MTQ Imam Masjid Sulteng 2026 Diikuti 80 Peserta, Kualitas Imam Jadi Sorotan Kemenag

Peran imam masjid di Sulawesi Tengah mulai mendapat perhatian lebih luas seiring digelarnya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Imam Masjid Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah 2026. Ajang ini tidak hanya menguji kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga menempatkan kapasitas imam sebagai pembimbing umat di tengah persoalan sosial dan keagamaan yang semakin beragam.

Kegiatan yang berlangsung pada 18–19 Agustus 2026 tersebut digelar secara hybrid di Kantor Telkom Sulbagteng, Kota Palu. Sebanyak 80 peserta dari 13 kabupaten dan kota ikut ambil bagian dalam kegiatan yang diselenggarakan Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Sulawesi Tengah bersama Kementerian Agama Sulawesi Tengah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, dan Telkom Indonesia Sulbagteng.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah sekaligus Sekretaris Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Sulawesi Tengah, Junaidin, menilai posisi imam memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan keagamaan masyarakat.

“Seorang imam berada di titik terdepan dalam menghadirkan agama di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Suara bacaannya menjadi bagian dari pengalaman spiritual jamaah, nasihatnya menjadi rujukan bagi masyarakat, akhlaknya menjadi cermin yang dinilai umat, dan sikapnya sering kali menjadi representasi wajah Islam di lingkungan masjid,” ujar Junaidin.

Baca juga: Dua Satker Kemenag Banggai Masuk Daftar Terbaik KPPN Awards 2026

Imam masjid dituntut lebih dari sekadar fasih membaca Al-Qur’an

Kemampuan melantunkan ayat dengan baik bukan satu-satunya ukuran kualitas seorang imam. Junaidin menekankan perlunya penguasaan ilmu, pemahaman terhadap pesan Al-Qur’an, serta akhlak yang dapat menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Peran tersebut menjadi semakin penting karena masjid tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah. Dalam kehidupan masyarakat, imam kerap menjadi sosok yang dimintai pandangan ketika muncul persoalan keluarga, sosial, maupun keagamaan.

Kondisi tersebut membuat kualitas sumber daya imam menjadi bagian penting dalam pembinaan umat. Imam yang memiliki wawasan keagamaan memadai dinilai lebih mampu menyampaikan pesan agama secara proporsional sekaligus menjaga suasana kehidupan masyarakat tetap harmonis.

Junaidin juga mengingatkan adanya tantangan baru dalam penyampaian informasi keagamaan. Beragam pandangan dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial, sehingga masyarakat membutuhkan figur keagamaan yang mampu memberikan penjelasan dengan dasar ilmu dan pendekatan yang menenangkan.

“Dalam situasi seperti ini, masyarakat membutuhkan figur keagamaan yang mampu memberikan penjelasan secara ilmiah, arif, moderat, dan menenteramkan,” tegasnya.

Delapan cabang menguji kemampuan peserta

MTQ Imam Masjid Sulawesi Tengah 2026 tidak hanya berfokus pada kemampuan tilawah. Penyelenggara menyiapkan delapan cabang yang mencakup Tilawah, Tahfiz 15 Juz, Haflah Qira’at Sab’ah, Tahfiz 30 Juz, Azan, Tafsir, Tartil, dan Khutbah Jumat.

Komposisi cabang tersebut memperlihatkan bahwa kompetensi imam yang ingin dibangun cukup luas. Peserta tidak hanya dituntut mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga memiliki kemampuan hafalan, pemahaman tafsir, serta keterampilan menyampaikan pesan keagamaan kepada jamaah.

Cabang Khutbah Jumat, misalnya, berkaitan langsung dengan kemampuan seorang imam dalam menyampaikan pesan keagamaan di hadapan masyarakat. Sementara cabang tafsir dan hafalan memberikan gambaran mengenai kedalaman penguasaan peserta terhadap Al-Qur’an.

Peserta MTQ Imam Masjid tingkat provinsi ini berasal dari seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah dengan ketentuan usia minimal 25 tahun. Para peserta terbaik nantinya dipersiapkan untuk mengikuti ajang tingkat nasional.

Baca juga: Mudah dan Transparan, Begini Wajah Baru Pelayanan Lewat PTSP Kemenag

Pembinaan imam menjadi perhatian lebih luas

Perhatian terhadap kualitas imam juga sejalan dengan arah pembinaan MTQ di Sulawesi Tengah yang tidak berhenti pada pencapaian prestasi perlombaan. Pada MTQ XXXI Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah yang berlangsung di Sigi pada Juni 2026, Kemenag Sulteng sebelumnya menekankan pentingnya membawa nilai-nilai Al-Qur’an dari arena musabaqah ke kehidupan masyarakat.

