Kurikulum Berbasis Cinta Mulai Diterapkan di Madrasah, Ini Tujuan dan Konsepnya

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) mulai menjadi bagian penting dalam penerapan kebijakan pendidikan madrasah. Kebijakan ini tidak muncul sebagai kurikulum baru yang menggantikan seluruh kurikulum sebelumnya, melainkan sebagai pendekatan dan ruh pendidikan yang menempatkan kasih sayang, empati, penghargaan terhadap sesama, serta nilai spiritual dalam proses pembelajaran.

Penerapannya semakin mendapat perhatian setelah Kementerian Agama menerbitkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2025 sebagai perubahan atas KMA Nomor 450 Tahun 2024 tentang pedoman implementasi kurikulum pada RA, MI, MTs, MA, dan MAK. KMA tersebut berstatus berlaku dan menjadi salah satu dasar penguatan arah kurikulum madrasah.

Bagi guru, kepala madrasah, peserta didik, maupun orang tua, perubahan ini penting dipahami karena penerapan KBC tidak berhenti pada penambahan materi di kelas. Nilai cinta diharapkan terlihat dalam cara guru mengajar, cara peserta didik berinteraksi, kegiatan madrasah, pembiasaan sehari-hari, hingga cara sekolah membangun lingkungan yang aman dan menghargai setiap anak.

Kurikulum Berbasis Cinta Bukan Kurikulum Baru Pengganti Kurikulum Lama

Kurikulum Berbasis Cinta sering kali dipahami sebagai kurikulum baru yang memiliki struktur mata pelajaran tersendiri. Pemahaman tersebut kurang tepat karena KBC lebih ditekankan sebagai orientasi nilai yang menjiwai proses pendidikan di madrasah.

Kementerian Agama menjelaskan bahwa KBC bukan sekadar dokumen pembelajaran, silabus, atau perangkat administrasi baru. Konsep ini ditempatkan sebagai pandangan dan nilai dasar yang dihidupkan dalam seluruh proses pendidikan, sehingga nilai cinta tidak hanya diketahui peserta didik tetapi juga dirasakan melalui pengalaman belajar.

Pandangan tersebut membuat penerapan KBC tidak harus selalu berbentuk pelajaran khusus. Guru matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Pendidikan Agama Islam, maupun guru mata pelajaran lainnya dapat memasukkan nilai cinta sesuai konteks materi dan kegiatan pembelajaran.

Baca juga: Cara Mengajukan Bantuan Sarana Prasarana Madrasah Melalui Aplikasi SIMSARPRAS

Dasar Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah

Penerapan KBC memiliki landasan kebijakan yang cukup jelas. Salah satu dokumen utama yang menjadi rujukan adalah Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah. Panduan tersebut ditetapkan sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran bagi madrasah yang diselenggarakan pemerintah maupun masyarakat.

KBC kemudian semakin terintegrasi dalam kebijakan kurikulum madrasah melalui KMA Nomor 1503 Tahun 2025. Regulasi tersebut ditetapkan pada 22 September 2025 dan merupakan perubahan atas KMA Nomor 450 Tahun 2024.

Penguatan kebijakan ini terlihat dari berbagai kegiatan sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan implementasi KBC di madrasah sepanjang 2026. Sejumlah madrasah juga mulai mengadakan bimtek untuk membantu guru menyesuaikan perangkat pembelajaran dengan pendekatan tersebut.

Lima Panca Cinta Menjadi Fondasi Utama

Konsep KBC memiliki lima fokus utama yang dikenal sebagai Panca Cinta. Kelima nilai ini menjadi dasar untuk mengarahkan pendidikan madrasah agar tidak hanya menghasilkan peserta didik dengan kemampuan akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian.

Berikut lima nilai yang menjadi fondasi tersebut.

1. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya

Nilai pertama menempatkan hubungan spiritual sebagai fondasi pendidikan. Peserta didik diarahkan untuk mengenal, memahami, dan menghayati ajaran agama sekaligus meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Penerapannya tidak harus selalu berupa hafalan materi keagamaan. Guru dapat menghubungkan pembelajaran dengan rasa syukur, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepedulian terhadap makhluk hidup, serta kebiasaan baik lainnya.

Pendekatan ini juga berkaitan dengan upaya memperkuat sisi penghayatan dalam pendidikan agama. Kemenag menilai aspek penghayatan penting karena pendidikan tidak cukup hanya membuat peserta didik mengetahui ajaran agama, tetapi juga mendorong mereka merasakan dan mengamalkannya.

