Penentuan desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) tidak dilakukan hanya dengan melihat penghasilan sebuah keluarga. BPS menggunakan sejumlah karakteristik sosial ekonomi untuk menempatkan keluarga dalam pemeringkatan kesejahteraan yang kemudian dibagi menjadi 10 kelompok atau desil.
Pertanyaan mengenai asal-usul angka desil cukup sering muncul ketika kondisi dua keluarga terlihat hampir sama, tetapi hasil desilnya berbeda. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena penentuan desil memperhitungkan banyak karakteristik sekaligus, bukan satu indikator seperti gaji, jenis pekerjaan, atau kondisi rumah.
BPS menjelaskan bahwa pemeringkatan tersebut menggunakan metode statistik Proxy Means Test (PMT). Metode ini menjadi bagian penting dalam proses memperkirakan tingkat kesejahteraan berdasarkan karakteristik keluarga yang dapat diamati sebelum keluarga ditempatkan dalam kelompok desil.
Apa Itu Proxy Means Test (PMT)?
Proxy Means Test atau PMT merupakan metode statistik yang digunakan untuk memperkirakan tingkat konsumsi atau pengeluaran rumah tangga berdasarkan karakteristik sosial ekonomi yang dapat diamati.
Metode ini digunakan karena informasi mengenai pendapatan atau pengeluaran sebenarnya tidak selalu tersedia secara lengkap untuk setiap rumah tangga. Sebagai gantinya, model PMT memanfaatkan berbagai ciri rumah tangga yang memiliki hubungan dengan kondisi kesejahteraan.
Dalam pengelolaan DTSEN, BPS menggunakan PMT untuk memperoleh prediksi pengeluaran per kapita. Model tersebut dikembangkan menggunakan data yang memiliki informasi mengenai karakteristik sosial ekonomi rumah tangga.
Hal yang perlu dipahami, PMT bukan sistem pemberian skor sederhana. Tidak ada ketentuan bahwa sebuah rumah mendapat sejumlah poin, pekerjaan mendapat poin tertentu, kemudian jumlah poin tersebut langsung menentukan Desil 1, Desil 2, atau Desil 3.
PMT merupakan model statistik yang mempelajari hubungan berbagai karakteristik rumah tangga dengan tingkat pengeluaran. Hasil model tersebut kemudian digunakan untuk memperkirakan posisi kesejahteraan masing-masing keluarga.
Data Apa Saja Yang Digunakan Untuk Menentukan Desil?
BPS menyebut sejumlah karakteristik sosial ekonomi yang dipertimbangkan dalam pemeringkatan. Data tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan digunakan secara bersama-sama untuk melihat posisi relatif suatu keluarga.
Beberapa kelompok informasi yang diperhatikan antara lain:
| Kelompok Data | Contoh Karakteristik |
|---|---|
| Kependudukan | Komposisi dan karakteristik anggota keluarga |
| Pendidikan | Kondisi pendidikan anggota keluarga |
| Pekerjaan | Kondisi dan karakteristik ketenagakerjaan |
| Perumahan | Kondisi dan kualitas tempat tinggal |
| Air dan sanitasi | Sumber air minum dan sanitasi |
| Energi | Bahan bakar atau energi untuk memasak |
| Listrik | Daya dan konsumsi listrik |
| Aset | Kepemilikan berbagai aset |
| Kesehatan | Kondisi kesehatan |
| Disabilitas | Kondisi disabilitas |
| Usaha | Kepemilikan usaha |
BPS Kabupaten Pati juga menjelaskan bahwa pengelompokan kesejahteraan dalam DTSEN mempertimbangkan variabel seperti identitas kependudukan, pendidikan, ketenagakerjaan, kondisi tempat tinggal, sanitasi, air minum, kesehatan, disabilitas, kepemilikan aset, dan usaha.
Artinya, satu kondisi saja tidak otomatis menentukan desil. Memiliki daya listrik tertentu, misalnya, tidak berarti sebuah keluarga secara otomatis masuk ke desil tertentu.
Bagaimana Data Tersebut Diolah Menjadi Desil?
Berbagai data sosial ekonomi tersebut kemudian digunakan dalam Proxy Means Test (PMT). Metode ini dipakai BPS untuk memperkirakan tingkat kesejahteraan rumah tangga berdasarkan karakteristik yang dapat diamati.
