Sambut Maulid Nabi 1448 H, Kemenag Ajak 1,78 Juta Umat Berselawat

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini tidak hanya diisi dengan kegiatan keagamaan di masjid, pesantren maupun majelis taklim. Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan gerakan Gema Selawat Kebangsaan dengan target partisipasi mencapai 1.781.945 umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia.

Angka tersebut sengaja dipilih bukan sekadar untuk menunjukkan besarnya jumlah peserta. Kemenag mengaitkannya dengan 17 Agustus 1945 sebagai simbol kemerdekaan Indonesia, sehingga selawat dalam rangkaian Maulid Nabi juga membawa pesan tentang persatuan dan kecintaan terhadap Tanah Air.

Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H sendiri diperingati pada Selasa, 25 Agustus 2026 atau bertepatan dengan 12 Rabiul Awal. Tanggal tersebut juga ditetapkan sebagai hari libur nasional dalam kalender pemerintah 2026.

Baca juga: Memahami Makna Maulid Nabi Muhammad SAW, dari Syukur hingga Kecintaan kepada Rasulullah

Gema Selawat Kebangsaan Jadi Bagian Blissful Mawlid

Gema Selawat Kebangsaan merupakan bagian dari rangkaian Blissful Mawlid 1448 H yang disiapkan Kemenag untuk menyambut Rabiulawal. Gerakan tersebut dirancang agar selawat tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi sarana menghidupkan keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan masyarakat.

Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag Muchlis M. Hanafi mengatakan Rabiulawal memiliki momentum penting untuk memperkuat hubungan umat dengan Rasulullah SAW.

“Rabiulawal adalah momentum untuk memperbanyak selawat dan memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw. Tetapi cinta tidak cukup berhenti pada lantunan selawat. Cinta harus berlanjut menjadi keteladanan dengan menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan: kasih sayang, persaudaraan, kepedulian, dan kecintaan kepada tanah air,” ujar Muchlis di Jakarta, Minggu (23/8/2026).

Pesan tersebut menjadi salah satu garis besar rangkaian kegiatan tahun ini. Kecintaan kepada Nabi tidak hanya diterjemahkan melalui bacaan selawat, tetapi juga melalui perilaku sosial yang mencerminkan kasih sayang, kepedulian dan persaudaraan.

Baca juga: Maulid Nabi 1448 H, Menag Nasaruddin Umar Ingatkan Kemajuan Tak Cukup, Tanpa Akhlak

Mengapa Jumlahnya 1.781.945 Peserta?

Target 1.781.945 peserta memiliki makna khusus karena angka tersebut merepresentasikan 17 Agustus 1945. Tanggal tersebut merupakan momentum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tahun ini kembali diperingati tidak jauh dari waktu pelaksanaan Maulid Nabi.

Penggabungan simbol kemerdekaan dengan kegiatan keagamaan membuat gerakan ini memiliki pesan kebangsaan yang cukup kuat. Kemenag ingin menunjukkan bahwa nilai spiritual dan kehidupan berbangsa dapat berjalan beriringan.

Pesan tersebut juga relevan dengan kondisi masyarakat yang membutuhkan ruang untuk memperkuat persaudaraan. Selawat dalam konteks ini ditempatkan bukan hanya sebagai amalan personal, tetapi juga sebagai sarana membangun suasana sosial yang lebih damai.

Selawat Tidak Berhenti pada Lantunan

Kemenag menekankan bahwa kegiatan Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti ketika rangkaian acara selesai. Nilai yang lebih penting justru terletak pada bagaimana kecintaan kepada Rasulullah diterjemahkan dalam perilaku sehari-hari.

Keteladanan Nabi Muhammad SAW dapat dilihat dari cara beliau memperlakukan keluarga, tetangga, sahabat, masyarakat hingga kelompok yang berbeda. Sikap tersebut menjadi bagian penting dari pesan Maulid ketika masyarakat menghadapi berbagai persoalan sosial.

Gagasan itu membuat kegiatan selawat memiliki dimensi yang lebih luas. Bacaan selawat menjadi bentuk kecintaan kepada Rasulullah, sedangkan akhlak beliau menjadi pedoman yang dapat diterapkan setelah kegiatan keagamaan berakhir.