2. Cinta kepada Ilmu

Cinta kepada ilmu diarahkan untuk membangun rasa ingin tahu dan kebiasaan belajar. Peserta didik tidak hanya didorong mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga memahami alasan mengapa pengetahuan penting bagi kehidupan.

Guru dapat menumbuhkan nilai ini melalui kegiatan bertanya, berdiskusi, membaca, melakukan percobaan, mengamati lingkungan, mengerjakan proyek, hingga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan jawaban sendiri.

Pendekatan tersebut membuat kegiatan belajar tidak sekadar berorientasi pada hasil ujian. Rasa ingin tahu dan kegembiraan ketika menemukan sesuatu menjadi bagian penting dari pengalaman belajar.

3. Cinta kepada Diri dan Sesama

Pilar ini berkaitan dengan kemampuan peserta didik menghargai diri sendiri sekaligus memperlakukan orang lain dengan baik. Empati, toleransi, kepedulian, saling menghormati, dan kemampuan bekerja sama menjadi nilai yang perlu dibangun di lingkungan madrasah.

Penerapannya dapat terlihat dari hal-hal sederhana. Misalnya, guru memberikan ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan pendapat tanpa takut direndahkan, membiasakan kerja kelompok yang sehat, serta menangani perbedaan antarsiswa dengan pendekatan yang mendidik.

Lingkungan madrasah juga diharapkan mampu menjadi tempat yang aman bagi peserta didik. Karena itu, nilai cinta berkaitan erat dengan pembentukan budaya yang mencegah perundungan, kekerasan, diskriminasi, dan perilaku yang merendahkan orang lain.

4. Cinta kepada Lingkungan

Kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari pendidikan karakter dalam KBC. Peserta didik diajak memahami bahwa menjaga kebersihan, merawat tanaman, mengurangi sampah, menghemat air, dan memperlakukan makhluk hidup dengan baik bukan sekadar kegiatan tambahan.

Nilai tersebut dapat diterapkan melalui kegiatan nyata di madrasah. Program kebersihan kelas, penghijauan, pemilahan sampah, perawatan taman, atau kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sekitar dapat menjadi pengalaman langsung bagi peserta didik.

Pendekatan ini membuat konsep cinta tidak berhenti sebagai istilah. Peserta didik memiliki kesempatan melihat hubungan antara pengetahuan yang dipelajari dengan tindakan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

5. Cinta kepada Tanah Air

Cinta tanah air diarahkan untuk membangun kesadaran kebangsaan, menghargai keberagaman, serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Madrasah memiliki ruang yang luas untuk menerapkannya melalui pembelajaran maupun kegiatan bersama.

Penghargaan terhadap perbedaan budaya, bahasa, latar belakang, dan kebiasaan dapat menjadi bagian dari pendidikan. Peserta didik juga dapat diajak memahami bahwa menjadi bagian dari Indonesia berarti memiliki tanggung jawab menjaga persatuan dan kehidupan bersama.

Lima Panca Cinta tersebut menjadi sarana internalisasi nilai dalam kehidupan madrasah, bukan sekadar daftar materi yang harus dihafalkan peserta didik.

Baca juga: 100 Guru PAI SMP di Jawa Tengah Ikuti Tes Metode Qiroati untuk Perkuat Pembelajaran Al-Qur’an

Tujuan Utama Kurikulum Berbasis Cinta

KBC diarahkan untuk menghasilkan peserta didik yang berkembang secara lebih utuh. Kementerian Agama menyebut tujuan pendidikan berbasis cinta berkaitan dengan pembentukan manusia yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan menjadikan cinta sebagai prinsip dalam kehidupan.

Menteri Agama Nasaruddin Umar juga menegaskan bahwa target KBC adalah membentuk peserta didik yang memiliki kultur sebagai pencinta, bukan pembenci. Menurutnya, tujuan tersebut membutuhkan cara dan metodologi pendidikan yang dapat menanamkan nilai secara nyata.

Secara sederhana, beberapa tujuan yang ingin dicapai melalui KBC antara lain:

  • membentuk karakter peserta didik yang berakhlak;
  • memperkuat empati dan kepedulian sosial;
  • membangun sikap toleran terhadap perbedaan;
  • menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu;
  • memperkuat kepedulian terhadap lingkungan;
  • membangun rasa cinta terhadap bangsa dan negara;
  • menciptakan suasana belajar yang lebih manusiawi;
  • mengembangkan peserta didik secara intelektual, spiritual, emosional, dan sosial.

