Di sebuah ruang kelas madrasah di Katingan, Kalimantan Tengah, materi sejarah Nabi Muhammad SAW justru menemukan cara penyampaian yang jauh dari kesan menghafal buku. Hadi Saputra, Guru Bahasa Arab di MIN 2 Katingan, mengajak murid mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) melalui lirik yang dipadukan dengan nada lagu populer.
Gagasan tersebut muncul setelah Hadi memperhatikan kebiasaan murid di lingkungan madrasah. Lagu yang sedang ramai di media sosial ternyata lebih cepat melekat di ingatan mereka dibandingkan sejumlah materi yang harus dipelajari dari catatan.
“Seolah-olah ada pola belajar yang sebenarnya sudah terbentuk secara alami: anak mendengar lagu berulang kali, kemudian tanpa sadar hafal bagian-bagian tertentu,” kata Hadi saat menjelaskan pengamatannya, Senin (17/8/2026).
Hadi mulai menerapkan pendekatan tersebut pada semester ganjil tahun ajaran 2026/2027. Beberapa materi SKI kemudian disusun ulang menjadi lirik dengan mengikuti irama lagu yang tengah dikenal murid, termasuk nada dari “My Mine Gueh” milik Naykilla serta “Astaga Bercanda” dari Akbar Chalay.
Baca juga: Cara Mengajukan Bantuan Sarana Prasarana Madrasah Melalui Aplikasi SIMSARPRAS
Dari Lagu yang Viral ke Materi SKI
Pilihan lagu bukan dibuat secara sembarangan. Hadi terlebih dahulu melihat lagu apa yang dekat dengan keseharian murid, kemudian memilih bagian tertentu yang dianggap paling cocok untuk membawa materi pelajaran.
“Sebelumnya, saya melakukan observasi sederhana terhadap kebiasaan murid, khususnya murid Gen Alpha. Saya melihat mereka cukup sering menyanyikan lagu-lagu yang sedang populer di lingkungan madrasah, dan sebagian besar bahkan sudah hafal liriknya,” ujarnya, Senin (17/8/2026).
Pengamatan tersebut kemudian melahirkan pertanyaan sederhana. Jika murid mampu mengingat lirik karena sering mendengarnya, pola pengulangan yang sama dapat dimanfaatkan untuk membantu mereka mengingat informasi pelajaran.
“Kalau mereka bisa dengan cepat menghafal lirik lagu yang mereka dengar berulang kali, mengapa pola yang sama tidak kita manfaatkan untuk membantu mereka mengingat materi pelajaran?” ujarnya.
Pendekatan semacam ini sebenarnya bukan gagasan yang sepenuhnya baru dalam dunia pendidikan. Sejumlah kajian pendidikan menunjukkan lagu dapat digunakan untuk membantu siswa mengingat materi, menarik perhatian, sekaligus mengurangi kejenuhan ketika pembelajaran membutuhkan hafalan. Penelitian di lingkungan Universitas Negeri Surabaya juga menemukan penggunaan lagu dapat membantu penguasaan kosakata dan membuat proses belajar lebih menarik.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebelumnya juga mendorong pemanfaatan musik sebagai bagian dari pembelajaran anak. Dalam program KICAU, misalnya, lagu digunakan sebagai media pembentukan karakter dan pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik.
Baca juga: Dari Madrasah ke Istana, Siti Nur Adlina Jadi Paskibraka Nasional 2026
TikTok Jadi Titik Temu dengan Kebiasaan Murid
Hadi melihat TikTok memiliki pengaruh cukup kuat terhadap lagu yang dikenal murid-muridnya. Lagu yang muncul berulang kali dalam video pendek lebih mudah menjadi bagian dari percakapan dan aktivitas mereka sehari-hari.
“Hal tersebut terjadi karena lagu-lagu tersebut cukup sering mereka dengarkan dan muncul di TikTok. Apalagi, berdasarkan pengamatan saya, TikTok menjadi salah satu platform media sosial yang cukup dekat dengan keseharian sebagian besar murid dibandingkan platform lain seperti Instagram atau Facebook,” lanjutnya.
Kedekatan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai jembatan menuju materi pembelajaran. Alih-alih meminta murid meninggalkan kebiasaan mereka ketika masuk kelas, Hadi mencoba mengambil unsur yang sudah mereka kenal lalu mengarahkannya untuk kepentingan belajar.
Pendekatan ini juga memperlihatkan bagaimana guru dapat menyesuaikan cara penyampaian materi dengan karakter peserta didik tanpa harus menghilangkan substansi pelajaran. Musik hanya menjadi kendaraan, sementara isi lirik tetap diarahkan pada pokok materi SKI yang harus dipahami murid.
