Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan yang dibuat hari ini, tetapi juga oleh bagaimana generasi muda dipersiapkan untuk menjalani kehidupan di masa mendatang. Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Agama Romo Syafi’i saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Syarikat Islam (SI) di Jakarta, Selasa, 25 Agustus 2026.
Di tengah acara yang dirangkai dengan pemberian santunan kepada anak yatim, Romo Syafi’i menempatkan perhatian terhadap anak sebagai bagian penting dari pembicaraan mengenai masa depan bangsa. Menurutnya, kualitas kehidupan anak-anak hari ini akan ikut menentukan wajah Indonesia beberapa tahun ke depan.
Masa Depan Indonesia Dimulai dari Anak-anak
Romo Syafi’i mengatakan perhatian kepada anak tidak semestinya berhenti pada pemberian bantuan sesaat. Pendidikan, pembinaan karakter, kesempatan berkembang, serta kemampuan untuk berdiri secara mandiri menjadi bagian yang tidak kalah penting dalam menyiapkan generasi penerus.
“Mau melihat Indonesia masa depan, jawabnya adalah bagaimana kita memperlakukan anak-anak masa kini,” ujar Wamenag, Selasa (25/8/2026).
Pesan tersebut disampaikan dalam suasana peringatan Maulid Nabi yang mempertemukan tokoh organisasi Islam, masyarakat, serta anak-anak yatim. Momentum itu sekaligus memperlihatkan bahwa kepedulian sosial dapat menjadi pintu masuk untuk membangun perhatian yang lebih panjang terhadap masa depan generasi muda.
Romo Syafi’i secara khusus menyebut anak-anak yatim sebagai kelompok yang memiliki potensi besar. Mereka, menurutnya, telah memperoleh pengalaman hidup sejak usia dini sehingga memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang tangguh apabila mendapat pendidikan dan pendampingan yang memadai.
Baca juga: 72 Madrasah Terdampak Gempa Flores, Kemenag Mulai Pulihkan Layanan Pendidikan
Santunan Bukan Sekadar Bantuan Sesaat
Pemberian santunan kepada anak yatim menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Maulid Nabi yang digelar Syarikat Islam. Namun, pesan yang dibawa Wamenag lebih luas daripada kegiatan sosial tersebut.
Perhatian terhadap anak perlu diterjemahkan menjadi pembinaan yang berkelanjutan. Pendidikan yang baik, lingkungan keluarga dan masyarakat yang mendukung, serta kesempatan memperoleh keterampilan dapat menjadi modal penting bagi anak ketika memasuki usia produktif.
Pandangan tersebut memiliki relevansi dengan berbagai upaya pemerintah yang dalam beberapa tahun terakhir menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai bagian penting dari agenda pembangunan. Pendidikan dan penguatan kemampuan ekonomi berjalan beriringan karena kualitas manusia pada akhirnya ikut menentukan kemampuan masyarakat meningkatkan taraf hidupnya.
Syarikat Islam Diingatkan Kembali pada Akar Gerakan Ekonomi
Selain berbicara tentang anak yatim, Romo Syafi’i mengaitkan momentum Maulid Nabi dengan perjalanan panjang Syarikat Islam. Organisasi tersebut memiliki sejarah yang erat dengan gerakan ekonomi masyarakat dan pembentukan kesadaran sosial sejak masa awal pergerakan nasional.
“Sebagai seorang murid sejarah, saya akan mengatakan, tidak lengkap membaca sejarah Indonesia tanpa mengikutsertakan peran dari Syarikat Islam,” ungkapnya.
Syarikat Islam berdiri pada 1905 dan dalam perjalanan sejarahnya dikenal tidak hanya melalui aktivitas keagamaan, tetapi juga melalui gerakan ekonomi, pendidikan, serta perjuangan sosial. Latar belakang tersebut membuat isu kemandirian ekonomi kembali menjadi relevan ketika organisasi tersebut membicarakan arah gerakannya di tengah perubahan ekonomi masyarakat.
Sejumlah kegiatan SI sepanjang 2026 juga memperlihatkan perhatian terhadap pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kapasitas generasi muda. Di Jawa Tengah, misalnya, organisasi tersebut didorong untuk kembali memperkuat ekonomi kerakyatan dan menciptakan lebih banyak ruang bagi pengembangan usaha masyarakat.
Baca juga: Edukator Sebaya Kemenag, Siswa Dilibatkan untuk Cegah Pernikahan Anak
Ekonomi Umat Tidak Bisa Dipisahkan dari Kualitas SDM
Romo Syafi’i melihat penguatan ekonomi dan pembinaan generasi muda sebagai dua agenda yang saling berkaitan. Pembangunan ekonomi membutuhkan manusia yang memiliki keterampilan, karakter, pendidikan, serta kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja.
Konteks itu terlihat dari sejumlah program yang dikembangkan jaringan Syarikat Islam di daerah. Syarikat Islam Kota Bogor, misalnya, pada Juli 2026 membuka program pendidikan Medical Representative secara gratis yang ditujukan untuk menyiapkan generasi muda memasuki dunia kerja melalui pelatihan berbasis keterampilan.
