Dari Cirebon, KH Imam Jazuli Siapkan Program untuk Ribuan Pesantren Rintisan

Gerakan penguatan pesantren rintisan mulai diperluas dari Cirebon ke berbagai daerah. KH Imam Jazuli melalui Imam Jazuli Foundation kini menyiapkan rangkaian workshop yang ditujukan bagi pengasuh pesantren kecil maupun pihak yang baru memiliki rencana mendirikan pesantren.

Program tersebut dibuka melalui Workshop Pesantren Rintisan di Ballroom Aston Hotel Cirebon, Jawa Barat, pada Sabtu (21/8/2026). Angkatan pertama diikuti sekitar 1.000 peserta dari Jawa Barat yang disaring dari lebih dari 1.200 pendaftar.

Peserta tidak hanya berasal dari pesantren yang sudah berjalan. Program ini juga menyasar pihak yang memiliki tanah atau fasilitas awal untuk mendirikan pesantren serta lembaga pendidikan umum yang ingin mengintegrasikan sistem sekolah dengan pesantren.

Dari Gerakan 5.000 ke Pesantren Rintisan

Workshop tersebut merupakan kelanjutan dari gerakan transformasi yang sebelumnya menyasar sekitar 5.000 pengasuh pesantren dengan jumlah santri 100 hingga 3.000 orang. Setelah kelompok pesantren yang sudah berkembang mendapat pendampingan, perhatian kini diarahkan kepada lembaga yang masih berada pada tahap awal.

Pesantren Bina Insan Mulia menyebut gerakan baru ini sebagai bagian dari upaya menghadirkan pesantren transformatif yang mampu merespons perubahan dan kebutuhan masyarakat. Sasaran akhirnya bukan sekadar menambah jumlah lembaga, melainkan mendorong lahirnya pesantren baru yang memiliki arah pengembangan lebih jelas.

Target yang dipasang cukup besar, yakni menjangkau hingga 10.000 pengasuh pesantren rintisan di berbagai wilayah Indonesia. Workshop berikutnya direncanakan diperluas melalui jaringan hotel Aston di sejumlah provinsi.

Baca Juga: 42 Ribu Pesantren Butuh Pengelola Profesional, S3 Manajemen Pesantren Resmi Dibuka

Peluang Pesantren Masih Terbuka Lebar

Imam Jazuli melihat ruang pertumbuhan pesantren masih sangat besar. Dalam materi workshop, ia menggunakan data jumlah penduduk usia sekolah dan jumlah peserta didik yang masuk pesantren sebagai gambaran bahwa pasar pendidikan tersebut belum sepenuhnya tergarap.

Data yang dipaparkan dalam program menyebut sekitar 54 juta anak usia sekolah, sementara peserta didik yang menempuh pendidikan pesantren berada di kisaran 2,7 juta atau sekitar 4 persen. Angka tersebut diposisikan sebagai peluang sekaligus tantangan bagi pesantren untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat.

“Pembangunan Indonesia membutuhkan manusia yang berakhlak. Tidak cukup hanya manusia yang kompeten. Ini tantangan bagi pesantren untuk melahirkan manusia yang dibutuhkan pembangunan. Jangan sampai para kiai mendoktrin semua santrinya untuk berdakwah di bidang yang sempit, seperti selama ini,” jelasnya dalam keterangan tertulis.

Persaingan yang dihadapi pesantren, menurut Imam Jazuli, tidak hanya datang dari lembaga pesantren lain. Sekolah umum juga menjadi pilihan keluarga ketika menentukan pendidikan anak, sehingga pesantren perlu memiliki keunggulan yang dapat dipahami masyarakat.

Pengasuh Diminta Tidak Takut Berubah

Pengembangan pesantren rintisan tidak cukup hanya mengandalkan tradisi dan reputasi keagamaan. Lembaga pendidikan perlu membaca perubahan perilaku keluarga, kebutuhan anak, serta kompetensi yang dibutuhkan ketika santri memasuki dunia yang lebih luas.

“Tidak berubah berarti kematian. Banyak korporasi dan institusi yang dulunya besar dan jaya kini redup dan melayang. Mereka bukan tidak hebat, tetapi mereka gagal merespons perubahan zaman dengan cepat. Ini juga bisa terjadi di lembaga pendidikan, seperti pesantren,” tegasnya.

Gagasan tersebut menjadi salah satu alasan workshop tidak hanya membahas pendirian pesantren secara administratif. Peserta juga dibekali perspektif mengenai pengembangan lembaga, orientasi pendidikan, kualitas pengelolaan, hingga cara membangun kepercayaan publik.

Pengalaman Imam Jazuli membangun Pesantren Bina Insan Mulia sejak 2013 menjadi salah satu dasar materi yang dibagikan kepada peserta. Situs resmi program menyebut pengembangan pesantren tersebut kemudian melahirkan Bina Insan Mulia 1 hingga 5 dan menjadi rujukan pengalaman bagi gerakan pesantren rintisan.