Junaidin saat itu menyampaikan bahwa MTQ harus menjadi ruang untuk membangun budaya Qurani yang tercermin dalam kehidupan sosial. Pesan tersebut memperlihatkan adanya kesinambungan antara pembinaan peserta MTQ secara umum dengan penguatan peran imam sebagai figur keagamaan di lingkungan masyarakat.

Kemenag Sulteng juga menempatkan MTQ sebagai sarana pembinaan, bukan sekadar kompetisi untuk menentukan siapa yang memperoleh nilai tertinggi. Nilai Al-Qur’an diharapkan dapat diterjemahkan menjadi perilaku, akhlak, kepedulian sosial, dan kehidupan masyarakat yang harmonis.

Perspektif tersebut menjadi relevan bagi pembinaan imam masjid. Imam berada lebih dekat dengan jamaah dan memiliki kesempatan untuk menyampaikan nilai-nilai keagamaan secara rutin melalui kegiatan ibadah maupun interaksi sosial.

Masjid didorong menjadi pusat pembinaan umat

Junaidin mengatakan Kementerian Agama memberikan perhatian terhadap penguatan kualitas imam sekaligus fungsi masjid sebagai pusat pembinaan masyarakat. Masjid diharapkan tidak hanya aktif dalam kegiatan ritual, tetapi juga berperan dalam pendidikan keagamaan, penguatan moderasi beragama, ukhuwah, dan kepedulian sosial.

“Dalam konteks Sulawesi Tengah yang memiliki keragaman masyarakat, tradisi, dan latar belakang sosial-keagamaan, peran imam menjadi semakin strategis,” katanya.

Pandangan tersebut memiliki konteks tersendiri bagi Sulawesi Tengah yang memiliki masyarakat dengan latar belakang sosial dan budaya beragam. Figur imam di tingkat lingkungan dapat menjadi salah satu penghubung penting dalam menjaga komunikasi serta membangun kehidupan keagamaan yang damai.

Penguatan kapasitas imam juga tidak harus berhenti setelah sebuah perlombaan selesai. Pelatihan, pembinaan rutin, peningkatan wawasan keagamaan, serta penguatan kemampuan komunikasi dapat menjadi bagian lanjutan agar kualitas imam terus berkembang.

Dari Palu menuju panggung nasional

MTQ Imam Masjid tingkat provinsi tahun ini juga menjadi tahapan untuk menyiapkan wakil Sulawesi Tengah menuju kompetisi yang lebih tinggi. Peserta terbaik akan dipersiapkan mengikuti MTQ Imam Masjid tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung di Palembang pada September 2026.

Agenda MTQ nasional sendiri tercatat dalam platform e-MTQ Kementerian Agama sebagai MTQ XXXI Tingkat Nasional pada 11–21 September 2026. Rangkaian agenda tersebut menunjukkan bahwa pembinaan Al-Qur’an di tingkat daerah menjadi bagian dari proses berjenjang menuju kompetisi nasional.

Momentum nasional tersebut juga berdekatan dengan agenda International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta dan Palembang pada 25–30 September. Rangkaian agenda tersebut semakin menempatkan isu imam masjid, pembinaan umat, dan peran keagamaan dalam ruang pembahasan yang lebih luas.

Bagi Sulawesi Tengah, keikutsertaan dalam ajang nasional bukan semata mengejar gelar juara. Hasil pembinaan dari tingkat provinsi diharapkan dapat melahirkan imam yang memiliki kemampuan Al-Qur’an, wawasan keagamaan, serta kapasitas menjadi teladan di tengah masyarakat.

Kualitas dewan hakim ikut menentukan hasil kompetisi

Penyelenggaraan MTQ juga membutuhkan sistem penilaian yang kredibel agar peserta terbaik benar-benar terpilih berdasarkan kemampuan. Kemenag Sulteng sebelumnya menekankan pentingnya profesionalitas dan objektivitas dewan hakim dalam pelaksanaan MTQ tingkat provinsi.

Pada MTQ XXXI Sulawesi Tengah, sebanyak 148 dewan hakim telah dilantik bersama dewan pengawas, panitera, dan petugas musabaqah. Penekanan terhadap objektivitas tersebut menjadi bagian penting karena kualitas hasil perlombaan sangat bergantung pada proses penilaian yang adil.

Konteks serupa menjadi penting dalam MTQ Imam Masjid 2026. Peserta datang membawa kemampuan dari daerah masing-masing, sehingga proses penilaian perlu mampu membedakan kualitas secara terukur pada setiap cabang yang diperlombakan.

MTQ Imam Masjid Sulawesi Tengah akhirnya tidak sekadar menjadi agenda dua hari di Palu. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas imam agar mampu menjalankan peran keagamaan secara lebih luas, sekaligus menjadi pintu bagi lahirnya wakil Sulawesi Tengah menuju panggung nasional.

Leave a Comment