Kemenag Ubah MATSAMA Jadi MATAMUDA, Ini Konsep Baru Masa Pengenalan Murid Madrasah

Kementerian Agama resmi menggunakan istilah Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) sebagai pengganti Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA). Perubahan istilah ini menjadi bagian dari penataan pelaksanaan masa pengenalan madrasah yang menempatkan keamanan, kenyamanan, dan pengalaman positif murid sebagai perhatian utama.

Istilah MATAMUDA kini digunakan dalam pelaksanaan tahun ajaran 2026/2027 di RA, MI, MTs, dan MA. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi murid baru untuk mengenal lingkungan pendidikan sekaligus beradaptasi dengan suasana belajar yang baru.

Perubahan nama ini bukan sekadar mengganti istilah lama. Kementerian Agama juga mengarahkan pelaksanaan MATAMUDA agar berlangsung secara edukatif, menyenangkan, inklusif, dan bebas dari perpeloncoan, kekerasan, maupun perundungan.

Baca juga: Kemenag Apresiasi Persis Times, Aplikasi Astronomi Islam yang Gabungkan Hisab hingga Arah Kiblat

Dari MATSAMA Menjadi MATAMUDA

Perubahan dari MATSAMA menjadi MATAMUDA membawa perubahan pada istilah yang digunakan dalam masa pengenalan murid baru di madrasah. Kata “siswa” diganti menjadi “murid” untuk menegaskan posisi peserta didik sebagai bagian utama dalam proses pendidikan.

MATAMUDA merupakan singkatan dari Masa Ta’aruf Murid Madrasah. Kegiatan ini menjadi masa awal bagi murid baru untuk mengenal lingkungan sekolah, guru, tenaga kependidikan, budaya madrasah, tata tertib, hingga berbagai kegiatan yang tersedia.

Pelaksanaan MATAMUDA tahun ajaran 2026/2027 telah berlangsung di berbagai madrasah sejak Juli 2026. Kegiatan tersebut diterapkan mulai dari jenjang RA hingga MA.

Lingkungan Aman Menjadi Perhatian Utama

Kementerian Agama mengarahkan MATAMUDA agar memberikan pengalaman pertama yang positif bagi murid baru. Masa pengenalan tidak lagi dipandang sebagai kesempatan untuk memberikan tekanan kepada peserta didik.

Kegiatan harus berlangsung dengan suasana yang aman, nyaman, menyenangkan, dan ramah anak. Murid baru juga perlu mendapatkan ruang untuk beradaptasi tanpa menghadapi perlakuan yang dapat menimbulkan rasa takut atau tertekan.

Petunjuk teknis pelaksanaan MATAMUDA menegaskan bahwa kegiatan tidak boleh diisi dengan perpeloncoan, kekerasan, perundungan, diskriminasi, maupun tindakan yang merendahkan martabat murid.

Murid Mulai Mengenal Budaya Madrasah

Salah satu tujuan MATAMUDA adalah membantu murid memahami lingkungan tempat mereka akan belajar selama beberapa tahun ke depan.

Pengenalan dapat mencakup visi dan misi madrasah, tata tertib, sistem pembelajaran, guru, tenaga kependidikan, fasilitas pendidikan, kegiatan ekstrakurikuler, hingga berbagai program unggulan.

Pengenalan tersebut diharapkan membuat murid lebih cepat memahami kebiasaan yang berlaku di madrasah.

Selain mengenal lingkungan fisik, murid juga diarahkan untuk memahami nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, ukhuwah, integritas, dan kecintaan terhadap madrasah.

Tidak Ada Ruang untuk Perundungan

Salah satu pesan paling kuat dalam pelaksanaan MATAMUDA adalah larangan terhadap perundungan.

Masa pengenalan murid baru tidak boleh menjadi ruang untuk melakukan tindakan yang mempermalukan, mengintimidasi, atau merendahkan peserta didik.

Guru, panitia, serta murid yang terlibat dalam pelaksanaan MATAMUDA perlu memastikan seluruh kegiatan tetap berada dalam batas pendidikan yang sehat.

Pendekatan tersebut penting karena pengalaman pada hari-hari pertama sekolah dapat memengaruhi rasa percaya diri dan kenyamanan murid selama mengikuti pendidikan di madrasah.