PMT penting karena desil bukan hasil penjumlahan poin dari setiap kondisi keluarga. Model statistik digunakan untuk melihat hubungan antara karakteristik rumah tangga dengan tingkat pengeluaran. Dalam pengelolaan DTSEN, hasil model tersebut digunakan untuk memperoleh prediksi pengeluaran per kapita.
Setelah prediksi pengeluaran per kapita diperoleh, keluarga kemudian ditempatkan dalam urutan berdasarkan tingkat kesejahteraan relatifnya. Urutan tersebut digunakan untuk membentuk 10 kelompok kesejahteraan atau desil.
Dengan demikian, Desil 1 sampai Desil 10 menunjukkan posisi relatif keluarga dalam pemeringkatan, bukan menunjukkan besaran penghasilan tertentu. Desil 1 berada pada kelompok kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan Desil 10 berada pada kelompok relatif paling tinggi.
Karena itu, tidak tepat membuat rumus seperti “gaji Rp2 juta berarti Desil 2”. Dua keluarga dengan penghasilan yang sama bisa memiliki desil berbeda karena karakteristik sosial ekonomi lainnya juga ikut diperhitungkan.
Baca juga: Cek Bansos PKH 2026 dengan NIK KTP, Jadwal Tahap 3 dan Nominal Bantuan
Mengapa Penghasilan Tidak Menentukan Desil Sendiri?
Penghasilan memang berkaitan dengan kondisi ekonomi, tetapi bukan satu-satunya informasi yang digunakan dalam pemeringkatan.
Bayangkan dua keluarga sama-sama memiliki penghasilan Rp3 juta per bulan. Keluarga pertama terdiri dari dua anggota, memiliki rumah dengan kondisi tertentu dan mempunyai beberapa aset. Keluarga kedua terdiri dari enam anggota dengan kondisi tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan, serta kepemilikan aset yang berbeda.
Meskipun nominal penghasilan kedua keluarga sama, karakteristik sosial ekonominya tidak sama. Karena desil menunjukkan posisi relatif berdasarkan berbagai karakteristik tersebut, hasil pemeringkatannya juga belum tentu sama.
Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa desil tidak boleh dipahami sebagai batas penghasilan. Angka desil merupakan hasil pemeringkatan kesejahteraan, bukan label yang menunjukkan seseorang mempunyai pendapatan sekian rupiah.
Mengapa Desil Bisa Berubah?
Posisi desil tidak selalu bersifat tetap. Perubahan kondisi sosial ekonomi keluarga maupun perubahan data yang digunakan dalam pemutakhiran dapat memengaruhi posisi keluarga dalam pemeringkatan.
BPS menjelaskan bahwa DTSEN terus dimutakhirkan menggunakan berbagai sumber data, termasuk data administrasi, hasil sensus dan survei, pembaruan dari kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, pengecekan lapangan, serta partisipasi masyarakat melalui mekanisme yang tersedia.
Perubahan data tidak berarti nomor desil akan langsung berubah. Data yang diperbarui tetap perlu melalui proses pengolahan dan pemeringkatan berdasarkan metode yang berlaku.
Baca juga: BPS Jelaskan Arti Desil DTSEN, Bukan Penentu Mutlak Kemiskinan dan Bansos
Apakah Ada Rumus Untuk Menghitung Desil Sendiri?
Pertanyaan ini penting karena banyak masyarakat mencoba memperkirakan desil berdasarkan gaji, listrik, kondisi rumah, atau jumlah anggota keluarga.
BPS menjelaskan metode dan karakteristik yang digunakan dalam proses pemeringkatan, tetapi tidak menyediakan rumus sederhana berupa bobot masing-masing indikator yang dapat digunakan masyarakat untuk menghitung sendiri nomor desil.
Karena itu, tabel yang memberikan angka tertentu untuk penghasilan, rumah, listrik, aset, kemudian menjumlahkannya untuk menghasilkan Desil 1, 2, atau 3 tidak dapat dianggap sebagai rumus resmi BPS.
Cara paling tepat memahami desil adalah melihatnya sebagai hasil pemeringkatan kesejahteraan berdasarkan berbagai data sosial ekonomi. PMT membantu memperkirakan pengeluaran per kapita, kemudian hasil tersebut digunakan dalam proses pemeringkatan hingga keluarga masuk ke salah satu dari 10 kelompok desil.
Jadi, ketika seseorang bertanya “penentuan desil dari mana?”, jawabannya bukan dari satu data. Desil dibentuk melalui pengolahan berbagai karakteristik sosial ekonomi menggunakan metode statistik yang kemudian menghasilkan posisi relatif keluarga dalam DTSEN.