Bagi Siti Nur Adlina, kedisiplinan tidak hanya lahir dari barisan latihan Paskibraka. Kebiasaan itu tumbuh dari kesehariannya sebagai siswi madrasah dan santriwati yang akrab dengan lantunan maulid, kegiatan rudat, belajar, hingga berbagai aktivitas di lingkungan pesantren.
Siswi MA Hidayatullah Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, itu kini mendapat kesempatan berdiri di panggung nasional. Pada usia 16 tahun, Adlina terpilih menjadi salah satu anggota Paskibraka Nasional 2026 yang membawa nama Kalimantan Selatan dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Namanya tercatat bersama I Nyoman Harya Dhanurendra Darmamukti sebagai dua wakil Kalimantan Selatan dalam daftar calon Paskibraka tingkat pusat 2026. Keduanya menjadi representasi Kalsel setelah melewati proses seleksi berjenjang dari daerah hingga tingkat nasional.
Perjalanan Adlina dimulai dari lingkungan madrasah
Adlina bukan pelajar yang tiba-tiba muncul dalam seleksi Paskibraka nasional. Sejak 2025, ia sudah mulai menekuni kegiatan Paskibraka dan menjalani latihan secara bertahap.
Proses tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk ketahanan fisik sekaligus kedisiplinannya. Seleksi Paskibraka sendiri tidak hanya berkaitan dengan kemampuan baris-berbaris, tetapi juga mencakup wawasan kebangsaan, kesehatan, kepribadian, kepemimpinan, serta integritas.
Seleksi tingkat Provinsi Kalimantan Selatan pada 2026 diikuti 90 peserta atau 45 pasangan putra dan putri dari 13 kabupaten/kota. Dari proses tersebut kemudian terpilih wakil yang melanjutkan perjuangan menuju tingkat nasional.
Adlina akhirnya menjadi salah satu dari dua pelajar Kalsel yang berangkat mengikuti pemusatan pendidikan dan pelatihan Paskibraka tingkat nasional. Pelatihan tersebut berlangsung mulai 14 Juli hingga 22 Agustus 2026.
Baca juga: Tiga Siswa Madrasah Tembus Paskibraka Pusat 2026, Bawa Nama Riau, Banten, dan Sumsel ke Istana
Tetap aktif dalam tradisi keagamaan
Kisah Adlina menarik bukan semata karena prestasinya di Paskibraka. Kehidupannya di madrasah memperlihatkan bagaimana aktivitas keagamaan dan kegiatan kebangsaan bisa berjalan beriringan.
Di lingkungan pendidikan Hidayatullah Martapura, ia aktif mengikuti kegiatan rudat dan maulid. Rutinitas tersebut berjalan bersama kewajiban belajar serta latihan Paskibraka yang menuntut konsistensi dan ketahanan fisik.
Keseharian Adlina juga disebut jauh dari kesan gemar mencari perhatian. Ia dikenal sederhana, pendiam, santun, rajin, dan disiplin dalam menjalani aktivitas di sekolah maupun lingkungan pesantren.
Karakter seperti itu justru menjadi modal penting ketika ia harus mengikuti tahapan seleksi yang panjang. Sebab, menjadi Paskibraka nasional bukan hanya persoalan mampu berdiri tegap selama upacara, tetapi juga kesiapan membawa nama daerah dan menjalankan tanggung jawab di hadapan bangsa.
Pendidikan Adlina lekat dengan madrasah
Sebelum duduk di bangku MA Hidayatullah Martapura, Adlina menempuh pendidikan di MI Darussalam Martapura. Pendidikan kemudian dilanjutkan di SMP Hidayatullah Martapura sebelum akhirnya masuk MA Hidayatullah Martapura.
Kini ia tercatat sebagai siswi kelas X B. Di usianya yang masih belia, Adlina harus membagi waktu antara pendidikan formal, aktivitas pesantren, kegemaran membaca, olahraga badminton, dan latihan Paskibraka.
Kombinasi aktivitas tersebut membuat kesehariannya cukup padat. Namun, justru dari rutinitas itulah kemampuan mengatur waktu dan menjaga konsistensi menjadi bagian dari proses pendewasaannya.
Dukungan keluarga ikut mengantar ke tingkat nasional
Perjalanan Adlina menuju Paskibraka nasional juga tidak lepas dari keluarga. Ia merupakan putri H. Ahmad Yamani, pensiunan dosen Universitas Lambung Mangkurat (ULM), dan Hj. Siti Hasanah, S.Pd., seorang guru Kimia.
Lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia pendidikan turut memberikan ruang bagi Adlina untuk berkembang. Prestasi yang diraihnya kemudian menjadi hasil dari proses panjang yang melibatkan keluarga, madrasah, pesantren, serta pembinaan Paskibraka.
Pemerintah Kabupaten Banjar sebelumnya juga memberikan dukungan kepada para pelajar daerah yang berhasil menembus tingkat nasional. Adlina menjadi salah satu dari dua pelajar asal Kabupaten Banjar yang mendapat kesempatan mewakili Kalimantan Selatan dalam Paskibraka Nasional 2026.
Baca juga: Cara Cek Mahasiswa di PDDIKTI, Bisa Lihat Status Aktif dan Data Kuliah
Adlina membawa pesan dari Kalsel ke tingkat nasional
Saat dilepas untuk mengikuti pelatihan nasional, Adlina menyadari bahwa tantangan berikutnya bukan lagi sekadar lolos seleksi. Ia harus menjaga kondisi fisik, kesiapan mental, kesehatan, sekaligus mampu beradaptasi dengan peserta dari berbagai daerah.
“Yang paling penting adalah menjaga mental, kesehatan, dan terus berlatih. Pesan dari Pak Sekda juga akan saya pegang, yaitu menjaga nama baik Kalimantan Selatan, memperbanyak relasi dengan peserta dari daerah lain, dan memberikan yang terbaik,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan fokus Adlina menghadapi tahapan berikutnya. Ia tidak hanya membawa identitas sebagai siswi madrasah, tetapi juga menjadi representasi Kalimantan Selatan dalam sebuah agenda kenegaraan.
Sekretaris Daerah Kalimantan Selatan H. Muhammad Syarifuddin sebelumnya juga menitipkan pesan kepada dua wakil daerah tersebut agar menjaga kondisi fisik, kesehatan, dan nama baik Kalimantan Selatan selama mengikuti pelatihan di Jakarta.
“Ini adalah kesempatan emas yang belum tentu datang dua kali. Jaga fisik, jaga kesehatan, konsumsi vitamin, dan yang terpenting jaga nama baik Kalimantan Selatan. Jangan pernah merasa minder karena berasal dari Kalimantan. Tunjukkan bahwa kita mampu bersaing dan setara dengan peserta dari seluruh Indonesia,” tegasnya.
Bukan sekadar soal seragam Paskibraka
Bagi Adlina, perjalanan ini tampaknya tidak berhenti ketika tugas Paskibraka selesai. Ia sudah memiliki gambaran tentang pendidikan yang ingin ditempuh setelah menyelesaikan sekolah menengah.
Adlina bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri atau IPDN. Pilihan tersebut memiliki keterkaitan dengan pengalaman yang sedang dijalaninya, terutama dalam hal disiplin, kepemimpinan, tanggung jawab, dan pengabdian.
Pengalaman mengikuti Paskibraka juga memberinya kesempatan mengenal pelajar dari berbagai daerah. Relasi dan pengalaman tersebut menjadi bagian lain yang tidak kalah penting dibandingkan pencapaian lolos seleksi nasional.
Dari Martapura menuju panggung nasional
Kisah Siti Nur Adlina memperlihatkan bahwa prestasi pelajar madrasah tidak berhenti pada bidang akademik maupun kegiatan keagamaan. Dari lingkungan pendidikan yang menjaga tradisi Islam, ia justru mampu berkembang hingga menjadi salah satu putri terbaik Kalimantan Selatan dalam Paskibraka Nasional 2026.
Perjalanan itu tidak dibangun dalam waktu singkat. Latihan sejak 2025, pendidikan di madrasah, aktivitas keagamaan, olahraga, dukungan keluarga, hingga rangkaian seleksi berjenjang menjadi bagian yang saling melengkapi.
Kini Adlina sedang menjalani fase penting sebelum mengemban tugas pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dari Martapura, langkahnya telah sampai ke tingkat nasional.
Seragam Paskibraka yang dikenakannya kelak bukan hanya menjadi simbol sebuah prestasi pribadi. Di baliknya ada nama MA Hidayatullah Martapura, Kabupaten Banjar, dan Kalimantan Selatan yang ikut dibawanya ke tengah panggung peringatan kemerdekaan Indonesia.