Kajian mengenai pembelajaran musik pada Gen Alpha juga menunjukkan bahwa penggunaan ritme lagu yang sedang dikenal dapat membuat proses belajar musik terasa lebih relevan dan interaktif. Penelitian yang dipublikasikan Universitas Negeri Yogyakarta pada 2025, misalnya, membahas penggunaan ritme lagu viral TikTok dalam pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman musik di kalangan Gen Alpha.
Lirik Disusun Mengikuti Struktur Lagu
Proses kreatif Hadi tidak berhenti pada mengganti kata-kata dalam lagu. Ia harus memastikan materi pelajaran dapat masuk ke dalam struktur nada sehingga tetap nyaman dinyanyikan oleh murid.
“Jadi pertama saya tentukan part lirik yang mau diubah, bisa dari reff-nya. Kemudian jumlah kata lirik asli saya sesuaikan juga dengan kata lirik target,” lanjutnya.
Cara tersebut membuat materi SKI tidak disampaikan dalam bentuk paragraf panjang yang harus dihafalkan sekaligus. Informasi dipecah menjadi potongan lirik yang mengikuti pola lagu sehingga murid memiliki pegangan ritme ketika mengingat isi materi.
Salah satu materi yang mendapat perlakuan tersebut adalah kisah Nabi Muhammad SAW, termasuk perjalanan Nabi ke Thaif. Poin-poin penting dalam materi kemudian dirangkai agar dapat dinyanyikan menggunakan nada yang sudah akrab di telinga murid.
Model seperti ini memiliki keuntungan lain. Ketika murid menyanyikan kembali lagu tersebut, mereka sekaligus berkesempatan mengulang materi tanpa merasa sedang mengulang catatan pelajaran secara konvensional.
Respons Murid Jadi Ukuran Awal
Perubahan suasana belajar menjadi salah satu hal yang dirasakan Hadi setelah pendekatan tersebut diterapkan. Materi yang sebelumnya berada di buku dan catatan kini memiliki bentuk lain yang lebih mudah dipanggil kembali oleh murid.
“Respon mereka sangat antusias. Sebab materi pelajaran yang biasanya hanya ada di buku tulis mereka, kini jadi lebih mudah diingat dalam bentuk lagu dari nada lagu viral,” pungkasnya.
Penggunaan lagu dalam pembelajaran juga tidak berarti buku dan penjelasan guru kehilangan fungsi. Materi tertulis tetap dibutuhkan untuk memberikan penjelasan secara lengkap, sedangkan lagu dapat digunakan sebagai penguat ingatan dan pemantik agar murid lebih tertarik mempelajari materi.
Guru dapat memanfaatkan bagian lagu untuk membuka pembelajaran, mengulang materi, atau mengecek sejauh mana murid mengingat poin yang telah dipelajari. Dengan begitu, aktivitas bernyanyi tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari kegiatan belajar yang lebih luas.
Dari Ruang Kelas hingga Jutaan Penonton
Eksperimen pembelajaran Hadi kemudian tidak hanya berhenti di lingkungan madrasah. Aktivitas dirinya bersama para siswa ketika menyanyikan materi pelajaran menggunakan irama lagu populer turut dibagikan melalui akun TikTok Arabiyahtalks.
Video tersebut mendapat perhatian besar dari pengguna TikTok. Sejumlah unggahan bahkan dilaporkan mencapai sedikitnya 2,5 juta views.
Angka tersebut menunjukkan bahwa praktik sederhana di ruang kelas dapat menarik perhatian jauh di luar lingkungan sekolah. Konten pendidikan yang dikemas mengikuti kebiasaan konsumsi media anak ternyata memiliki peluang untuk menjangkau publik yang lebih luas.
Fenomena itu juga memperlihatkan perubahan cara guru membagikan praktik baik pembelajaran. Pengalaman mengajar yang sebelumnya hanya diketahui oleh murid dan rekan sejawat kini dapat didokumentasikan dalam video pendek dan ditemukan oleh guru lain yang mencari inspirasi.
Bagi Hadi, popularitas video bukan tujuan utama dari penggunaan lagu dalam pembelajaran. Hal terpenting tetap berada pada bagaimana murid dapat memahami dan mengingat materi SKI dengan cara yang lebih dekat dengan keseharian mereka.
Kreativitas tersebut sekaligus memberi gambaran bahwa pembelajaran sejarah Islam tidak harus selalu berlangsung melalui hafalan teks. Ketika materi dikemas dengan bahasa dan bentuk yang dikenali peserta didik, pelajaran tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW dapat terasa lebih hidup tanpa kehilangan nilai yang ingin disampaikan.
Praktik Hadi di MIN 2 Katingan menjadi contoh bahwa inovasi pembelajaran bisa berangkat dari pengamatan sederhana. Guru tidak selalu membutuhkan perangkat yang rumit untuk membuat kelas lebih menarik; terkadang, memahami apa yang sering dilakukan murid sudah cukup untuk menemukan pintu masuk menuju pembelajaran yang lebih efektif.