Doa Rebo Wekasan Arab dan Latin, Lengkap dengan Artinya

Rebo Wekasan 2026 jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026, yang merupakan Rabu terakhir bulan Safar 1448 Hijriah menurut kalender Hijriah Indonesia.

Rebo Wekasan dikenal sebagai tradisi masyarakat Muslim di Indonesia yang berlangsung pada Rabu terakhir bulan Safar. Momentum ini biasanya diisi dengan doa, zikir, sedekah, dan kegiatan keagamaan sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Apa Itu Rebo Wekasan?

Rebo Wekasan atau Rabu Wekasan merupakan sebutan untuk Rabu terakhir dalam bulan Safar. Istilah tersebut cukup dikenal dalam tradisi keislaman masyarakat Nusantara, khususnya di sejumlah daerah di Pulau Jawa.

Sebagian masyarakat mengaitkan Rebo Wekasan dengan permohonan perlindungan dari bala, penyakit, musibah, dan berbagai cobaan. Karena itu, kegiatan keagamaan seperti doa bersama dan sedekah sering dilakukan pada momentum tersebut.

Dalam kalender Hijriah Indonesia 2026, 1 Safar 1448 H ditetapkan pada 16 Juli 2026 dan bulan Safar berakhir pada 13 Agustus 2026. Dengan demikian, Rabu terakhir dalam bulan Safar bertepatan dengan 12 Agustus 2026.

Perlu dicatat, kalender Hijriah dapat memiliki perbedaan dengan kalender yang menggunakan metode perhitungan berbeda. Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah, misalnya, menetapkan 1 Safar 1448 H pada 15 Juli 2026 dan Safar berakhir 13 Agustus 2026.

Baca juga: Muktamar NU ke-35 di Jombang Soroti Masa Depan Pesantren dan Kualitas SDM Santri

Doa Rebo Wekasan Arab

Salah satu doa yang populer digunakan dalam tradisi Rebo Wekasan adalah doa memohon agar Allah SWT menjauhkan bala, wabah, cobaan, fitnah, dan berbagai kesulitan.

Berikut bacaan doa yang sering dicantumkan dalam pembahasan Rebo Wekasan:

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Bacaan tersebut pada dasarnya berisi permohonan kepada Allah agar berbagai bentuk bala dan kesulitan dijauhkan dari masyarakat. Versi doa yang beredar di masyarakat dapat memiliki perbedaan redaksi, terutama pada penyebutan wilayah atau tambahan doa lainnya.

Doa Rebo Wekasan Latin

Bacaan latin doa tersebut dapat ditulis sebagai berikut:

Allahumma idfa’ ‘annal-balaa-a wal-ghalaa-a wal-wabaa-a wal-fahsyaa-a wal-munkara wal-baghy-a was-suyuu-fal-mukhtalifata wasy-syadaa-idi wal-mihan, maa zhahara minhaa wa maa bathana, min baladinaa haadzaa khaashshatan wa min buldaanil-muslimiina ‘aammatan, innaka ‘alaa kulli syai-in qadiir.

Pelafalan latin digunakan untuk membantu pembaca yang belum terbiasa membaca tulisan Arab. Bacaan yang paling utama tetap membaca doa dalam bahasa Arab dengan pelafalan yang benar, sedangkan permohonan dalam bahasa Indonesia juga diperbolehkan karena doa pada dasarnya merupakan permohonan kepada Allah SWT.

Arti Doa Rebo Wekasan

Secara umum, doa tersebut bermakna:

“Ya Allah, jauhkanlah dari kami segala bala, kesulitan, wabah, perbuatan keji, kemungkaran, kezaliman, berbagai ancaman, kesulitan dan cobaan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dari negeri ini secara khusus dan dari seluruh negeri kaum Muslimin secara umum. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Makna doa tersebut menunjukkan permohonan perlindungan kepada Allah dari berbagai bentuk keburukan. Doa juga dapat menjadi sarana untuk mengingat bahwa keselamatan dan perlindungan pada akhirnya berada dalam kehendak Allah SWT.

Bisa Dilanjutkan dengan Doa dari Al-Qur’an

Setelah membaca doa tolak bala, bacaan dapat dilanjutkan dengan doa yang bersumber dari Al-Qur’an. Salah satu yang sangat populer adalah doa memohon kebaikan dunia dan akhirat.

