Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian pemerintah di tengah kondisi kekeringan yang meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah wilayah. Pemerintah tidak hanya mengandalkan penanganan teknis di lapangan, tetapi mulai memperkuat pendekatan pencegahan dengan melibatkan kesadaran masyarakat.
Menteri Agama Nasaruddin Umar melihat persoalan karhutla juga perlu disentuh melalui pendekatan keagamaan. Menurutnya, kesadaran menjaga lingkungan akan lebih kuat apabila nilai-nilai agama ikut menjadi bagian dari pesan pencegahan kepada masyarakat.
Gagasan tersebut disampaikan Nasaruddin dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri mengenai layanan kesehatan, pendidikan, dan sosial di wilayah terdampak karhutla yang digelar secara daring oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kamis (13/8/2026).
Karhutla Tidak Cukup Ditangani Setelah Api Muncul
Menurut Nasaruddin, penanganan karhutla tidak seharusnya hanya berorientasi pada pemadaman ketika kebakaran sudah terjadi. Pencegahan harus diperkuat dengan membangun kesadaran masyarakat agar tindakan yang berpotensi merusak lingkungan dapat dihindari sejak awal.
Ia menilai bahasa agama dapat menjadi salah satu cara untuk menyampaikan pesan tersebut. Nilai keimanan, menurutnya, dapat mendorong masyarakat melihat lingkungan bukan sekadar sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan, tetapi sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga.
Pendekatan semacam ini sejalan dengan posisi ekoteologi sebagai salah satu program prioritas Kementerian Agama 2025–2029. Dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 244 Tahun 2025, program ekoteologi ditetapkan sebagai salah satu program prioritas Menteri Agama.
Baca juga: SI JEMPOL Disiapkan Kemenag Kebumen, 250 Izin Operasional Lembaga Jadi Sasaran
Khutbah Didorong Membawa Pesan Perlindungan Lingkungan
Salah satu langkah yang disoroti Menteri Agama adalah pemanfaatan ruang-ruang keagamaan untuk menyampaikan pesan tentang lingkungan. Khutbah di rumah ibadah dinilai dapat menjadi sarana untuk membangun pemahaman masyarakat mengenai dampak perusakan alam.
Untuk wilayah yang sedang menghadapi kekeringan dan risiko karhutla, Kemenag mendorong adanya pesan keagamaan yang lebih terarah. Nasaruddin bahkan menyampaikan perlunya narasi khutbah yang seragam di daerah tertentu agar pesan tentang perlindungan lingkungan dapat diterima masyarakat secara lebih luas.
Pendekatan ini menempatkan tokoh agama dan penyuluh agama sebagai bagian dari upaya pencegahan bencana. Mereka tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan dalam konteks ibadah, tetapi juga dapat ikut membangun kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya.
Penyuluh Agama Diminta Menjangkau Masyarakat hingga Desa
Peran penyuluh agama menjadi perhatian tersendiri dalam gagasan tersebut. Kementerian Agama memiliki jaringan penyuluh yang bekerja hingga tingkat masyarakat sehingga pesan pencegahan dapat disampaikan lebih dekat dengan warga.
Nasaruddin meminta para penyuluh agama ikut mengajak masyarakat yang berada di wilayah terdampak kekeringan untuk menjaga lingkungan sekaligus mengikuti langkah keagamaan yang sesuai dengan kondisi setempat.
Dengan pendekatan ini, pencegahan karhutla tidak hanya dibicarakan di ruang pemerintahan. Pesan tersebut diharapkan sampai ke tingkat desa melalui tokoh agama, rumah ibadah, dan kegiatan keagamaan yang sehari-hari dekat dengan masyarakat.
Baca juga: Kemenag Tegaskan Masjid Istiqlal Tak Akan IPO, Ini Sebenarnya Program Wakaf Saham
Salat Istisqa Dianjurkan di Wilayah yang Mengalami Kekeringan
Selain pesan mengenai perlindungan lingkungan, Menteri Agama juga menganjurkan pelaksanaan salat Istisqa di daerah yang sedang mengalami kekeringan.
Salat Istisqa merupakan salat yang dilakukan untuk memohon hujan kepada Allah SWT. Nasaruddin meminta penyuluh agama ikut mendorong masyarakat terdampak kekeringan untuk melaksanakan ibadah tersebut sesuai tuntunan agama.
