Satu unggahan di media sosial bisa berpindah dari satu grup ke grup lain hanya dalam hitungan menit. Masalahnya, informasi yang cepat beredar belum tentu sudah diperiksa kebenarannya, sehingga kebiasaan melakukan tabayyun menjadi penting sebelum sebuah berita diteruskan kepada orang lain.
Dalam Islam, tabayyun bukan sekadar sikap berhati-hati, melainkan prinsip untuk memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Kementerian Agama juga menyoroti pentingnya budaya tabayyun dalam menghadapi hoaks dan disinformasi yang beredar melalui berbagai platform digital.
Tabayyun Bukan Berarti Tidak Percaya pada Informasi
Menerapkan tabayyun bukan berarti setiap informasi harus dicurigai sebagai kebohongan. Sikap yang diperlukan adalah memberi jeda sebelum mengambil kesimpulan, terutama ketika sebuah berita menyangkut seseorang, kelompok, lembaga, atau persoalan yang berpotensi menimbulkan keresahan.
Pedoman Komisi Fatwa MUI tentang bermuamalah melalui media sosial juga menekankan bahwa informasi yang diterima melalui media sosial tidak semestinya langsung disebarkan sebelum dilakukan verifikasi dan tabayyun. Pemeriksaan tersebut mencakup sumber informasi, isi, maksud, konteks waktu, tempat, serta latar belakang informasi.
Kebiasaan sederhana itu menjadi semakin penting ketika sebuah unggahan dibuat dengan judul yang memancing emosi. Informasi yang membuat marah, takut, kagum, atau tergesa-gesa untuk membagikannya justru layak diperiksa lebih dahulu.
Baca juga: Memahami Makna Maulid Nabi Muhammad SAW, dari Syukur hingga Kecintaan kepada Rasulullah
Berita Benar Pun Perlu Dilihat Konteksnya
Kesalahan di media sosial tidak selalu berbentuk informasi yang sepenuhnya palsu. Sebuah video bisa saja asli, tetapi narasi yang ditempelkan pada video tersebut dapat memberikan makna berbeda dari kejadian sebenarnya.
Contoh kasus seperti ini pernah muncul dalam informasi mengenai Menteri Agama pada 2026. Sebuah video yang beredar seolah menunjukkan adanya larangan berkurban ternyata merupakan potongan pernyataan yang tidak utuh, sementara konteks pembicaraan sebenarnya berkaitan dengan perbaikan tata kelola pelaksanaan kurban.
Situasi tersebut menunjukkan mengapa mengecek tanggal, tempat, siapa yang berbicara, dan peristiwa lengkap di balik sebuah video sama pentingnya dengan memeriksa apakah videonya asli. Potongan fakta tanpa konteks dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru meskipun materi awalnya benar.
Contoh Tabayyun Sebelum Membagikan Berita
Misalnya muncul pesan di WhatsApp berbunyi, “Besok Kemenag membuka pendaftaran PPPK 2026, segera daftar melalui link ini sebelum kuota habis.” Pesan tersebut disertai logo Kementerian Agama dan sebuah tautan yang terlihat meyakinkan.
Alih-alih langsung meneruskan pesan tersebut, langkah pertama adalah memeriksa apakah informasi serupa muncul di kanal resmi Kemenag. Nama program, tanggal pendaftaran, persyaratan, serta alamat situs perlu dicocokkan dengan pengumuman resmi.
Contoh tersebut bukan sekadar kemungkinan. Pada Juli 2026, Kementerian Agama memang mengingatkan masyarakat mengenai hoaks rekrutmen PPPK yang mengatasnamakan Kemenag. Informasi palsu tersebut beredar melalui grup WhatsApp dan media sosial dengan menggunakan logo Kemenag serta tautan tertentu.
Contoh lainnya adalah video yang diberi keterangan, “Tokoh X menghina kelompok tertentu.” Sebelum membagikannya, periksa video lengkap, tanggal rekaman, lokasi kejadian, pernyataan sebelum dan sesudah bagian yang dipotong, serta apakah ada klarifikasi dari pihak yang bersangkutan.
Jika sumber awal tidak jelas, informasi tersebut belum layak diperlakukan sebagai fakta. Lebih baik menahan satu unggahan daripada ikut memperluas informasi yang ternyata keliru.
Baca juga: Guru Agama Masuk Prioritas, Pemerintah Siapkan Rp31 Triliun untuk Penataan PPPK
Empat Hal yang Bisa Diperiksa dalam Beberapa Menit
Tabayyun dapat dimulai dari sumber. Lihat siapa yang pertama kali menerbitkan informasi, apakah identitasnya jelas, apakah lembaga yang disebut memang mengeluarkan pernyataan tersebut, dan apakah media kredibel turut memberitakannya.
