Aktivitas belajar di sejumlah madrasah di Nusa Tenggara Timur harus beradaptasi dengan kondisi pascagempa. Di tengah proses pemulihan bangunan yang rusak, Kementerian Agama mulai mengirimkan dukungan berupa ruang belajar sementara dan perlengkapan sekolah agar siswa tetap bisa mengikuti pembelajaran.
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag menyalurkan 1.000 school kit dan 16 Temporary Learning Space (TLS) untuk madrasah yang terdampak gempa Flores. Bantuan tersebut menjadi bagian dari respons pemerintah untuk menjaga layanan pendidikan tetap berjalan di tengah kondisi darurat.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kondisi bencana tidak seharusnya membuat hak anak untuk memperoleh pendidikan terhenti.
“Bencana tidak boleh menjadi alasan bagi anak-anak untuk kehilangan haknya mendapatkan pendidikan. Pemerintah harus hadir memastikan mereka tetap dapat belajar dengan aman dan layak, sekaligus memberikan dukungan kepada madrasah yang terdampak,” ujar Nasaruddin Umar.
Puluhan Madrasah Masih Membutuhkan Penanganan
Data Kemenag menunjukkan dampak gempa tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua satuan pendidikan. Sebanyak 72 RA dan madrasah yang tersebar di tujuh kabupaten tercatat terdampak bencana.
Dalam perkembangan penanganannya, Kemenag sebelumnya mengidentifikasi 32 satuan pendidikan dengan 5.523 siswa sebagai Prioritas I karena mengalami kerusakan berat atau total serta gangguan terhadap kegiatan belajar mengajar. Kondisi tersebut membuat kebutuhan ruang belajar sementara menjadi bagian penting dalam respons pendidikan darurat.
Pada tahap bantuan yang terbaru, 15 madrasah ditetapkan sebagai penerima prioritas. Sebanyak 16 TLS kemudian disiapkan agar kegiatan belajar tidak sepenuhnya bergantung pada bangunan sekolah yang masih dalam proses pemeriksaan dan pemulihan.
Ruang Belajar Sementara Jadi Solusi Saat Gedung Belum Aman
TLS bukan sekadar tempat untuk memindahkan kegiatan belajar dari gedung yang rusak. Penempatannya juga harus memperhatikan keselamatan siswa dan guru, terutama dengan menghindari lokasi yang berdekatan dengan bangunan atau struktur yang masih berpotensi roboh.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno sebelumnya mengatakan pemulihan fasilitas pendidikan membutuhkan waktu. Karena itu, layanan pembelajaran perlu tetap berjalan selama proses perbaikan berlangsung.
“Pemulihan sarana pendidikan memang membutuhkan waktu, tetapi layanan pembelajaran harus tetap berjalan selama proses pemulihan itu,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting karena ruang belajar darurat dapat menjadi jembatan sebelum madrasah kembali menggunakan fasilitas permanen. Pengalaman penanganan bencana di daerah lain juga menunjukkan bahwa ruang belajar sementara membantu siswa kembali ke rutinitas sekolah ketika bangunan utama belum dapat digunakan.
1.000 School Kit untuk Menunjang Kegiatan Belajar
Selain menyediakan tempat belajar, Kemenag menyalurkan 1.000 school kit bagi peserta didik terdampak. Perlengkapan tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar siswa selama kegiatan pendidikan berlangsung dalam situasi pascabencana.
Bantuan perlengkapan belajar memiliki arti penting ketika keluarga terdampak harus lebih dulu memprioritaskan kebutuhan pemulihan rumah dan kehidupan sehari-hari. Dukungan semacam ini dapat mengurangi beban peserta didik yang harus kembali belajar dalam kondisi serba terbatas.
Nasaruddin mengatakan bantuan tersebut diarahkan agar madrasah dan peserta didik bisa kembali menjalankan aktivitas pendidikan secara bertahap.
“Kita ingin memastikan madrasah yang terdampak tetap mendapatkan dukungan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pembelajaran. Bantuan ini diharapkan dapat membantu madrasah dan peserta didik kembali menjalankan aktivitas pendidikan secara bertahap,” tuturnya.
Baca juga: Gempa Flores NTT, Menag Nasaruddin Umar Minta Jajaran Kemenag Bergerak Cepat
Penanganan Tidak Berhenti pada Bantuan Awal
Penyaluran TLS dan school kit menjadi tahap awal dari pemulihan layanan pendidikan di madrasah terdampak. Kemenag masih melakukan koordinasi dan pemetaan untuk mengetahui kebutuhan masing-masing satuan pendidikan berdasarkan kondisi di lapangan.
Pendekatan tersebut diperlukan karena tingkat kerusakan setiap madrasah tidak sama. Ada satuan pendidikan yang membutuhkan ruang belajar sementara, sementara lainnya dapat memerlukan penanganan fasilitas yang lebih besar sebelum kegiatan belajar kembali normal.
Kemenag juga dijadwalkan melakukan peninjauan langsung ke NTT. Menteri Agama Nasaruddin Umar akan melihat kondisi madrasah terdampak sekaligus memastikan kebutuhan pemulihan pendidikan dapat ditangani sesuai kondisi di lapangan.
Langkah tersebut penting karena data kerusakan dan kebutuhan pendidikan dapat berubah seiring proses asesmen. Pembaruan data menjadi dasar untuk menentukan madrasah mana yang membutuhkan bantuan lanjutan dan bentuk dukungan yang paling mendesak.
Baca juga: Ribuan Siswa Terdampak Gempa, Kemenag Siapkan Kelas Darurat untuk 32 Madrasah Prioritas di NTT
Pembelajaran Tetap Berjalan di Tengah Pemulihan
Penanganan pendidikan pascabencana pada dasarnya tidak hanya berbicara mengenai perbaikan bangunan sekolah. Keberadaan guru, siswa, perlengkapan belajar, serta ruang yang aman juga menjadi bagian penting agar kegiatan pendidikan tidak terputus terlalu lama.
Pengalaman penanganan bencana di Flores sebelumnya memperlihatkan bahwa ruang belajar sementara dapat menjadi alternatif ketika siswa harus belajar di tengah kondisi darurat. Ruang yang dirancang dengan memperhatikan keamanan, sirkulasi udara, serta kebutuhan siswa dapat memberikan kondisi belajar yang lebih layak dibandingkan sekadar menggunakan tempat penampungan darurat.
Kemenag kini melanjutkan koordinasi dengan jajaran di daerah untuk memperbarui pemetaan madrasah terdampak. Bantuan tahap berikutnya akan bergantung pada hasil verifikasi kebutuhan serta perkembangan pemulihan di masing-masing lokasi.
Bagi ribuan siswa yang terdampak, keberlanjutan pembelajaran menjadi bagian penting dari proses kembali ke kehidupan normal. Sekolah mungkin membutuhkan waktu untuk pulih, tetapi kegiatan belajar diupayakan tidak ikut berhenti selama proses tersebut berlangsung.