Anjuran ini ditempatkan sebagai bagian dari pendekatan spiritual di tengah kondisi kekeringan yang dapat meningkatkan risiko karhutla. Pada saat yang sama, langkah tersebut tidak menggantikan penanganan teknis yang harus dilakukan pemerintah untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan.
Ekoteologi Didorong Menjadi Kesadaran Jangka Panjang
Kementerian Agama tidak ingin pendekatan spiritual terhadap persoalan lingkungan hanya berhenti pada respons ketika bencana terjadi. Program ekoteologi dirancang untuk membangun cara pandang yang lebih panjang mengenai hubungan manusia, agama, dan alam.
Dalam kerangka tersebut, menjaga lingkungan dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan. Konsep ekoteologi sendiri menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan mendorong lahirnya perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap alam.
Kemenag sebelumnya juga telah menempatkan ekoteologi sebagai salah satu program prioritas kementerian untuk periode 2025–2029. Program tersebut dikoordinasikan oleh Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Pendidikan Anak Ikut Disasar melalui Kurikulum Berbasis Cinta
Selain ekoteologi, Nasaruddin menyebut Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai salah satu pendekatan jangka panjang yang dikembangkan Kementerian Agama.
Menurut dia, pendidikan yang menanamkan rasa cinta tidak hanya diarahkan pada hubungan anak dengan orang tua dan keluarga. Nilai tersebut diharapkan berkembang menjadi kepedulian terhadap sesama manusia, termasuk orang dengan latar belakang agama berbeda, serta terhadap alam.
Pendekatan tersebut penting karena perubahan perilaku tidak selalu bisa dibangun melalui larangan atau aturan. Kesadaran menjaga lingkungan perlu ditanamkan sejak dini sehingga kepedulian terhadap alam menjadi bagian dari kebiasaan dan karakter.
Buku dan Materi Lingkungan Disiapkan untuk Pendidikan
Upaya membangun kesadaran lingkungan juga dilakukan melalui bahan bacaan dan materi pendidikan. Nasaruddin menyebut Kementerian Agama telah menerbitkan berbagai buku yang mengangkat pesan kecintaan terhadap lingkungan.
Materi tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari pendidikan yang membentuk cara pandang anak terhadap alam. Dengan begitu, pendidikan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memahami pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan.
Harapannya, perubahan perilaku yang dimulai dari sekolah dapat berkembang menjadi kesadaran bersama dalam jangka panjang. Masyarakat tidak hanya mengetahui bahwa membakar hutan dan lahan berbahaya, tetapi memahami alasan moral dan agama untuk tidak melakukan tindakan tersebut.
Pemerintah Ingin Pencegahan Berjalan dari Hulu
Karhutla memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada kerusakan vegetasi. Kebakaran dapat mengganggu aktivitas masyarakat, memengaruhi kualitas udara, menghambat kegiatan pendidikan, serta menimbulkan persoalan kesehatan dan sosial.
Karena itu, penanganannya membutuhkan kerja lintas sektor. Rakor tingkat menteri yang diikuti Nasaruddin sendiri membahas layanan kesehatan, pendidikan, dan sosial di wilayah yang terdampak karhutla.
Keterlibatan Kemenag memperluas pendekatan tersebut ke wilayah yang berkaitan dengan pembentukan perilaku dan kesadaran masyarakat. Pemerintah tidak hanya memikirkan bagaimana api dipadamkan, tetapi juga bagaimana kebiasaan yang berpotensi memicu kebakaran dapat dicegah.
Tempat Ibadah dan Madrasah Disiapkan untuk Membantu Warga
Kementerian Agama juga menyatakan kesiapan memberikan dukungan langsung ketika masyarakat terdampak karhutla membutuhkan tempat berlindung atau fasilitas sementara.
Unit kerja Kemenag di pusat dan daerah dapat berpartisipasi dalam penanganan dengan menyediakan fasilitas yang tersedia. Tempat ibadah dan aula madrasah menjadi salah satu fasilitas yang dapat dimanfaatkan sebagai posko bagi masyarakat terdampak sesuai kebutuhan di lapangan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa peran Kemenag dalam penanganan bencana tidak hanya berkaitan dengan penyampaian pesan keagamaan. Infrastruktur yang berada di bawah lingkungan Kemenag juga dapat menjadi bagian dari dukungan kemanusiaan ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat.
