Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah kiai sepuh menggelar Forum Silaturahmi Para Kiai Sepuh di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Pertemuan tersebut membahas dinamika yang berkembang sekaligus menyampaikan pesan agar muktamar berjalan dengan baik dan tetap menjaga persatuan.
Salah satu perhatian utama forum adalah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Dalam tradisi NU, AHWA merupakan mekanisme yang melibatkan sejumlah ulama untuk memilih Rais Aam PBNU, sehingga prosesnya diharapkan berlangsung berdasarkan pertimbangan keulamaan dan hati nurani.
Forum tersebut diikuti sejumlah kiai sepuh, baik secara langsung maupun daring. Di antaranya KH Ma’ruf Amin, KH Abdullah Ubab Maimoen, KH Ali Akbar Marbun, KH Muadz Thohir, KH Ahmad Haris Shodaqoh, KH Ahmad Mustofa Bisri, KH Anwar Manshur, KH Zuhri Zaini, KH Idris Hamid, KH Muhibbul Aman Aly, serta sejumlah ulama lainnya.
Kiai sepuh soroti dinamika jelang muktamar
Usai forum, Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin mengatakan pertemuan tersebut dilatarbelakangi keprihatinan terhadap dinamika yang berkembang menjelang Muktamar ke-35 NU.
Menurutnya, terdapat sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian agar proses muktamar tidak bergeser dari nilai-nilai yang selama ini dijunjung dalam tradisi organisasi. Para kiai sepuh kemudian menyampaikan tujuh seruan moral yang dibacakan Rais Syuriyah PBNU KH Muhibbul Aman Aly.
Seruan tersebut menekankan pentingnya menjaga kehormatan muktamar, menghormati kedaulatan muktamirin, serta menghindari tindakan yang dapat memicu perpecahan di lingkungan NU.
AHWA diminta tetap menjadi ruang keulamaan
Pembahasan mengenai AHWA menjadi salah satu bagian penting dalam seruan para kiai sepuh. Mekanisme tersebut dipandang sebagai bagian dari tradisi NU dalam menentukan Rais Aam sehingga prosesnya harus dijaga dari tekanan maupun kepentingan kelompok.
Para kiai juga menyoroti adanya penggalangan dukungan terhadap calon AHWA sebelum muktamar. Praktik tersebut dikhawatirkan membuat proses yang seharusnya mengedepankan pertimbangan para ulama berubah menjadi arena mobilisasi dukungan.
Ma’ruf Amin menegaskan pentingnya menjaga posisi AHWA sebagai representasi para ulama. “AHWA itu adalah representasi para ulama untuk memilih Rais Aam yang lahir dari hati nurani,” katanya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan AHWA bukan sekadar urusan teknis pemilihan. Para kiai sepuh ingin memastikan Rais Aam yang terpilih memiliki legitimasi keulamaan sekaligus diterima oleh lingkungan NU secara luas.
Waktu pengusulan calon AHWA ikut disoroti
Seruan moral juga menyentuh mekanisme pengusulan nama calon AHWA. Para kiai mengusulkan agar pengusulan tidak dilakukan terlalu dini, melainkan ditempatkan lebih dekat dengan proses penghitungan dan tabulasi AHWA dalam persidangan.
Usulan itu berkaitan dengan kekhawatiran terhadap pengondisian calon sebelum muktamar berlangsung. Dengan proses yang lebih dekat dengan persidangan, ruang untuk melakukan tekanan atau mobilisasi dukungan diharapkan dapat diminimalkan.
Selain persoalan AHWA, para kiai meminta kedaulatan muktamirin tetap dihormati. Peserta muktamar yang membawa mandat dari struktur NU di berbagai daerah diharapkan dapat menjalankan haknya secara bebas dan bertanggung jawab.
Tujuh seruan mengarah pada persatuan
Pesan para kiai sepuh tidak hanya ditujukan kepada kandidat yang akan bertarung dalam pemilihan kepemimpinan. Pengurus NU, peserta muktamar, pendukung kandidat, serta seluruh pihak yang berkepentingan juga diminta menahan diri.
Perbedaan pilihan dalam muktamar dinilai sebagai sesuatu yang wajar. Namun, persaingan tidak boleh membuat hubungan antarkader dan persaudaraan warga NU menjadi rusak setelah proses pemilihan selesai.
KH Muhibbul Aman Aly menekankan pentingnya menjaga akhlak selama seluruh rangkaian muktamar. “Intinya, kita berharap agar Muktamar ini berjalan dengan baik, jujur, adil, dan berakhlakul karimah,” katanya.
Para kiai sepuh juga berharap Muktamar ke-35 NU menjadi momentum islah atau perbaikan hubungan dan persatuan. Hasil muktamar diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga memperkuat soliditas organisasi.
Baca juga: Sinergi NU-Muhammadiyah Terlihat di Muktamar ke-35, Kokam Ikut Kawal Pengamanan
Muktamar ke-35 NU segera digelar
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Agenda tersebut akan menjadi momentum penting untuk menentukan arah kepemimpinan dan perjalanan organisasi NU dalam periode berikutnya.
Sejumlah nama juga mulai muncul dalam dinamika kepemimpinan PBNU. Kondisi tersebut membuat persaingan menjelang muktamar semakin mendapat perhatian, terutama terkait pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
Di tengah dinamika tersebut, tujuh seruan moral para kiai sepuh menjadi pengingat agar muktamar tidak semata-mata dilihat sebagai perebutan posisi kepemimpinan. Prosesnya diharapkan tetap berpegang pada musyawarah, adab, kejujuran, serta penghormatan terhadap tradisi keulamaan.