Pembacaan Dalā’il al-Khayrāt Dilakukan Selama Sepekan

Rangkaian Blissful Mawlid 1448 H juga menghadirkan pembacaan Dalā’il al-Khayrāt, kitab yang berisi kumpulan selawat kepada Nabi Muhammad SAW dan telah lama dikenal dalam tradisi keislaman di berbagai wilayah.

Pembacaan tersebut direncanakan berlangsung secara bertahap selama satu pekan dengan mengikuti pembagian hizib dalam kitab. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara berjamaah melalui masjid, majelis taklim, pesantren, lembaga pendidikan dan komunitas keagamaan maupun secara mandiri.

Pilihan kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa rangkaian Maulid tahun ini tidak hanya berpusat pada satu acara besar. Masyarakat diberi ruang untuk ikut serta melalui lingkungan keagamaan masing-masing.

Kegiatan Maulid Bisa Diisi dari Lingkungan Terdekat

Peringatan Maulid Nabi di Indonesia selama ini memiliki bentuk yang beragam. Selain pembacaan selawat dan maulid, masyarakat juga biasa menggelar pengajian, tablig akbar, pembacaan sirah Nabi, santunan, sedekah serta kegiatan berbagi makanan.

Kegiatan sederhana di lingkungan keluarga atau masyarakat juga memiliki nilai yang sama ketika diarahkan untuk mengenal dan meneladani Rasulullah SAW. Semangat tersebut membuat peringatan Maulid tidak harus selalu identik dengan acara besar dan jumlah peserta yang banyak.

Momentum Rabiulawal dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an, berselawat, menghadiri majelis ilmu maupun membantu orang yang membutuhkan. Bentuk kegiatannya dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.

Ada Pesan Kepedulian untuk Masyarakat Terdampak Bencana

Rangkaian selawat yang disiapkan Kemenag juga membawa pesan kepedulian sosial. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi ikhtiar spiritual untuk masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan, termasuk mereka yang terdampak bencana.

Pesan ini memperluas makna peringatan Maulid Nabi dari sekadar mengenang kelahiran Rasulullah menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap sesama. Nilai kepedulian sendiri merupakan bagian penting dari keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Pendekatan semacam ini membuat kegiatan keagamaan memiliki hubungan langsung dengan kehidupan masyarakat. Selawat menjadi pengingat spiritual, sementara kepedulian terhadap orang lain menjadi bentuk nyata dari nilai yang dibawa dalam peringatan tersebut.

Peluncuran Blissful Mawlid Dijadwalkan 26 Agustus

Rangkaian Blissful Mawlid 1448 H dan Gema Selawat Kebangsaan dijadwalkan diluncurkan pada 26 Agustus 2026. Peluncuran itu menjadi penanda dimulainya gerakan nasional yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dalam menyemarakkan Rabiulawal.

Momentum peluncuran tersebut berlangsung sehari setelah peringatan Maulid Nabi 1448 H pada 25 Agustus. Artinya, rangkaian kegiatan tidak berhenti tepat pada hari Maulid, tetapi berlanjut dengan berbagai aktivitas yang dirancang sepanjang Rabiulawal.

Kemenag mengarahkan kegiatan tersebut pada tiga pesan besar, yakni memperbanyak selawat, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah dan menghadirkan keteladanan Nabi dalam kehidupan bermasyarakat.

Maulid Nabi 2026 dan Pesan untuk Kehidupan Sehari-hari

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H berlangsung dalam suasana yang juga masih dekat dengan peringatan kemerdekaan Indonesia. Kemenag kemudian menjadikan kedekatan dua momentum tersebut sebagai ruang untuk menghubungkan kecintaan kepada Rasulullah dengan persatuan dan kepedulian terhadap bangsa.

Target 1.781.945 peserta menjadi simbol dari pesan tersebut. Jumlah itu mengingatkan pada sejarah kemerdekaan, sementara kegiatan selawat diarahkan untuk memperkuat nilai persaudaraan dan akhlak dalam kehidupan masyarakat.

Bagi umat Islam, Maulid Nabi pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa meriah sebuah peringatan digelar. Lebih dari itu, Rabiulawal dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak selawat, mengenal perjalanan Rasulullah SAW dan membawa nilai kasih sayang, persaudaraan serta kepedulian ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sangat senang dapat berbagi info di kemenagpasangkayu.id ini, sebagai seorang pemuda yang masih kuliah, menulis bisa menjadi sumber pengetahuan baru.

Leave a Comment