Isi berita juga perlu dibandingkan. Jangan hanya membaca judul atau keterangan pada gambar; buka artikel secara utuh dan lihat apakah isi sebenarnya sesuai dengan klaim yang beredar.
Konteks menjadi pemeriksaan berikutnya. Tanggal lama sering dibagikan kembali seolah-olah merupakan kejadian baru, sementara foto atau video dari daerah lain dapat diberi keterangan seakan terjadi di tempat berbeda.
Pemeriksaan terakhir adalah dampaknya. Jika informasi menyangkut kebijakan pemerintah, bantuan sosial, rekrutmen, pendidikan, kesehatan, keagamaan, atau persoalan yang dapat memengaruhi keputusan masyarakat, verifikasi sebaiknya dilakukan lebih ketat.
Jangan Menjadikan Banyaknya Orang yang Membagikan sebagai Bukti
Sebuah informasi yang sudah beredar di banyak grup belum otomatis menjadi benar. Jumlah orang yang meneruskan pesan hanya menunjukkan seberapa luas informasi tersebut menyebar, bukan membuktikan kebenarannya.
Kesalahan ini cukup mudah terjadi dalam percakapan grup. Seseorang meneruskan pesan karena menganggap pengirim pertama dapat dipercaya, kemudian anggota lain melakukan hal yang sama tanpa pernah memeriksa sumber aslinya.
Informasi yang salah akhirnya terlihat seperti fakta karena terus diulang. Padahal, pengulangan tidak mengubah informasi keliru menjadi benar.
Tabayyun Juga Berlaku untuk Informasi yang Positif
Pemeriksaan tidak hanya diperlukan ketika berita berisi tuduhan atau kabar buruk. Informasi yang terlihat positif pun tetap perlu diperiksa sebelum disebarkan.
Pedoman MUI menegaskan bahwa konten yang berisi pujian atau hal-hal positif tentang seseorang maupun kelompok juga belum tentu benar dan tetap perlu dilakukan tabayyun.
Misalnya beredar informasi bahwa seseorang mendapatkan penghargaan, sebuah lembaga membuka program tertentu, atau pemerintah memberikan bantuan dengan nilai tertentu. Jika informasi tersebut tidak berasal dari sumber yang dapat dipastikan, sebaiknya jangan langsung dianggap sebagai pengumuman resmi.
Sikap tersebut membantu menjaga kualitas informasi sekaligus mencegah masyarakat mengambil keputusan berdasarkan kabar yang belum terverifikasi.
Ada Dampak Nyata Ketika Informasi Salah Disebarkan
Hoaks bukan sekadar masalah benar atau salah. Informasi yang keliru dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan, menimbulkan kepanikan, memicu konflik, atau membuat masyarakat mengambil keputusan yang merugikan dirinya sendiri.
Dalam konteks hukum, UU Nomor 1 Tahun 2024 tentang perubahan kedua UU ITE mengatur sejumlah perbuatan terkait distribusi informasi elektronik. Pasal 28 antara lain mengatur pemberitahuan bohong atau informasi menyesatkan yang mengakibatkan kerugian materiil bagi konsumen dalam transaksi elektronik, informasi yang menimbulkan kebencian atau permusuhan berdasarkan kategori tertentu, serta penyebaran informasi bohong yang menimbulkan kerusuhan di masyarakat.
Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas membagikan informasi di internet bukan ruang tanpa konsekuensi. Namun, aspek hukum tidak perlu menjadi satu-satunya alasan untuk melakukan tabayyun; tanggung jawab kepada orang lain juga menjadi alasan penting untuk berhati-hati.
Jeda Sebelum Menekan Tombol Bagikan
Tabayyun pada praktiknya dapat dimulai dengan kebiasaan yang sangat sederhana: berhenti sebentar sebelum menekan tombol bagikan. Tanyakan tiga hal, yaitu dari mana informasi tersebut berasal, apakah isinya sudah terkonfirmasi, dan apakah konteksnya sesuai dengan kejadian sebenarnya.
Jika jawabannya belum jelas, tidak ada kewajiban untuk ikut menyebarkannya. Menunggu sampai informasi memperoleh klarifikasi justru dapat menjadi bentuk tanggung jawab dalam menggunakan media sosial.
Kementerian Agama Sulawesi Tengah dalam artikel tentang tabayyun digital juga mengingatkan bahwa potongan video, judul provokatif, dan narasi emosional dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi yang benar.
Ruang digital membutuhkan kecepatan, tetapi kecepatan tidak seharusnya mengalahkan ketelitian. Membiasakan tabayyun membuat seseorang tidak mudah menjadi bagian dari rantai penyebaran hoaks sekaligus membantu menjaga percakapan di media sosial tetap sehat dan bertanggung jawab.