Niat dan Tata Cara Shalat Rebo Wekasan, Lengkap dengan Bacaan dan Jumlah Rakaat

Rebo Wekasan atau Rabu terakhir bulan Safar kembali menjadi perhatian masyarakat setiap tahun. Selain mencari tahu tanggal pelaksanaannya, banyak yang ingin mengetahui niat dan tata cara shalat sunnah pada hari Rebo Wekasan.

Tradisi ini berkembang di sejumlah wilayah Indonesia dan diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, termasuk doa, sedekah, pengajian, serta shalat yang oleh sebagian masyarakat diniatkan sebagai shalat sunnah mutlak. Namun, persoalan shalat khusus Rebo Wekasan memiliki perbedaan pandangan di kalangan ulama.

Karena itu, penting memahami terlebih dahulu kedudukan shalat tersebut sebelum mengikuti tata caranya. Tidak ada nash sharih yang secara khusus memerintahkan umat Islam mengerjakan shalat dengan nama “shalat Rebo Wekasan”.

Rebo Wekasan 2026 Jatuh Pada Tanggal Berapa?

Rebo Wekasan merupakan sebutan untuk Rabu terakhir dalam bulan Safar. Pada 2026, Rebo Wekasan bertepatan dengan Rabu, 12 Agustus 2026, berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026.

Tradisi tersebut kemudian menjadi momentum bagi sebagian masyarakat untuk memperbanyak ibadah dan memohon perlindungan kepada Allah SWT. Bentuk pelaksanaannya tidak selalu sama karena dipengaruhi tradisi keagamaan di masing-masing daerah.

Di sejumlah daerah, kegiatan Rebo Wekasan dapat berupa doa bersama, pengajian, sedekah, silaturahmi, dan shalat sunnah.

Apakah Ada Shalat Khusus Rebo Wekasan?

Bagian ini perlu diperhatikan karena sering menimbulkan salah pemahaman.

Menurut penjelasan NU Online, tidak terdapat nash yang secara tegas menganjurkan shalat khusus Rebo Wekasan. Karena itu, apabila seseorang memberikan niat khusus seperti “saya niat shalat Rebo Wekasan” atau “saya niat shalat Safar”, terdapat pandangan ulama yang menyatakan ibadah tersebut tidak memiliki dasar pensyariatan.

Di sisi lain, terdapat ulama yang membolehkan seseorang melakukan shalat pada waktu tersebut dengan niat shalat sunnah mutlak, bukan karena meyakini adanya shalat khusus yang disyariatkan untuk Rebo Wekasan.

Perbedaan pandangan ini perlu disampaikan agar masyarakat tidak menganggap tata cara yang berkembang sebagai ketentuan ibadah yang disepakati seluruh ulama.

Niat Shalat Sunnah Mutlak

Bagi yang mengikuti pendapat ulama yang membolehkan pelaksanaan shalat pada Rebo Wekasan dengan niat shalat sunnah mutlak, niat yang digunakan bukan “shalat Rebo Wekasan”.

Niat yang dicantumkan dalam sejumlah penjelasan ulama adalah:

أُصَلِّيْ سُنَّةً رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallî sunnatan rak’ataini lillâhi ta‘âlâ.

Artinya:

“Saya niat shalat sunnah dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Niat pada dasarnya berada di dalam hati. Lafaz tersebut dapat digunakan sebagai bentuk membantu menghadirkan niat sebelum memulai shalat.

Tata Cara Shalat Sunnah Dua Rakaat

Tata cara yang disebutkan dalam sejumlah penjelasan mengenai Rebo Wekasan pada dasarnya dilakukan seperti shalat sunnah dua rakaat.

Urutannya sebagai berikut:

  1. Berwudu dan memastikan tempat shalat bersih.
  2. Menghadap kiblat.
  3. Membaca niat shalat sunnah mutlak dua rakaat.
  4. Takbiratul ihram.
  5. Membaca doa iftitah jika biasa diamalkan.
  6. Membaca Surah Al-Fatihah.
  7. Membaca surah Al-Qur’an.
  8. Melanjutkan ruku, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.
  9. Berdiri untuk rakaat kedua.
  10. Mengulangi bacaan dan gerakan shalat.
  11. Tasyahud akhir.
  12. Mengucapkan salam.

