Kerusakan bangunan sekolah akibat gempa Flores membuat kegiatan belajar mengajar di sejumlah madrasah Nusa Tenggara Timur belum bisa kembali normal. Kementerian Agama kini menyiapkan ruang belajar sementara agar ribuan siswa tetap mendapatkan layanan pendidikan sembari proses pemulihan bangunan berlangsung.
Langkah tersebut menjadi bagian dari respons darurat Kemenag setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada 15 Agustus 2026. Selain memastikan tempat belajar yang aman, pemerintah juga masih melakukan pendataan untuk menentukan kebutuhan setiap madrasah di wilayah terdampak.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno mengatakan kondisi bangunan menjadi pertimbangan utama sebelum kegiatan pembelajaran dipindahkan ke ruang sementara.
“Pemulihan sarana pendidikan memang membutuhkan waktu, tetapi layanan pembelajaran harus tetap berjalan selama proses pemulihan itu,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno dikonfirmasi dari Jakarta, Jumat.
32 madrasah masuk prioritas penanganan
Kemenag mencatat terdapat 72 RA dan madrasah yang terdampak gempa di tujuh kabupaten di NTT. Dari jumlah tersebut, 32 satuan pendidikan ditetapkan sebagai Prioritas I karena mengalami kerusakan berat atau total dan kegiatan belajar mengajarnya ikut terganggu.
Jumlah siswa yang berada di satuan pendidikan Prioritas I mencapai 5.523 orang. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan pascagempa tidak hanya menyangkut perbaikan gedung, tetapi juga bagaimana ribuan siswa tetap memperoleh hak belajar ketika ruang kelas belum memungkinkan digunakan.
Penempatan ruang belajar sementara pun tidak bisa dilakukan sembarangan. Kemenag menekankan lokasi tenda harus berada di tempat aman dan tidak berdekatan dengan bangunan yang berpotensi roboh atau struktur lain yang masih memiliki risiko keselamatan.
Kondisi tersebut membuat asesmen bangunan menjadi tahap penting sebelum sekolah kembali digunakan. Pemerintah perlu memastikan ruang yang terlihat masih berdiri tidak otomatis dianggap aman untuk ditempati siswa dan guru.
Baca juga: Gempa Flores NTT, Menag Nasaruddin Umar Minta Jajaran Kemenag Bergerak Cepat
Data madrasah berbeda dengan jumlah sekolah terdampak
Skala dampak gempa di sektor pendidikan NTT sebenarnya lebih luas dibandingkan data yang dicatat Kemenag. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per 20 Agustus menunjukkan sekitar 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak, dengan 502 di antaranya dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Perbedaan angka tersebut terjadi karena pendataan Kemenag secara khusus mencakup RA dan madrasah yang berada dalam pembinaan Kementerian Agama. Sementara data Kemendikdasmen mencakup satuan pendidikan umum dari berbagai jenjang di wilayah terdampak.
Data Kemendikdasmen juga memperlihatkan besarnya dampak terhadap warga pendidikan. Sebanyak 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan tercatat berada di satuan pendidikan yang terdampak gempa.
Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan pendidikan di Flores membutuhkan penanganan dalam skala besar. Penyediaan ruang belajar sementara menjadi solusi jangka pendek, sedangkan perbaikan dan pembangunan kembali sekolah menjadi pekerjaan berikutnya.
Pemerintah sudah mengirim tenda belajar
Kebutuhan ruang kelas darurat tidak hanya ditangani Kemenag. Kemendikdasmen sebelumnya menyiapkan 50 tenda ruang kelas darurat untuk sejumlah wilayah di Flores yang terdampak gempa.
Pengiriman dilakukan melalui dua klaster. Sebanyak 30 tenda diarahkan menuju wilayah Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat melalui Labuan Bajo, sedangkan 20 tenda lainnya dikirim menuju Ende untuk mendukung wilayah Ende, Ngada, Sikka dan Nagekeo.
Selain tenda, bantuan pendidikan juga mencakup paket perlengkapan keluarga dan school kit. Kemendikdasmen turut menyiapkan dukungan psikososial bagi warga sekolah karena pemulihan setelah bencana tidak hanya menyangkut kerusakan fisik.
