MTsN 1 Pasangkayu Punya Cara Berbeda Hadapi AI, Kurikulum Cinta Jadi Sorotan

Perkembangan kecerdasan buatan mulai mengubah cara guru menyiapkan pembelajaran, termasuk di lingkungan madrasah. MTsN 1 Pasangkayu, Sulawesi Barat, menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi AI dimanfaatkan tanpa mengesampingkan pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan peserta didik.

Praktik tersebut menjadi perhatian setelah Kementerian Agama RI memuat pengalaman dari MTsN 1 Pasangkayu pada 18 Agustus 2026. Pendekatan yang dikembangkan tidak menempatkan teknologi sebagai pengganti peran guru, melainkan sebagai sarana pendukung dalam menghadirkan pembelajaran yang tetap berorientasi pada nilai kasih sayang.

AI Dipadukan dengan Kurikulum Berbasis Cinta

Pemanfaatan AI di MTsN 1 Pasangkayu berkaitan dengan penerapan Kurikulum Berbasis Cinta. Pendekatan ini menempatkan kasih sayang, empati, toleransi, dan penghargaan terhadap sesama sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.

Kehadiran teknologi justru diarahkan untuk membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih adaptif. Materi, media pembelajaran, hingga evaluasi dapat disiapkan dengan bantuan teknologi, sementara nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi fondasi dalam proses belajar.

Gagasan tersebut bukan muncul secara tiba-tiba. Kajian mengenai Kurikulum Cinta berbasis AI di MTsN 1 Pasangkayu telah dipublikasikan pada 2025 dan membahas potensi sekaligus tantangan penerapan teknologi tersebut dalam pendidikan Islam.

Baca juga: Catat! 4 Masjid Ramah Musafir di Jalur Lintas Utama Pasangkayu, Cocok untuk Rest Area

Guru Tetap Memegang Peran Penting

Penggunaan AI dalam pembelajaran tidak berarti seluruh pekerjaan pendidikan dapat diserahkan kepada teknologi. Peran guru tetap dibutuhkan untuk memberikan arahan, memeriksa hasil yang dihasilkan teknologi, serta memastikan materi sesuai dengan kebutuhan dan karakter peserta didik.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena kecerdasan buatan mampu membantu pekerjaan teknis, tetapi tidak memiliki pengalaman manusiawi dalam memahami kondisi siswa. Hubungan antara guru dan peserta didik tetap menjadi bagian yang tidak dapat digantikan hanya dengan perangkat teknologi.

Kajian yang dilakukan di MTsN 1 Pasangkayu juga menemukan bahwa penerapan pendekatan tersebut membutuhkan penguatan literasi digital guru. Pelatihan, perencanaan program, dan pengawasan akademik menjadi bagian yang diperlukan agar penggunaan AI benar-benar mendukung peningkatan mutu pembelajaran.

Pendidikan Tidak Berhenti pada Nilai Akademik

Penerapan Kurikulum Cinta membawa perhatian pada persoalan yang lebih luas dalam pendidikan madrasah. Kemampuan akademik tetap diperlukan, tetapi peserta didik juga perlu memiliki empati, kemampuan bekerja sama, sikap toleran, dan karakter yang baik.

Teknologi dapat membantu mempercepat proses penyusunan materi atau membuat pembelajaran lebih interaktif. Namun, hasil pendidikan pada akhirnya tetap bergantung pada bagaimana pengetahuan tersebut digunakan dan nilai apa yang ditanamkan kepada siswa.

Pendekatan seperti ini menjadi semakin relevan ketika penggunaan AI semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa tidak hanya perlu mengetahui cara menggunakan teknologi, tetapi juga memahami batasan, tanggung jawab, dan etika ketika memanfaatkannya.

MTsN 1 Pasangkayu Jadi Contoh Praktik Pendidikan

MTsN 1 Pasangkayu memiliki posisi menarik dalam pembahasan pendidikan berbasis teknologi karena pengalaman madrasah tersebut telah menjadi bahan kajian akademik sebelum kembali mendapat sorotan melalui tulisan di laman Kementerian Agama.

Penelitian yang diterbitkan pada Juli 2026 menyebut penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dengan dukungan AI dilakukan melalui perencanaan program, penguatan literasi digital, pelatihan guru, dan supervisi akademik secara berkelanjutan. Hasil kajian tersebut juga mencatat penggunaan AI membantu guru dalam menyiapkan materi, media pembelajaran interaktif, dan evaluasi.

Fakta tersebut membuat pengalaman MTsN 1 Pasangkayu tidak sekadar menjadi cerita tentang penggunaan aplikasi AI di sekolah. Ada proses manajemen madrasah dan penguatan kapasitas pendidik yang ikut menentukan apakah teknologi benar-benar memberikan manfaat bagi pembelajaran.

Tantangan AI di Madrasah Masih Terbuka

Pemanfaatan kecerdasan buatan tetap memiliki sejumlah tantangan. Kesiapan guru, kemampuan literasi digital, ketersediaan perangkat, serta pemahaman mengenai penggunaan AI secara bertanggung jawab menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

Madrasah juga perlu memastikan penggunaan AI tidak membuat siswa kehilangan kesempatan untuk berpikir mandiri. Teknologi seharusnya membantu proses belajar, bukan membuat peserta didik hanya bergantung pada jawaban yang dihasilkan mesin.

Pengalaman MTsN 1 Pasangkayu memberikan gambaran bahwa perkembangan teknologi dapat berjalan beriringan dengan pendidikan karakter. AI dimanfaatkan sebagai alat bantu, sementara kasih sayang, empati, dan nilai kemanusiaan tetap ditempatkan sebagai bagian penting dalam membentuk peserta didik.

Bagi dunia pendidikan di Pasangkayu, praktik tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bahwa inovasi tidak selalu berarti meninggalkan pendekatan yang sudah menjadi dasar pendidikan madrasah. Justru teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pembelajaran selama penggunaannya tetap diarahkan pada kebutuhan siswa dan tujuan pendidikan.

Sangat senang dapat berbagi info di kemenagpasangkayu.id ini, sebagai seorang pemuda yang masih kuliah, menulis bisa menjadi sumber pengetahuan baru.

Leave a Comment