Dengan demikian, gerakan shalatnya tidak berbeda dari shalat sunnah dua rakaat pada umumnya.

Bacaan Surat Yang Sering Dikaitkan Dengan Rebo Wekasan

Dalam tradisi yang dijelaskan sejumlah sumber NU Online, terdapat susunan bacaan tertentu yang sering dikaitkan dengan shalat Rebo Wekasan.

Setelah membaca Al-Fatihah, disebutkan bacaan Surah Al-Kautsar sebanyak 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, serta Al-Falaq dan An-Nas masing-masing satu kali pada setiap rakaat. Setelah dua rakaat selesai dan salam, shalat tersebut kemudian dilakukan kembali sehingga keseluruhannya menjadi empat rakaat.

Namun, susunan bacaan tersebut merupakan bagian dari tradisi atau tata cara yang disebutkan dalam literatur tertentu. Jangan menganggap jumlah bacaan tersebut sebagai ketentuan wajib dari Nabi Muhammad SAW.

Artinya, bagi yang mengikuti pendapat yang membolehkan shalat sunnah mutlak, inti niatnya tetap sebagai shalat sunnah mutlak karena Allah, bukan karena menganggap ada shalat khusus yang diwajibkan atau disunnahkan secara khusus pada Rabu terakhir Safar.

Baca juga: Doa Rebo Wekasan Arab dan Latin, Lengkap dengan Artinya

Apakah Shalat Dilakukan Empat Rakaat Sekaligus?

Tata cara yang berkembang dalam tradisi Rebo Wekasan biasanya dilakukan dalam dua kali shalat sunnah dua rakaat.

Jadi, bukan empat rakaat dengan satu salam. Dua rakaat pertama diselesaikan dengan salam, kemudian dilanjutkan dua rakaat berikutnya.

NU Online Lampung juga menjelaskan tata cara tersebut sebagai shalat sunnah mutlak dua rakaat yang dilakukan dua kali.

Bagi masyarakat yang mengikuti pendapat tersebut, cara ini digunakan untuk menjalankan ibadah sunnah mutlak tanpa memberikan nama khusus terhadap shalatnya.

Kapan Shalat Rebo Wekasan Dilaksanakan?

Waktu pelaksanaan yang berkembang dalam tradisi masyarakat dapat berbeda. Salah satu penjelasan NU Online Jatim menyebut praktik shalat yang dikaitkan dengan Rebo Wekasan dilakukan pada pagi hari atau waktu dhuha.

Namun, hal tersebut bukan berarti terdapat ketentuan universal bahwa seluruh umat Islam harus melaksanakan shalat sunnah pada waktu tersebut.

Jika mengikuti pendapat yang membolehkan shalat sunnah mutlak, waktu pelaksanaannya perlu tetap memperhatikan waktu-waktu yang memang diperbolehkan untuk shalat sunnah.

Setelah Shalat Bisa Dilanjutkan Dengan Doa

Setelah salam, masyarakat yang mengikuti tradisi Rebo Wekasan biasanya melanjutkan dengan doa.

Doa dapat ditujukan kepada Allah SWT untuk memohon keselamatan, kesehatan, perlindungan dari musibah, serta kebaikan bagi keluarga dan masyarakat.

Tidak ada kewajiban menggunakan satu doa tertentu yang harus dibaca oleh seluruh umat Islam. Berdoa dengan doa yang baik dan sesuai tuntunan agama tetap dapat dilakukan.

Hal terpenting adalah tidak meyakini bahwa Rabu terakhir bulan Safar mempunyai kekuatan sendiri untuk mendatangkan bahaya atau keselamatan. Perlindungan dan pertolongan tetap berasal dari Allah SWT.

Mengapa Ada Perbedaan Pendapat Ulama?

Perbedaan tersebut muncul karena persoalan utamanya bukan sekadar gerakan shalat, tetapi apakah ada dasar syariat untuk mengkhususkan ibadah pada waktu tertentu dengan bentuk tertentu.