Pemerintah juga mengarahkan sekolah yang ruang kelasnya rusak untuk menghentikan sementara pembelajaran di bangunan tersebut. Kegiatan belajar dapat dipindahkan ke ruang yang aman, tenda belajar, atau dihentikan sementara sesuai kondisi masing-masing daerah.
Baca juga: Kemenag Dorong AI Masuk Pendidikan Agama, Guru hingga ASN Bakal Diperkuat
Gempa susulan membuat pemulihan harus lebih hati-hati
Penanganan sekolah terdampak juga berlangsung ketika wilayah Flores masih menghadapi guncangan susulan. Kemendikdasmen mencatat gempa magnitudo 5,7 pada 19 Agustus dan magnitudo 5,8 pada 20 Agustus kembali dirasakan masyarakat di Kabupaten Manggarai.
Situasi tersebut membuat aspek keselamatan menjadi pertimbangan yang tidak bisa ditawar. Ruang kelas yang mengalami kerusakan perlu diperiksa sebelum digunakan kembali, terlebih ketika gempa susulan masih terjadi.
Kondisi lapangan juga tidak selalu mudah dijangkau. Tim Kemendikdasmen yang bergerak ke wilayah terdampak melaporkan masih merasakan guncangan dan menemukan longsoran di sejumlah titik perjalanan.
Keadaan ini menjelaskan mengapa pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan percepatan pembangunan fisik. Penempatan siswa di lokasi sementara yang aman menjadi kebutuhan mendesak selama proses asesmen dan rehabilitasi berjalan.
Kemenag masih memperbarui data madrasah
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kemenag M. Arskal Salim mengatakan penanganan madrasah terdampak harus mengikuti kondisi riil di lapangan. Pembaruan data diperlukan agar bantuan tidak diberikan berdasarkan perkiraan semata.
“Respons tanggap darurat harus berbasis kebutuhan. Karena itu, verifikasi dan pemutakhiran data terus dilakukan agar dukungan yang diberikan tepat sasaran,” ujar Arskal.
Pendataan tersebut juga berkaitan dengan satuan pendidikan yang masuk kategori Prioritas II. Kemenag perlu memastikan perubahan kondisi bangunan setelah gempa maupun gempa susulan tercatat dalam pemetaan terbaru.
Pendekatan berbasis data menjadi penting karena kebutuhan setiap madrasah tidak selalu sama. Sebagian mungkin hanya membutuhkan perlengkapan belajar, sementara madrasah dengan kerusakan berat memerlukan ruang belajar sementara hingga rehabilitasi bangunan dapat dilakukan.
School kit ikut dipetakan untuk siswa terdampak
Selain tempat belajar, Kemenag juga memetakan kebutuhan school kit bagi siswa dan madrasah terdampak. Jumlah paket belum ditetapkan secara final karena masih menunggu hasil verifikasi penerima di lapangan.
Bantuan perlengkapan sekolah menjadi bagian penting dalam menjaga kegiatan belajar tetap berjalan. Kerusakan akibat gempa dapat membuat siswa kehilangan buku, alat tulis dan perlengkapan lain yang sebelumnya digunakan untuk mengikuti pembelajaran.
Pengalaman penanganan bencana pendidikan di daerah lain juga menunjukkan bahwa pemulihan tidak selesai ketika sekolah kembali dibuka. Setelah kebutuhan darurat terpenuhi, pemerintah masih harus memastikan bangunan kembali layak, kegiatan belajar normal dan siswa mendapatkan dukungan selama masa pemulihan.
Pendidikan tetap berjalan sambil menunggu madrasah pulih
Respons Kemenag di NTT menunjukkan bahwa pemulihan pendidikan pascabencana memiliki dua pekerjaan yang berjalan bersamaan. Pemerintah harus memperbaiki sarana yang rusak, tetapi pada saat yang sama tidak boleh membiarkan siswa terlalu lama kehilangan ruang belajar.
Kebutuhan tersebut semakin mendesak karena jumlah madrasah Prioritas I mencapai 32 satuan pendidikan dengan lebih dari 5.500 siswa. Ruang belajar sementara menjadi jembatan agar kegiatan pendidikan tetap berlangsung ketika bangunan sekolah belum dapat digunakan.
Kemenag selanjutnya memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah untuk menindaklanjuti kebutuhan madrasah Prioritas I sekaligus memperbarui data satuan pendidikan yang masuk Prioritas II. Hasil pemutakhiran tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan bentuk dukungan berikutnya.