Program semacam itu menunjukkan bahwa gagasan tentang kemandirian ekonomi tidak harus selalu diterjemahkan dalam bentuk bantuan modal. Pendidikan vokasi, pelatihan kerja dan penguatan kompetensi juga dapat menjadi investasi jangka panjang agar generasi muda memiliki kemampuan menghasilkan pendapatan secara mandiri.
Koperasi Desa Menjadi Bagian dari Tantangan Ekonomi Baru
Romo Syafi’i juga menyinggung sejumlah agenda pemerintah seperti swasembada pangan, energi dan air, hilirisasi, industrialisasi hingga pengembangan Koperasi Desa Merah Putih. Berbagai agenda tersebut memiliki satu persoalan yang sama, yakni bagaimana memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar menciptakan manfaat bagi masyarakat di tingkat bawah.
Koperasi Desa Merah Putih sendiri dirancang untuk mengembangkan usaha berdasarkan potensi lokal, meningkatkan pendapatan anggota, menciptakan lapangan kerja dan memperpendek rantai pasok. Regulasi terkait pengembangan koperasi juga menempatkan keterlibatan generasi muda sebagai salah satu bagian penting dalam pengembangan usaha koperasi desa.
Keterlibatan anak muda menjadi penting karena koperasi membutuhkan pengelola yang tidak hanya memahami administrasi, tetapi juga mampu membaca peluang usaha, mengelola teknologi, membangun jaringan pemasaran dan mengembangkan produk sesuai kebutuhan masyarakat.
Di titik inilah perhatian terhadap generasi muda memiliki hubungan langsung dengan agenda ekonomi. Anak-anak yang memperoleh pendidikan dan pembinaan sejak dini memiliki peluang lebih besar untuk menjadi tenaga kerja, pelaku usaha, pengelola koperasi maupun pemimpin masyarakat pada masa mendatang.
Baca juga: Anwar Abbas Dorong Penguatan Sains dan Riset, Pendidikan Islam Diminta Tak Tertinggal
Gerakan Islam Perlu Menjawab Persoalan Generasi Muda
Pesan Wamenag juga membawa tantangan bagi organisasi Islam untuk memperluas bentuk pengabdiannya. Aktivitas keagamaan tetap penting, tetapi pembinaan umat dapat diperkuat melalui pendidikan, keterampilan, kewirausahaan dan pemberdayaan ekonomi.
Syarikat Islam sendiri menempatkan pemberdayaan ekonomi sebagai salah satu bagian dari misi organisasinya. Di Sumatera Barat, misalnya, aktivitas terbaru organisasi tersebut mencakup pemberdayaan ekonomi berbasis lingkungan melalui pengembangan budidaya maggot yang diarahkan menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat.
Perkembangan itu menunjukkan bahwa ekonomi umat dapat dibangun dari berbagai sektor, termasuk usaha kecil dan potensi lokal. Pendekatan semacam ini sekaligus membuka ruang agar generasi muda tidak hanya menjadi penerima program, tetapi ikut menjadi pelaku dalam kegiatan ekonomi masyarakat.
Maulid Nabi Menjadi Ruang Memperkuat Kebersamaan
Romo Syafi’i juga melihat peringatan Maulid Nabi sebagai ruang untuk memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman organisasi Islam. Kehadiran tokoh dari berbagai latar belakang dalam kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa agenda sosial dan pembinaan umat dapat mempertemukan banyak kelompok.
Kebersamaan tersebut dinilai penting karena persoalan generasi muda tidak dapat diselesaikan oleh satu organisasi saja. Pendidikan keluarga, sekolah, organisasi keagamaan, pemerintah dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak.
Maulid kemudian tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang keteladanan Nabi Muhammad SAW. Kegiatan tersebut juga dapat menjadi ruang untuk menerjemahkan nilai kepedulian, kemandirian dan kepedulian sosial ke dalam program yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Tantangan SI Setelah Lebih dari Satu Abad
Lebih dari satu abad setelah berdiri, Syarikat Islam menghadapi tantangan yang berbeda dari masa awal kelahirannya. Persoalan ekonomi masyarakat kini tidak hanya berkaitan dengan akses perdagangan, tetapi juga keterampilan kerja, produktivitas, teknologi, pembiayaan dan kemampuan bersaing.
Karena itu, menghidupkan kembali semangat ekonomi SI tidak cukup hanya dengan mengulang sejarah. Dibutuhkan program konkret yang mampu menghubungkan potensi organisasi dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Sejumlah aktivitas SI pada 2026 memperlihatkan arah tersebut, mulai dari pemberdayaan ekonomi, pendidikan vokasi hingga penguatan kader muda. Perkembangan itu menjadi penting karena organisasi kemasyarakatan memiliki ruang strategis untuk menjembatani kebutuhan masyarakat dengan berbagai peluang pendidikan dan ekonomi yang tersedia.
Romo Syafi’i berharap semangat tersebut terus berkembang setelah peringatan Maulid Nabi selesai. Ia mendorong agar perhatian terhadap ekonomi dan pembinaan generasi muda menjadi bagian yang semakin kuat dalam kiprah Syarikat Islam.
Harapan tersebut sekaligus menempatkan anak-anak bukan sekadar sebagai penerima santunan, melainkan sebagai investasi sosial jangka panjang. Cara masyarakat memperlakukan, mendidik dan memberi kesempatan kepada mereka hari ini akan ikut menentukan seberapa kuat Indonesia menghadapi tantangan di masa depan.