Anwar Abbas Dorong Penguatan Sains dan Riset, Pendidikan Islam Diminta Tak Tertinggal

Sekarang ini persaingan antarnegara tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan besarnya sumber daya alam. Kemampuan menciptakan teknologi, melahirkan peneliti, serta mengubah ilmu pengetahuan menjadi inovasi juga semakin menentukan posisi sebuah negara di tengah perubahan global.

Pesan tersebut disampaikan Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas saat memberikan kultum di Masjid At-Tanwir, Jakarta Pusat, Kamis (20/8). Ia mengingatkan bahwa pembangunan Indonesia membutuhkan perhatian lebih besar terhadap pendidikan, sains, riset, dan teknologi.

Anwar mengaitkan pentingnya ilmu pengetahuan dengan QS Al-Mujadalah ayat 11. Dalam ayat tersebut, Allah menjanjikan peningkatan derajat bagi orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu.

“Allah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu,” ujar Anwar.

Menurut Anwar, pesan tersebut tidak berhenti pada persoalan keagamaan. Ilmu pengetahuan harus dikembangkan melalui penelitian, kemudian diterapkan menjadi teknologi dan inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas serta memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Baca juga: 42 Organisasi Guru Kemenag Bersatu, Konfederasi Baru Didorong Jadi Motor Profesionalisme

Data perguruan tinggi menunjukkan tantangan di bidang sains

Sorotan Anwar mengenai penguatan saintek mendapat konteks dari data pendidikan tinggi terbaru. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mencatat distribusi mahasiswa baru 2025 masih didominasi sejumlah bidang seperti pendidikan, sosial, ekonomi, teknik, dan kesehatan.

Bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA) justru berada di kelompok dengan jumlah mahasiswa baru yang lebih kecil. Data pemerintah juga menunjukkan pola tersebut relatif tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi itu membuat persoalan pengembangan sumber daya manusia tidak cukup hanya dilihat dari jumlah lulusan perguruan tinggi. Komposisi keahlian juga menjadi penting karena kebutuhan industri dan penelitian semakin bergantung pada tenaga yang memiliki kemampuan teknis dan ilmiah.

Anwar menilai Indonesia perlu memperkuat bidang eksakta agar kapasitas penelitian dan pengembangan teknologi tidak tertinggal. Perguruan tinggi, menurutnya, harus menjadi salah satu pusat lahirnya pengetahuan baru yang kemudian dapat digunakan untuk menjawab persoalan nasional.

Baca juga: Mudah dan Transparan, Begini Wajah Baru Pelayanan Lewat PTSP Kemenag

Investasi riset menjadi bagian penting dari strategi negara

Perhatian terhadap penelitian juga berkaitan langsung dengan kemampuan sebuah negara menghasilkan inovasi. UNESCO menggunakan belanja penelitian dan pengembangan (R&D) sebagai salah satu indikator penting untuk mengukur kapasitas suatu negara dalam memperkuat ilmu pengetahuan dan kemampuan teknologinya.

Indonesia sendiri masih menghadapi pekerjaan besar dalam meningkatkan kapasitas tersebut. Dalam data UNESCO Science Report, belanja R&D Indonesia tercatat sekitar 0,23 persen dari PDB pada periode data yang digunakan dalam laporan tersebut, menunjukkan ruang peningkatan yang masih lebar dibandingkan negara-negara dengan basis riset yang lebih kuat.

Persoalan itu membuat dorongan untuk meningkatkan anggaran penelitian menjadi semakin relevan. Pendanaan riset bukan sekadar pengeluaran pemerintah, tetapi investasi untuk menghasilkan teknologi, produk, industri baru, hingga solusi atas persoalan masyarakat.

Anwar membandingkan Indonesia dengan Korea Selatan, China, dan Malaysia yang dinilainya lebih serius membangun basis sains, teknologi, dan penelitian. Ia menilai Indonesia perlu mengambil langkah lebih kuat jika ingin memiliki posisi yang lebih kompetitif.

“Penguasa masa depan adalah negara yang serius mengalokasikan APBN-nya untuk riset dan pengembangan,” tegasnya.

Ilmu dan iman tidak perlu ditempatkan berseberangan

Bagi Anwar, kemajuan teknologi juga tidak boleh dilepaskan dari nilai yang menjadi dasar penggunaannya. Kemampuan menciptakan teknologi harus berjalan bersama tanggung jawab agar ilmu yang berkembang benar-benar menghasilkan kemaslahatan.

Pandangan tersebut memperluas pembahasan tentang pendidikan. Penguatan saintek bukan hanya soal mengejar kebutuhan industri atau meningkatkan daya saing ekonomi, tetapi juga membangun manusia yang mampu menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Indonesia kini memiliki basis perguruan tinggi dan sumber daya manusia yang besar. Tantangannya adalah memastikan potensi tersebut dapat diarahkan lebih kuat ke penelitian, inovasi, dan pengembangan teknologi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Buku adalah jendela dunia, membaca bisa membuat kita lebih tahu banyak hal. Di transformasi sekarang ini, membaca yang paling mudah yaitu lewat internet. Kita dapat menemukan beragam informasi dari genggaman kita.

Leave a Comment