Arab

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Latin

Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaaban-naar.

Artinya

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.”

Doa tersebut terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 201 dan tidak dikhususkan hanya untuk Rebo Wekasan. Karena itu, doa tersebut dapat dibaca kapan saja.

Apakah Ada Doa Khusus Rebo Wekasan?

Pertanyaan mengenai doa khusus Rebo Wekasan perlu dijawab secara hati-hati. Dalam literatur keislaman, terdapat berbagai bacaan yang dikaitkan dengan Rebo Wekasan, termasuk rangkaian ayat Al-Qur’an yang dikenal sebagai Ayat Salamun.

NU Online Jabar menjelaskan bahwa Ayat Salamun merupakan rangkaian ayat Al-Qur’an yang diawali dengan kata “salamun” dan dalam tradisi tertentu dibaca pada Rabu terakhir bulan Safar sebagai bentuk tabarruk atau permohonan keselamatan.

Namun, bacaan tersebut tidak berarti memiliki status sebagai doa wajib atau ibadah khusus yang ditetapkan Nabi Muhammad SAW.

Hal serupa berlaku pada doa tolak bala yang populer di masyarakat. Doa tersebut dapat dibaca sebagai permohonan kepada Allah, tetapi tidak tepat apabila dianggap sebagai satu-satunya doa yang diwajibkan untuk Rebo Wekasan.

Bagaimana Pandangan Ulama tentang Rebo Wekasan?

Rebo Wekasan memiliki pembahasan yang cukup beragam di kalangan ulama. Salah satu persoalan yang sering dibicarakan adalah anggapan bahwa Rabu terakhir bulan Safar merupakan hari yang membawa kesialan atau musibah.

NU Online menjelaskan bahwa tidak terdapat nash yang secara tegas menetapkan Rabu terakhir bulan Safar sebagai hari khusus turunnya bala. Hadis yang sering dikaitkan dengan kesialan pada hari Rabu terakhir juga dinilai lemah dan tidak dapat dijadikan dasar keyakinan bahwa hari tersebut pasti membawa kesialan.

Karena itu, keyakinan bahwa bulan Safar atau Rabu terakhirnya pasti membawa kesialan perlu dihindari.

Dalam pandangan lain yang dibahas NU Online, terdapat ulama yang membolehkan pelaksanaan shalat sunnah dengan niat yang tidak mengkhususkan shalat tersebut sebagai “shalat Rebo Wekasan”, misalnya shalat sunnah mutlak atau shalat hajat. Di sisi lain, terdapat ulama yang tidak membolehkan pengkhususan ibadah tersebut karena tidak memiliki dasar syariat yang kuat.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Rebo Wekasan merupakan persoalan yang memiliki perbedaan pandangan di kalangan ulama.

Amalan yang Bisa Dilakukan Saat Rebo Wekasan

Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai ritual khusus Rebo Wekasan, kegiatan yang secara umum merupakan ibadah tetap dapat dilakukan.

Beberapa amalan yang dapat dilakukan antara lain:

  • memperbanyak doa kepada Allah SWT;
  • membaca Al-Qur’an;
  • memperbanyak istighfar dan zikir;
  • bersedekah kepada orang yang membutuhkan;
  • memperbanyak salawat;
  • melaksanakan shalat sunnah yang memang disyariatkan;
  • mempererat silaturahmi;
  • membantu orang lain;
  • memperbanyak amal kebaikan.

Amalan tersebut tidak perlu dianggap sebagai kewajiban khusus Rebo Wekasan. Nilainya tetap berasal dari ibadah yang memang dianjurkan dalam Islam.

NU Online juga menyebut bahwa momentum Rebo Wekasan dapat diisi dengan kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama, selama tidak disertai keyakinan atau praktik yang bertentangan dengan syariat.

Jangan Menganggap Safar sebagai Bulan Sial

Salah satu hal penting dalam membahas Rebo Wekasan adalah menghindari anggapan bahwa bulan Safar merupakan bulan pembawa kesialan.