Penerapan KBC Tidak Berarti Guru Harus Menambah Mata Pelajaran

Salah satu pertanyaan yang mungkin muncul adalah apakah KBC membuat peserta didik harus mempelajari mata pelajaran baru. Jawabannya, penerapan KBC lebih diarahkan pada integrasi nilai dalam pembelajaran dan budaya madrasah.

Guru tidak harus membuat satu jam pelajaran khusus hanya untuk membahas cinta. Nilai tersebut dapat dimasukkan ke dalam tujuan pembelajaran, aktivitas peserta didik, interaksi di kelas, kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, hingga budaya madrasah.

Misalnya, pembelajaran IPA dapat dikaitkan dengan cinta lingkungan. Pelajaran Bahasa Indonesia dapat digunakan untuk melatih peserta didik memahami sudut pandang orang lain. Pembelajaran sejarah dapat memperkuat cinta tanah air, sedangkan pembelajaran agama dapat memperdalam cinta kepada Allah dan Rasul.

Dengan cara tersebut, KBC justru dapat membuat pembelajaran lebih kontekstual karena nilai yang dipelajari memiliki hubungan langsung dengan kehidupan.

Cara Guru Menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta di Kelas

Penerapan KBC dapat dimulai dari perubahan kecil dalam proses pembelajaran. Guru tidak perlu menunggu program besar atau kegiatan khusus untuk mulai menerapkan nilai-nilai tersebut.

Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Mulai dari tujuan pembelajaran.
    Selain menentukan kemampuan akademik yang ingin dicapai, guru dapat menetapkan nilai karakter yang ingin dibangun melalui pembelajaran.
  2. Gunakan bahasa yang menghargai peserta didik.
    Koreksi kesalahan tanpa mempermalukan. Teguran tetap dapat diberikan, tetapi diarahkan untuk memperbaiki perilaku, bukan menjatuhkan harga diri.
  3. Berikan ruang untuk bertanya dan berpendapat.
    Peserta didik perlu merasa aman ketika menyampaikan pertanyaan, termasuk ketika jawabannya belum tepat.
  4. Hubungkan materi dengan kehidupan nyata.
    Materi pembelajaran akan lebih bermakna ketika peserta didik mengetahui manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Bangun kerja sama antarpeserta didik.
    Tugas kelompok dapat digunakan untuk melatih komunikasi, tanggung jawab, kepedulian, dan kemampuan menghargai perbedaan.
  6. Masukkan kegiatan refleksi.
    Setelah pembelajaran, peserta didik dapat diajak melihat bukan hanya apa yang dipelajari, tetapi juga sikap atau pengalaman apa yang mereka dapatkan.
  7. Guru menjadi contoh utama.
    Nilai cinta sulit tumbuh jika hanya disampaikan melalui teori. Sikap guru ketika menghadapi kesalahan, perbedaan pendapat, atau masalah siswa menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

Pendekatan seperti ini sejalan dengan penjelasan Kemenag bahwa KBC lebih menekankan proses pendidikan, penguatan kecerdasan emosional, dan penanaman nilai melalui pembiasaan.

Baca juga: Daftar Dokumen yang Harus Diunggah Saat Validasi EMIS Madrasah Semester Ganjil 2026

Penerapan KBC Tidak Berhenti di Dalam Kelas

Kurikulum Berbasis Cinta memiliki cakupan yang lebih luas daripada hubungan guru dan siswa ketika pelajaran berlangsung. Nilai yang ditanamkan akan lebih kuat jika suasana seluruh madrasah mendukung prinsip yang sama.

Karena itu, penerapan KBC dapat terlihat pada kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan budaya atau iklim madrasah. Sejumlah kegiatan implementasi pada 2026 bahkan secara khusus membahas integrasi KBC dalam kegiatan kokurikuler dan budaya madrasah.

Contohnya dapat berupa pembiasaan menjaga kebersihan, kegiatan sosial, kerja sama antarkelas, kegiatan keagamaan, penghijauan, penghormatan terhadap warga madrasah, hingga kegiatan yang memperkuat persatuan.

Artinya, keberhasilan KBC tidak hanya dapat dilihat dari dokumen administrasi guru. Perubahan suasana madrasah dan perilaku peserta didik justru menjadi bagian penting dari penerapannya.

Peran Kepala Madrasah dan Guru Menjadi Sangat Penting

KBC membutuhkan keterlibatan seluruh warga madrasah. Kepala madrasah memiliki posisi penting untuk memastikan kebijakan tersebut tidak berhenti sebagai slogan, sementara guru menjadi pihak yang berhadapan langsung dengan peserta didik setiap hari.

