyelesaikan persoalan buta huruf Al-Qur’an seorang diri. Peran organisasi masyarakat Islam dan para pengajar di tingkat masyarakat dinilai menjadi bagian penting untuk memperluas jangkauan pendidikan keagamaan.

“Keberadaan 10.000 guru Al-Qur’an menjadi salah satu kontribusi konkret masyarakat dalam membantu mengatasi persoalan buta huruf Al-Qur’an. Menurut data statistik, masih ada kurang lebih 60% warga umat Islam Indonesia yang buta huruf Al-Quran. Kementerian Agama tidak bisa menyelesaikan sendiri urusan besar seperti ini. Di sinilah peran ormas-ormas Islam” ujar Menag, dalam Pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah, di Jakarta, Sabtu (22/8).

Target Tiga Tahun Dibangun Dari Perhitungan Sederhana

Optimisme Menag tidak muncul tanpa hitungan. Ia menggunakan jumlah guru yang dikukuhkan sebagai titik awal untuk memperkirakan seberapa besar masyarakat yang dapat dijangkau.

“Kontributor yang paling konkret adalah Wahdah Islamiyah menyumbangkan 10.000 pembebas buta huruf Al-Qur’an di Indonesia,” katanya.

Menurut perhitungan yang disampaikan Menag, setiap guru diharapkan dapat membantu 10 orang belajar membaca Al-Qur’an. Jika target tersebut berjalan, 10.000 guru berpotensi menjangkau sekitar 100.000 peserta didik.

“Kalau 10 ribu guru Al-Qur’an, setiap orang nya membebaskan 10 orang dari buta huruf Al-Qur’an, maka kita akan punya kader. 10 ribu guru kali 10 murid. Dalam tempo insya allah paling lambat belajar huruf Al-Qur’an tiga bulan. Saya yakin insya Allah dalam tempo tiga tahun Indonesia akan bebas daripada buta huruf Al-Qur’an,” tambahnya.

Hitungan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa keberadaan guru menjadi faktor penting dalam memperluas akses pembelajaran. Tantangannya bukan hanya menambah jumlah pengajar, tetapi memastikan proses belajar berjalan konsisten hingga peserta didik benar-benar mampu membaca Al-Qur’an.

Gerakan Ini Tidak Berhenti di Pengukuhan

Pengukuhan ribuan guru menjadi langkah awal, bukan titik akhir. Para pengajar tetap membutuhkan ruang untuk menjalankan pembelajaran secara rutin di lingkungan masyarakat masing-masing.

Kehadiran guru Al-Qur’an di berbagai daerah memungkinkan proses pembelajaran menjangkau masyarakat yang selama ini belum mendapatkan akses pendidikan membaca Al-Qur’an secara memadai. Pola seperti ini juga membuat pembelajaran tidak harus berpusat di lembaga pendidikan formal.

Rangkaian kegiatan Muktamar V Wahdah Islamiyah sendiri melibatkan peserta dari berbagai daerah. Informasi penyelenggara mencatat agenda muktamar diikuti peserta langsung dalam jumlah besar serta peserta daring dari berbagai wilayah, memperlihatkan luasnya jaringan organisasi tersebut.

Sejumlah daerah juga melaporkan keterlibatan pengajar dalam pengukuhan secara serentak. Di Banggai, misalnya, tercatat 111 guru Al-Qur’an ikut dikukuhkan, sementara pengajar dari Kendari dan sejumlah daerah lain juga mengambil bagian dalam agenda tersebut.

Fakta tersebut memberi gambaran bahwa program 10.000 guru tidak hanya berlangsung di satu lokasi. Pengukuhan di Jakarta menjadi bagian dari gerakan yang melibatkan jaringan pengajar dari berbagai daerah.

Baca juga: Edukator Sebaya Kemenag, Siswa Dilibatkan untuk Cegah Pernikahan Anak

Guru Al-Qur’an Diminta Membentuk Karakter

Nasaruddin juga mengingatkan bahwa tugas guru Al-Qur’an tidak berhenti pada kemampuan membaca huruf dan ayat. Pendidikan Al-Qur’an menurutnya perlu menyentuh pembentukan karakter peserta didik.

“Guru Al-Qur’an tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga perlu membentuk karakter peserta didik. Semoga tentu kita tidak hanya mengajarkan membaca Al-Qur’an, tetapi kita juga berharap semoga para guru ini berhasil menembus batin-batin para muridnya sebagai seorang guru,” tutur Menag.

Pesan tersebut memperluas makna program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an. Kemampuan membaca menjadi dasar, sedangkan pendidikan karakter diharapkan menjadi bagian lanjutan dari proses pembelajaran.