Baca juga: Jadwal Orientasi Penerima Beasiswa BIB Kemenag 2026, Digelar Agustus! Ini Tahapannya

Kegiatan Harus Edukatif dan Menyenangkan

MATAMUDA dirancang bukan sekadar sebagai acara penyambutan murid baru. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian awal pembentukan karakter peserta didik.

Materi dan aktivitas dapat dikemas secara interaktif sehingga murid tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan yang membantu mereka mengenal lingkungan madrasah.

Kegiatan yang menyenangkan juga dapat membantu murid baru membangun pertemanan dan rasa percaya diri.

Dengan suasana yang lebih positif, proses adaptasi dari lingkungan sekolah sebelumnya menuju madrasah baru diharapkan berlangsung lebih mudah.

Murid Berkebutuhan Khusus Ikut Mendapat Perhatian

Pelaksanaan MATAMUDA juga diarahkan agar lebih inklusif.

Madrasah perlu memberikan akomodasi yang layak bagi murid berkebutuhan khusus sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing.

Pendekatan ini membuat masa pengenalan tidak hanya dirancang untuk kelompok murid tertentu, tetapi memperhatikan keberagaman peserta didik.

Lingkungan pendidikan yang inklusif sejak hari pertama juga dapat membantu membangun budaya saling menghargai di antara seluruh warga madrasah.

Guru dan Panitia Punya Peran Besar

Keberhasilan MATAMUDA tidak hanya bergantung pada konsep yang dibuat Kementerian Agama. Guru, kepala madrasah, tenaga kependidikan, serta panitia di masing-masing satuan pendidikan memiliki peran besar dalam pelaksanaannya.

Panitia perlu memastikan setiap kegiatan sesuai dengan petunjuk teknis yang telah ditetapkan.

Guru juga diharapkan dapat menjadi pendamping yang membantu murid baru memahami lingkungan sekolah tanpa memberikan tekanan yang tidak diperlukan.

Kehadiran orang dewasa yang memberikan rasa aman menjadi penting karena sebagian murid mungkin masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

MATAMUDA Menjadi Awal Pembentukan Karakter

Masa pengenalan murid merupakan kesempatan untuk menanamkan kebiasaan positif sejak awal tahun ajaran.

Nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, persaudaraan, dan integritas dapat diperkenalkan melalui kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan murid.

Pendekatan tersebut membuat MATAMUDA tidak hanya berfungsi sebagai pengenalan fasilitas dan tata tertib.

Kegiatan ini juga menjadi awal untuk membangun hubungan antara murid, guru, dan lingkungan madrasah.

Baca juga: Juknis BOP RA dan BOS Madrasah 2026 Terbaru, Cek Aturan dan Download PDF

Juknis Menjadi Pedoman Pelaksanaan

Kementerian Agama telah menyediakan petunjuk teknis pelaksanaan MATAMUDA sebagai pedoman bagi madrasah.

Pedoman tersebut digunakan untuk membantu satuan pendidikan merencanakan kegiatan, melaksanakan program, melakukan pemantauan, mengevaluasi pelaksanaan, hingga menyusun laporan.

Materi pengenalan juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing madrasah tanpa mengabaikan prinsip keamanan dan kenyamanan murid.

Dengan adanya pedoman tersebut, pelaksanaan MATAMUDA diharapkan memiliki standar yang lebih jelas di berbagai daerah.

Bukan Sekadar Ganti Nama

Perubahan MATSAMA menjadi MATAMUDA menunjukkan adanya penekanan baru terhadap cara madrasah menyambut peserta didik.

Masa pengenalan tidak lagi identik dengan kegiatan yang membuat murid baru merasa takut atau tertekan. Sebaliknya, kegiatan diarahkan menjadi pengalaman pertama yang membantu murid merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar madrasah.

Pelaksanaan MATAMUDA 2026/2027 juga menunjukkan bahwa pendekatan tersebut mulai diterapkan di berbagai daerah dengan kegiatan yang beragam, mulai dari pengenalan lingkungan hingga pembekalan karakter dan keamanan.

MATAMUDA diharapkan menjadi pintu masuk bagi terciptanya madrasah yang aman, nyaman, ramah, inklusif, dan bebas dari perundungan, sekaligus membantu murid baru membangun rasa percaya diri serta semangat untuk memulai perjalanan pendidikan di lingkungan yang baru.

Leave a Comment