Kepala madrasah dapat memastikan pemahaman guru dan tenaga kependidikan melalui sosialisasi, pelatihan, diskusi, serta pendampingan. Pengawas madrasah juga memiliki peran dalam memberikan bimbingan, melakukan monitoring, mengevaluasi pelaksanaan, dan mendorong munculnya praktik baik.

Guru sendiri bukan hanya penyampai materi. Dalam pendekatan KBC, guru menjadi contoh bagaimana menghargai orang lain, menyelesaikan konflik, menerima perbedaan, mencintai ilmu, dan menjaga lingkungan.

Karena itu, penerapan KBC membutuhkan konsistensi. Sulit membangun budaya saling menghargai jika nilai tersebut hanya muncul ketika ada kegiatan khusus, tetapi tidak terlihat dalam keseharian warga madrasah.

Penilaian Tidak Hanya Dilihat dari Angka

Salah satu perubahan cara pandang yang penting adalah melihat perkembangan peserta didik secara lebih menyeluruh. Nilai akademik tetap penting, tetapi pendidikan juga memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan sikap, karakter, kepedulian, dan kemampuan sosial.

KBC mendorong pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik menghayati nilai, bukan sekadar mengetahui definisinya. Kemenag juga menyoroti pentingnya dimensi penghayatan karena pengetahuan keagamaan perlu terhubung dengan pengalaman dan pengamalan.

Karena itu, kegiatan refleksi, pengamatan perilaku, kerja kelompok, proyek, dan pengalaman nyata dapat membantu guru melihat perkembangan peserta didik secara lebih utuh. Penilaian sebaiknya menjadi sarana memberikan umpan balik dan membantu siswa berkembang, bukan semata-mata menjadi sumber tekanan.

Tantangan Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah

Penerapan konsep baru tentu membutuhkan penyesuaian. Tantangan pertama adalah memastikan seluruh guru memiliki pemahaman yang sama tentang KBC sehingga penerapannya tidak berbeda terlalu jauh antar kelas.

Tantangan lainnya adalah menjaga agar KBC tidak berubah menjadi tambahan administrasi. Jika guru hanya menambahkan kata “cinta” dalam modul ajar tanpa perubahan dalam kegiatan pembelajaran, tujuan kebijakan tersebut tentu sulit tercapai.

Kementerian Agama juga telah melakukan pendampingan untuk memperkuat pemahaman kepala madrasah, guru, dan tenaga kependidikan mengenai filosofi, prinsip, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan, serta evaluasi KBC.

Perspektif yang Sering Terlewat: Cinta Harus Terlihat dari Cara Madrasah Memperlakukan Siswa

Hal yang menarik dari konsep KBC adalah keberhasilannya tidak selalu terlihat dari banyaknya program yang dibuat madrasah. Ukuran yang lebih mendasar justru dapat dilihat dari pengalaman peserta didik ketika berada di lingkungan madrasah.

Seorang siswa mungkin dapat menghafal lima Panca Cinta, tetapi penerapan KBC belum sepenuhnya terasa jika siswa masih takut bertanya, takut melakukan kesalahan, sering dipermalukan, atau merasa pendapatnya tidak dihargai.

Sebaliknya, suasana kelas yang membuat peserta didik berani bertanya, guru mampu memberikan koreksi dengan cara yang mendidik, siswa terbiasa membantu teman, dan warga madrasah menjaga kebersihan bersama merupakan contoh sederhana bahwa nilai KBC mulai hidup.

Perspektif ini penting karena KBC pada dasarnya bukan hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana pendidikan itu dialami oleh peserta didik. Inilah alasan Kemenag menekankan bahwa cinta perlu dirasakan melalui pengalaman, bukan sekadar dipelajari sebagai pengetahuan.

Hubungan KBC dengan Pembelajaran Mendalam

Penerapan KBC juga berjalan bersamaan dengan penguatan pembelajaran mendalam dalam kebijakan kurikulum madrasah. KMA Nomor 1503 Tahun 2025 menjadi salah satu dasar kebijakan yang menekankan kedua arah tersebut dalam implementasi kurikulum madrasah.

Keduanya dapat saling melengkapi. Pembelajaran mendalam mendorong peserta didik memahami materi secara lebih bermakna, sedangkan KBC memberikan penekanan pada nilai, hubungan kemanusiaan, spiritualitas, dan pengalaman belajar.