Pendekatan tersebut juga membuat peran guru ngaji tidak sekadar sebagai pengajar teknis. Mereka diharapkan mampu menjadi pendamping bagi peserta didik dalam memahami nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama.

Menag Kaitkan Pendidikan Al-Qur’an dengan Moderasi

Selain persoalan kemampuan membaca Al-Qur’an, Nasaruddin mengaitkan gerakan pendidikan tersebut dengan kehidupan berbangsa. Ia mengajak para guru ikut menjaga Indonesia sebagai negara yang mampu menjalankan kehidupan beragama sekaligus mempertahankan semangat moderasi.

“Mari kita merawat Indonesia sebagai bangsa yang moderat. Moderat itu jangan dipertentangkan dengan kekuatan syariah kita, kekuatan religi kita. Negara religi atau negara moderat, itu jangan dipertentangkan. Indonesia menggabungkan keduanya,” katanya.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an yang didorong pemerintah tidak diarahkan hanya untuk meningkatkan kemampuan literasi keagamaan. Ada harapan agar pendidikan tersebut turut membentuk masyarakat yang mampu menjalankan nilai agama dalam kehidupan sosial yang majemuk.

Bagi para guru, tantangannya menjadi lebih luas karena proses pembelajaran berlangsung di tengah masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Kemampuan mengajar sekaligus membangun karakter menjadi bagian penting dari peran tersebut.

Baca juga: 72 Madrasah Terdampak Gempa Flores, Kemenag Mulai Pulihkan Layanan Pendidikan

Wahdah Islamiyah Perluas Peran Guru di Daerah

Pengukuhan 10.000 guru Al-Qur’an menjadi salah satu sorotan utama Muktamar V Wahdah Islamiyah. Sebelum pelaksanaan acara, Sekretaris Jenderal DPP Wahdah Islamiyah Syaibani Mujiono menyebut pengukuhan tersebut sebagai bentuk motivasi agar para guru terus berdakwah melalui Al-Qur’an.

Keterlibatan pengajar dari berbagai daerah memperlihatkan bahwa gerakan tersebut memiliki basis jaringan yang cukup luas. Sejumlah laporan dari daerah menunjukkan pengajar perempuan maupun laki-laki ikut dalam pengukuhan yang dilakukan bersamaan dengan pembukaan muktamar.

Pola tersebut berpotensi membuat program pembelajaran lebih dekat dengan masyarakat. Guru tidak hanya hadir dalam kegiatan berskala nasional, tetapi dapat membawa semangat pembelajaran kembali ke lingkungan tempat mereka tinggal dan mengajar.

Tiga Tahun Menjadi Target, Bukan Pekerjaan Singkat

Target bebas buta huruf Al-Qur’an dalam tiga tahun tentu membutuhkan kerja yang berkesinambungan. Pengukuhan 10.000 guru memberikan tambahan tenaga, tetapi keberhasilan program tetap bergantung pada aktivitas pembelajaran setelah acara selesai.

Jumlah peserta didik yang berhasil dibina, keberlangsungan kegiatan belajar, kualitas pengajaran, serta jangkauan ke wilayah yang masih kekurangan pengajar akan menjadi bagian penting dalam mengukur hasilnya. Perhitungan 10 guru dan 10 murid yang disampaikan Menag menjadi gambaran target, sementara pelaksanaan di lapangan membutuhkan dukungan berbagai pihak.

Pemerintah melalui Kementerian Agama juga tidak bekerja sendirian dalam urusan pendidikan Al-Qur’an. Keterlibatan organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, masjid, keluarga, dan para guru di tingkat lokal menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memperluas kemampuan membaca Al-Qur’an.

Nasaruddin berharap langkah tersebut menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat. Dengan 10.000 guru yang bergerak di berbagai daerah, pemerintah melihat peluang untuk mempercepat pembelajaran Al-Qur’an sekaligus memperkuat pendidikan karakter generasi muda.

Target tiga tahun yang disampaikan Menag kini bergantung pada bagaimana 10.000 guru tersebut menjalankan perannya setelah dikukuhkan. Jika jaringan pengajar mampu bergerak konsisten hingga tingkat masyarakat, gerakan tersebut berpotensi menjadi salah satu upaya besar dalam memperluas literasi Al-Qur’an di Indonesia.

Sangat senang dapat berbagi info di kemenagpasangkayu.id ini, sebagai seorang pemuda yang masih kuliah, menulis bisa menjadi sumber pengetahuan baru.

Leave a Comment