Pendekatan Agama Melengkapi Penanganan Teknis
Penanganan karhutla tetap membutuhkan langkah teknis seperti pemantauan titik panas, pencegahan pembakaran, kesiapsiagaan petugas, pemadaman, serta koordinasi pemerintah daerah. Pendekatan spiritual yang ditawarkan Kemenag ditempatkan sebagai pelengkap untuk memperkuat sisi pencegahan.
Posisi tersebut penting karena kesadaran masyarakat tidak dapat dibangun hanya melalui penegakan aturan. Ketika pesan mengenai bahaya perusakan lingkungan juga disampaikan melalui nilai agama, pemerintah berharap muncul dorongan moral untuk menjaga alam.
Pada akhirnya, keberhasilan pencegahan karhutla sangat bergantung pada perilaku manusia. Semakin kuat kesadaran untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, semakin besar pula peluang menekan risiko kebakaran yang sebenarnya bisa dicegah.
Ekoteologi Menempatkan Alam sebagai Bagian dari Tanggung Jawab Iman
Gagasan ekoteologi yang didorong Kemenag membawa persoalan lingkungan ke dalam pembicaraan keagamaan. Alam tidak hanya dilihat dari sisi ekonomi atau sumber daya, tetapi juga sebagai bagian dari ciptaan yang memiliki nilai dan harus diperlakukan secara bertanggung jawab.
Kemenag Sumatera Utara, misalnya, dalam policy brief mengenai kampanye ekoteologi menjelaskan bahwa konsep tersebut melihat pelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab iman. Pendekatan itu diarahkan untuk mendorong kepedulian dan tindakan baik secara personal maupun bersama.
Perspektif ini membuat pesan pencegahan karhutla menjadi lebih luas. Menjaga hutan dan lahan bukan hanya soal menghindari sanksi, tetapi juga tentang bagaimana manusia menjalankan tanggung jawabnya terhadap lingkungan.
Tantangan Besarnya Ada pada Perubahan Perilaku
Membangun kesadaran tentu membutuhkan waktu. Khutbah, penyuluhan, pendidikan, dan kampanye lingkungan tidak serta-merta mengubah kebiasaan masyarakat dalam waktu singkat.
Karena itu, konsistensi menjadi bagian penting dari program tersebut. Pesan tentang lingkungan perlu terus disampaikan melalui berbagai ruang, mulai dari sekolah, madrasah, rumah ibadah, hingga kegiatan masyarakat.
Jika dilakukan secara berkelanjutan, Kemenag berharap nilai menjaga alam tidak lagi dipandang sebagai pesan tambahan. Kepedulian terhadap lingkungan diharapkan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.
Kemenag Siap Ikut Menangani Dampak Karhutla
Selain mendorong pencegahan, Kemenag menyatakan kesiapan untuk terlibat ketika karhutla telah berdampak pada masyarakat. Dukungan dapat diberikan melalui unit kerja Kemenag di pusat maupun daerah.
Fasilitas seperti rumah ibadah dan aula madrasah dapat digunakan sebagai tempat pendukung bagi masyarakat yang membutuhkan ketika terjadi kondisi darurat. Pemanfaatannya tentu disesuaikan dengan kebutuhan dan koordinasi di wilayah masing-masing.
Langkah ini memperlihatkan bahwa respons terhadap karhutla membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, masyarakat, tokoh agama, penyuluh, lembaga pendidikan, dan berbagai unsur lainnya memiliki ruang untuk berkontribusi.
Mencegah Karhutla Dimulai dari Kesadaran
Dorongan Menteri Agama untuk menggunakan pendekatan spiritual dalam mencegah karhutla memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar teknis pemadaman api. Kesadaran untuk tidak merusak alam perlu dibangun dari nilai yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Melalui khutbah, peran penyuluh agama, salat Istisqa, Ekoteologi, dan Kurikulum Berbasis Cinta, Kemenag ingin membangun kesadaran tersebut secara bertahap. Program ekoteologi bahkan telah ditetapkan sebagai salah satu prioritas Kemenag untuk periode 2025–2029.
Di tengah ancaman karhutla, pendekatan ini menjadi pengingat bahwa pencegahan tidak selalu dimulai ketika asap sudah terlihat. Upaya yang lebih mendasar justru dimulai dari perubahan cara manusia memandang dan memperlakukan alam.
Jika kesadaran itu tumbuh secara kolektif, menjaga hutan, lahan, dan lingkungan tidak lagi sekadar menjadi kewajiban pemerintah. Masyarakat pun memiliki alasan moral untuk ikut memastikan alam tetap terjaga bagi generasi berikutnya.