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, misalnya, memiliki pandangan bahwa shalat khusus Rebo Wekasan tidak memiliki dasar dalam syariat. Pandangan tersebut didasarkan pada tidak ditemukannya pembahasan mengenai shalat tersebut dalam sejumlah kitab fikih yang menjadi rujukan.

Sementara itu, Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Makki memberikan pandangan berbeda. Menurut penjelasan yang dikutip NU Online, shalat pada waktu tersebut dapat dilakukan dengan niat shalat sunnah mutlak, tanpa mengkhususkan jumlah rakaat atau menjadikannya sebagai ibadah yang secara khusus disyariatkan untuk Rebo Wekasan.

Perbedaan seperti ini merupakan bagian dari khazanah fikih. Masyarakat sebaiknya tidak menjadikan perbedaan pendapat tersebut sebagai alasan untuk saling menyalahkan.

Baca juga: Kapan Rebo Wekasan 2026? Ini Tanggal dan Sejarah Tradisi Rabu Terakhir Bulan Safar

Jangan Menjadikan Rebo Wekasan Sebagai Hari Sial

Tradisi Rebo Wekasan sering dikaitkan dengan keyakinan mengenai turunnya bala atau musibah pada Rabu terakhir Safar.

Keterangan mengenai hal tersebut ditemukan dalam sejumlah kitab yang menjadi rujukan tradisi Rebo Wekasan. Salah satunya menyebut adanya bala yang turun pada Rabu terakhir bulan Safar.

Namun, keyakinan bahwa bulan Safar merupakan bulan sial perlu dibedakan dari ajaran Islam mengenai takdir dan musibah. Tidak tepat menganggap tanggal tertentu mempunyai kekuatan sendiri untuk mendatangkan kesialan.

Karena itu, kegiatan ibadah pada Rebo Wekasan lebih baik ditempatkan sebagai kesempatan memperbanyak doa, sedekah, silaturahmi, dan amal baik, bukan sebagai bentuk ketakutan terhadap tanggal tertentu.

Bolehkah Mengisi Rebo Wekasan Dengan Ibadah Lain?

Selain shalat, masyarakat dapat mengisi hari tersebut dengan berbagai amal yang memang memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, membantu orang lain, bersilaturahmi, serta berdoa merupakan bentuk kebaikan yang dapat dilakukan kapan saja.

Dengan pendekatan tersebut, Rebo Wekasan dapat menjadi momentum memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama tanpa harus menetapkan ibadah baru yang tidak memiliki dasar yang jelas.

Niat Lebih Penting Daripada Nama Tradisinya

Jika mengikuti pendapat ulama yang membolehkan pelaksanaan shalat pada Rebo Wekasan, poin yang perlu diperhatikan adalah niatnya sebagai shalat sunnah mutlak.

Jangan mengubahnya menjadi niat khusus bahwa shalat tersebut merupakan shalat yang diwajibkan atau secara pasti disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk Rabu terakhir bulan Safar.

Tata cara yang berkembang juga sebaiknya dipahami sebagai praktik yang berasal dari tradisi dan pendapat ulama tertentu, bukan sebagai satu-satunya bentuk ibadah yang harus dilakukan seluruh umat Islam.

Rebo Wekasan 2026 Bisa Diisi Dengan Amal Baik

Rebo Wekasan 2026 jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026. Bagi masyarakat yang mengikuti tradisi tersebut, hari itu dapat diisi dengan doa, sedekah, membaca Al-Qur’an, silaturahmi, maupun ibadah lain yang memiliki dasar.

Mengenai shalat sunnah, terdapat perbedaan pandangan ulama. Ada ulama yang tidak membolehkan pengkhususan shalat Rebo Wekasan, sementara ada pula yang membolehkan shalat sunnah mutlak pada waktu tersebut dengan niat karena Allah SWT.

Karena itu, niat dan pemahaman menjadi bagian penting. Bagi yang mengikuti pendapat yang membolehkan, niatnya adalah shalat sunnah mutlak dua rakaat karena Allah Ta’ala, kemudian tata caranya dilakukan seperti shalat sunnah pada umumnya.

Leave a Comment