Guru dapat menggabungkannya melalui pembelajaran berbasis masalah, proyek, diskusi, penelitian sederhana, kegiatan reflektif, dan pengalaman langsung. Materi tidak hanya berhenti pada pertanyaan “apa”, tetapi dapat dilanjutkan dengan “mengapa”, “bagaimana”, dan “apa dampaknya bagi orang lain atau lingkungan”.

KBC Mulai Terlihat dalam Praktik Madrasah

Penerapan KBC bukan lagi sekadar wacana kebijakan. Berbagai madrasah di sejumlah daerah telah melakukan sosialisasi, workshop, bimtek, IHT, pendampingan, bahkan mulai mengintegrasikannya ke dalam kegiatan pembelajaran.

Di Sulawesi Tengah, misalnya, pendampingan implementasi KBC pada 2026 dilakukan untuk memastikan kepala madrasah, guru, dan tenaga kependidikan memahami konsep sekaligus mampu merencanakan pembelajaran berbasis KBC. Pendampingan tersebut juga diarahkan pada penguatan budaya madrasah yang berlandaskan nilai cinta.

Di daerah lain, kegiatan implementasi juga mulai menyentuh pembelajaran kokurikuler serta budaya madrasah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penerapan KBC bergerak dari tahap pengenalan menuju praktik di satuan pendidikan.

Baca juga: Syarat Terbaru Pengajuan NUPTK Lewat Verval PTK Tahun 2026, Dokumen yang Wajib Disiapkan Guru

Dokumen Resmi yang Perlu Diketahui Guru dan Madrasah

Guru dan pengelola madrasah yang ingin memahami kebijakan ini secara lebih lengkap sebaiknya mengacu pada dokumen resmi, bukan hanya rangkuman dari media sosial atau informasi yang beredar di grup percakapan.

Beberapa dokumen yang relevan antara lain:

  • KMA Nomor 1503 Tahun 2025, sebagai perubahan atas KMA Nomor 450 Tahun 2024 tentang pedoman implementasi kurikulum pada RA, MI, MTs, MA, dan MAK.
  • Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025, tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah.
  • Panduan implementasi KBC, yang menjadi rujukan untuk memahami prinsip dan penerapannya di madrasah.

Apa yang Perlu Disiapkan Madrasah?

Persiapan penerapan KBC sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tidak menjadi beban administratif baru. Fokus utamanya adalah menyamakan pemahaman dan memastikan nilai Panca Cinta benar-benar dapat diterapkan dalam kegiatan pendidikan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan madrasah adalah:

  • mempelajari KMA Nomor 1503 Tahun 2025 dan Panduan KBC;
  • melakukan sosialisasi kepada guru dan tenaga kependidikan;
  • memetakan nilai Panca Cinta yang sesuai dengan karakter madrasah;
  • mengintegrasikan nilai tersebut dalam perencanaan pembelajaran;
  • menyesuaikan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler;
  • membangun budaya madrasah yang aman, ramah, dan menghargai perbedaan;
  • melakukan evaluasi secara berkala terhadap penerapannya;
  • mendokumentasikan praktik baik yang dapat dikembangkan oleh guru lain.

Langkah tersebut membuat penerapan KBC lebih realistis. Madrasah tidak perlu langsung membuat banyak program baru jika nilai yang sudah ada sebenarnya dapat diperkuat dan diarahkan sesuai prinsip Panca Cinta.

Kurikulum Berbasis Cinta Mengubah Cara Melihat Pendidikan

Kurikulum Berbasis Cinta membawa pesan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa banyak materi yang berhasil diselesaikan. Pendidikan juga perlu melihat manusia yang terbentuk setelah proses belajar berlangsung.

Peserta didik diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, mencintai ilmu, mampu menghargai diri dan sesama, peduli terhadap lingkungan, serta memiliki rasa cinta terhadap tanah air.

Karena itu, penerapan KBC di madrasah bukan sekadar perubahan istilah dalam dokumen kurikulum. Nilai tersebut baru memiliki makna ketika hadir dalam interaksi guru dan siswa, cara madrasah menyelesaikan masalah, kebiasaan peserta didik, kegiatan pembelajaran, dan suasana pendidikan sehari-hari.

Kehadiran KBC pada akhirnya memberi ruang bagi madrasah untuk menguatkan sisi akademik sekaligus kemanusiaan. Pendidikan tetap mengajarkan ilmu, tetapi prosesnya diarahkan agar ilmu tersebut tumbuh bersama akhlak, empati, kepedulian, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial.

Leave a Comment