Dalam pembahasan mengenai asal-usul Rebo Wekasan, NU Online mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menolak keyakinan jahiliah mengenai kesialan bulan Safar. Musibah, penyakit, keselamatan, dan berbagai kejadian tetap berada dalam ketetapan Allah SWT.

Ikhtiar untuk meminta perlindungan tetap dapat dilakukan. Namun, permohonan tersebut sebaiknya ditempatkan sebagai bentuk tawakal kepada Allah, bukan karena menganggap tanggal tertentu memiliki kekuatan untuk mendatangkan musibah.

Dengan pemahaman tersebut, Rebo Wekasan dapat diisi dengan kegiatan keagamaan tanpa membangun keyakinan bahwa hari tersebut secara otomatis membawa kesialan.

Rebo Wekasan 2026 Jatuh pada 12 Agustus

Bagi yang mencari Rebo Wekasan 2026 tanggal berapa, berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia, Rabu terakhir bulan Safar 1448 H bertepatan dengan 12 Agustus 2026.

Tanggal tersebut menjadi momentum yang biasanya digunakan sebagian masyarakat untuk mengadakan doa bersama, pengajian, sedekah, dan kegiatan sosial-keagamaan lainnya.

Perlu diperhatikan bahwa awal bulan Hijriah dapat memiliki perbedaan berdasarkan sistem kalender yang digunakan. Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah mencatat Safar 1448 H dimulai sehari lebih awal, tetapi tetap menempatkan 13 Agustus sebagai 30 Safar.

Karena itu, penyebutan tanggal Rebo Wekasan sebaiknya disertai sumber kalender yang digunakan.

Pertanyaan yang Sering Dicari tentang Doa Rebo Wekasan

Apa doa Rebo Wekasan yang dibaca?

Salah satu doa yang populer dibaca adalah doa tolak bala yang berisi permohonan agar Allah SWT menjauhkan bala, wabah, kesulitan, fitnah, dan berbagai musibah. Redaksinya dapat berbeda dalam berbagai sumber dan tradisi.

Apakah doa Rebo Wekasan wajib dibaca?

Tidak ada dasar yang menetapkan satu doa tertentu sebagai doa wajib Rebo Wekasan. Doa tolak bala dapat dibaca sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT.

Rebo Wekasan 2026 tanggal berapa?

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia, Rebo Wekasan 2026 bertepatan dengan Rabu, 12 Agustus 2026, yaitu Rabu terakhir bulan Safar 1448 H.

Apakah Rebo Wekasan merupakan hari sial?

Tidak ada dasar yang kuat untuk meyakini Rabu terakhir bulan Safar sebagai hari yang pasti membawa kesialan. Anggapan tersebut merupakan bagian dari tradisi dan keyakinan masyarakat yang diperdebatkan dalam kajian keislaman.

Apa saja amalan Rebo Wekasan?

Doa, zikir, membaca Al-Qur’an, sedekah, salawat, silaturahmi, dan amal kebaikan lainnya dapat dilakukan. Namun, amalan tersebut tidak harus dianggap sebagai ritual wajib yang khusus ditetapkan untuk Rebo Wekasan.

Apakah ada shalat khusus Rebo Wekasan?

Tidak terdapat nash yang tegas mengenai shalat khusus Rebo Wekasan. Sebagian ulama membolehkan shalat sunnah mutlak atau shalat hajat dengan niat yang tidak mengkhususkan shalat tersebut sebagai shalat Rebo Wekasan, sedangkan ulama lain tidak membolehkan pengkhususan ibadah tersebut.

Doa Rebo Wekasan yang beredar di masyarakat pada dasarnya merupakan doa permohonan perlindungan dari bala, wabah, cobaan, dan berbagai kesulitan. Bacaan Arab dan latin dapat digunakan untuk membantu pembacaan, tetapi tidak tepat menganggapnya sebagai satu-satunya doa yang diwajibkan pada Rabu terakhir bulan Safar. Rebo Wekasan 2026 berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia jatuh pada 12 Agustus 2026, dan momentum tersebut dapat diisi dengan doa, zikir, membaca Al-Qur’an, sedekah, serta berbagai amal kebaikan tanpa meyakini bulan Safar atau hari Rabu terakhirnya sebagai waktu yang pasti membawa kesialan.

Leave a Comment