Kementerian Agama mendorong penguatan nilai ekoteologi dalam pendidikan untuk menumbuhkan kesadaran sekaligus tanggung jawab peserta didik terhadap lingkungan. Gagasan tersebut dikembangkan melalui konsep Ecotheopedagogy, yang menggabungkan nilai-nilai ekoteologi, pedagogi, dan kesadaran ekologis dalam proses pembelajaran.
Konsep tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Buku Ecotheopedagogy bertema “Mengajarkan dan Mencari Solusi Masalah Ekologi secara Islami” yang berlangsung di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Jumat, 7 Agustus 2026.
Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani, mengatakan pendidikan lingkungan tidak cukup berhenti pada penyampaian pengetahuan. Peserta didik perlu diajak memahami persoalan ekologis yang terjadi di sekitarnya sekaligus belajar mencari jalan keluar.
Baca juga: Pendaftaran Geber Masjid Kemenag 2026, Cek Link dan Cara Daftarnya
Pendidikan Ekologi Tidak Cukup Sekadar Teori
Menurut Ali Ramdhani, pembelajaran mengenai lingkungan perlu membawa peserta didik pada proses yang lebih mendalam. Persoalan lingkungan harus dipahami, direnungkan, kemudian diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
“Ecotheopedagogy harus membawa peserta didik pada pembelajaran yang mendalam. Persoalan lingkungan tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus dipahami, direfleksikan, dan dicari solusinya,” tegasnya.
Ia menilai perubahan cara pandang menjadi bagian penting dalam pendidikan ekologis. Manusia tidak seharusnya hanya melihat dirinya sebagai penguasa alam, melainkan sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat lingkungan.
Karena itu, materi Ecotheopedagogy diharapkan mengambil contoh persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Masalah sampah, kebersihan lingkungan, penggunaan sumber daya, hingga kondisi lingkungan sekitar sekolah dan madrasah dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Kesadaran Lingkungan Dimulai Dari Lingkungan Terdekat
Ali Ramdhani menekankan bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan perlu dibangun dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Rumah, lingkungan RT dan RW, sekolah, hingga madrasah dinilai dapat menjadi tempat untuk membentuk kebiasaan menjaga lingkungan. Dengan pendekatan tersebut, pendidikan ekologi tidak hanya berlangsung melalui buku atau kegiatan di dalam kelas.
“Menjaga lingkungan harus dimulai dari ruang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah, lingkungan RT/RW, hingga sekolah dan madrasah, semuanya harus menjadi ruang untuk membangun kebiasaan menjaga dan merawat lingkungan,” ujarnya.
Pembiasaan tersebut diharapkan dapat membentuk karakter peserta didik. Kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya muncul ketika ada kegiatan tertentu, tetapi menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.
Buku Ecotheopedagogy Disiapkan Menjadi Rujukan
Dalam penyusunan buku Ecotheopedagogy, Kemenag juga ingin memasukkan nilai pendidikan yang selama ini dikembangkan, yaitu maslahat, rukun, dan cerdas.
Ketiga nilai tersebut diharapkan dapat memperkuat pembelajaran ekologi berbasis nilai Islam. Peserta didik tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai persoalan lingkungan, tetapi juga belajar mengambil sikap dan bertanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya.
Materi buku juga diharapkan dapat memberikan contoh yang aplikatif sehingga guru memiliki bahan untuk menghubungkan persoalan ekologis dengan kehidupan peserta didik.
UIN Sunan Gunung Djati Siapkan Buku Sebagai Pilot Project
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar, mengatakan pengembangan Ecotheopedagogy merupakan respons Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) terhadap kebijakan Menteri Agama mengenai program ekoteologi.
Menurut Rosihon, kebijakan tersebut perlu diterjemahkan lebih jauh ke dalam proses pendidikan sehingga dapat diterapkan pada tingkat fakultas dan lembaga pendidikan.
Ia menilai buku Ecotheopedagogy berpeluang digunakan secara lebih luas apabila penyusunannya memenuhi standar substansi dan aspek didaktik-metodik.
“Jika buku Ecotheopedagogy FTK UIN Sunan Gunung Djati Bandung isinya lengkap dan teruji secara substansi serta didaktik-metodik, buku ini bisa menjadi pilot project untuk diterapkan di seluruh FTK se-Indonesia,” ujar Rosihon.
Posisi Dekan FTK UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai Ketua Forum FTK Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia juga dinilai dapat membuka peluang penerapan konsep tersebut di lingkungan fakultas tarbiyah dan keguruan lainnya.
Ekoteologi Didorong Masuk Dalam Kehidupan Sehari-hari
Pengembangan Ecotheopedagogy menunjukkan upaya Kementerian Agama membawa gagasan ekoteologi lebih dekat dengan dunia pendidikan. Nilai keagamaan mengenai tanggung jawab manusia terhadap alam kemudian diterjemahkan menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Pendekatan tersebut juga membuka ruang bagi sekolah dan madrasah untuk menjadikan lingkungan sekitar sebagai sumber pembelajaran. Peserta didik dapat diajak melihat persoalan yang terjadi di lingkungan sendiri, memahami penyebabnya, kemudian mencari solusi yang dapat dilakukan bersama.
Melalui cara tersebut, pendidikan ekologi tidak berhenti pada hafalan mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Pembelajaran diharapkan mampu membentuk kebiasaan dan karakter peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap alam.
Pengembangan buku Ecotheopedagogy menjadi salah satu langkah Kemenag untuk memperkuat pendekatan tersebut. Jika nantinya diterapkan lebih luas, konsep ini diharapkan dapat membantu guru dan lembaga pendidikan mengintegrasikan nilai Islam dengan pendidikan lingkungan secara lebih konkret.