Baca juga: Syarat Mendirikan Pondok Pesantren agar Terdaftar di Kemenag 2026

Pendidikan Pesantren Mulai Bergeser Mengikuti Kebutuhan Orang Tua

Perubahan orientasi pendidikan menjadi persoalan lain yang mendapat perhatian dalam workshop. Kebutuhan keluarga saat ini tidak berhenti pada pendidikan agama, tetapi juga menyangkut kemampuan akademik, keterampilan, karakter, dan prospek masa depan anak.

“Karena itu, orientasi pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan zaman,” ujarnya.

Pandangan tersebut membawa pesan bahwa pesantren rintisan perlu sejak awal menentukan identitas pendidikan yang ingin dibangun. Kejelasan tersebut akan berpengaruh pada kurikulum, fasilitas, pola pengasuhan, hingga cara lembaga memperkenalkan dirinya kepada masyarakat.

Anak Menjadi Bagian Penting dalam Perubahan Pesantren

Perspektif mengenai santri juga ikut bergeser. Pesantren tidak lagi cukup hanya menawarkan lingkungan yang aman, tetapi perlu menciptakan ruang pendidikan yang membuat anak merasa nyaman untuk belajar dan berkembang.

“Kini, anak-anaklah yang memilih pesantren, tidak seperti dulu. Ramah anak bukan sebatas aman dari kekerasan, tapi pesantren harus menjadi taman yang membuat anak-anak senang untuk tumbuh dan berkembang. Pesantren bukan lagi penjara suci,” ungkapnya.

Perubahan cara pandang tersebut menarik karena menyentuh persoalan yang lebih luas daripada sekadar promosi pesantren. Ketika calon santri dan orang tua memiliki semakin banyak pilihan, pengalaman belajar dan lingkungan pendidikan menjadi bagian dari pertimbangan dalam memilih lembaga.

Branding Pesantren Tidak Lagi Bisa Diabaikan

Workshop juga menghadirkan praktisi branding Gus Ipang Wahid untuk membahas bagaimana pesantren membangun komunikasi dengan masyarakat. Materi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengelola reputasi kini mulai dipandang sebagai bagian dari pengelolaan lembaga pendidikan.

“Tak kenal maka akan terpental. Dari komunikasi lahir persepsi dan dari persepsi lahir reputasi,” ungkap Gus Ipang.

Pesantren rintisan yang baru berdiri tentu belum memiliki sejarah panjang atau ribuan alumni sebagai modal reputasi. Kondisi tersebut membuat komunikasi mengenai program, keunggulan, kegiatan santri, dan karakter lembaga menjadi semakin penting.

Gus Ipang juga mendorong pesantren menampilkan cerita yang autentik melalui komunikasi yang konsisten. Pendekatan tersebut dapat membantu calon santri dan orang tua memahami keunikan sebuah pesantren tanpa harus membangun citra yang dibuat-buat.

Peserta Mendapat Bekal Pengelolaan Pesantren

Workshop tidak berhenti pada diskusi mengenai gagasan pendidikan. Peserta juga memperoleh sejumlah dokumen yang dapat digunakan sebagai referensi ketika mulai membangun atau mengembangkan lembaga.

Materi yang diberikan mencakup template proposal lembaga, dokumen Quality Management Standard (QMS), majalah elektronik mengenai portofolio Pesantren Bina Insan Mulia, serta buku karya KH Imam Jazuli berjudul Terobosan Pesantren Memimpin Perubahan. Peserta juga memperoleh ijazah Dalailul Khairat.

Pemberian perangkat tersebut memperlihatkan arah program yang tidak hanya bersifat motivasional. Pengasuh pesantren rintisan diarahkan memperoleh gambaran praktis mengenai bagaimana lembaga dapat mulai dibangun dan kemudian dikembangkan secara lebih terstruktur.

Gelombang Berikutnya Menyasar Lebih Banyak Daerah

Setelah pelaksanaan di Cirebon, program akan dilanjutkan dengan workshop berikutnya di wilayah Jombang dan Mojokerto. Panitia menyatakan target 1.000 peserta untuk gelombang tersebut diharapkan tercapai berdasarkan jumlah pendaftar yang telah masuk.

Program kemudian direncanakan bergerak ke provinsi-provinsi lain. Situs resmi Workshop Pesantren Rintisan menyebut kegiatan tersebut akan memanfaatkan jaringan hotel Aston di berbagai provinsi, dengan pembukaan di Jawa Barat sebagai tahap awal.

Bagi pesantren yang masih memiliki sedikit santri, pendekatan semacam ini menawarkan persoalan sekaligus peluang. Tantangannya adalah bagaimana membangun lembaga yang dipercaya masyarakat, sementara peluangnya terbuka karena jumlah peserta didik yang memilih pendidikan pesantren masih relatif kecil dibandingkan keseluruhan populasi usia sekolah.

Gerakan Imam Jazuli pada akhirnya menempatkan pesantren rintisan sebagai bagian penting dari peta transformasi pendidikan. Jika pendampingan tersebut dapat diteruskan secara konsisten, tantangan berikutnya bukan hanya melahirkan banyak pesantren baru, tetapi memastikan lembaga-lembaga tersebut memiliki kualitas pendidikan, tata kelola, dan karakter yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Sangat senang dapat berbagi info di kemenagpasangkayu.id ini, sebagai seorang pemuda yang masih kuliah, menulis bisa menjadi sumber pengetahuan baru.

Leave a Comment