Indonesia tengah mematangkan persiapan menjadi tuan rumah International Grand Imams Conference (IGIC) 2026. Salah satu langkah penting dilakukan Menteri Agama Nasaruddin Umar dengan menyampaikan undangan kepada Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Al-Tayeb agar hadir dalam forum internasional tersebut.
Undangan itu disampaikan ketika Nasaruddin Umar bertemu Duta Besar Mesir untuk Indonesia, H.E. Mr. Yasser Elshemy, di Kantor Kedutaan Besar Mesir, Jakarta, Selasa (18/8/2026). Pertemuan tersebut sekaligus menjadi bagian dari diplomasi awal sebelum pemerintah menyampaikan undangan secara langsung kepada sejumlah tokoh Islam dunia.
IGIC 2026 dijadwalkan berlangsung pada 25–29 September 2026 dengan mengangkat tema “Mosque Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace”. Forum tersebut dirancang untuk mempertemukan imam, ulama, serta pemimpin keagamaan dari berbagai negara dalam pembahasan mengenai peran kepemimpinan masjid dalam membangun harmoni dan perdamaian.
“Konferensi ini akan membahas bagaimana para imam dapat berperan dalam menciptakan harmoni, keamanan, dan perdamaian global,” ujar Menag Nasaruddin Umar, Selasa (18/8/2026).
Baca juga: Daftar Lengkap Penerima Penghargaan Satyalancana Karyasatya di Lingkungan Kemenag
Sekitar 50 Negara Disiapkan Hadir di Jakarta
Skala konferensi ini tidak hanya menyasar jaringan imam di kawasan Asia. Panitia menargetkan keterlibatan perwakilan dari sekitar 50 negara, sementara hingga pertemuan dengan Kedutaan Besar Mesir digelar, sekitar 17 negara telah memberikan konfirmasi kehadiran.
Rancangan IGIC juga menunjukkan agenda yang lebih luas daripada sekadar forum ceramah atau pertemuan keagamaan. Situs resmi konferensi menyebut peserta akan diarahkan pada penguatan jejaring imam internasional, pembahasan harmoni masjid, diplomasi keagamaan, perdamaian global, hingga penyusunan rekomendasi bersama.
Panitia juga menyiapkan sesi diskusi tematik yang membahas Masjid Harmony, Global Peace, Religious Diplomacy, dan International Grand Imam Forum. Salah satu keluaran yang diproyeksikan adalah “Istiqlal Understanding of International Imams”, sebuah deklarasi bersama yang diharapkan menjadi salah satu hasil penting konferensi.
Konsep tersebut memperlihatkan bahwa posisi imam dalam IGIC tidak ditempatkan hanya sebagai pemimpin ritual. Peran imam dipandang lebih luas, termasuk sebagai tokoh yang dapat memperkuat kohesi sosial, meredam konflik, dan membangun komunikasi lintas masyarakat.
Grand Syekh Al-Azhar Jadi Tokoh Kunci
Nasaruddin menilai kehadiran Grand Syekh Al-Azhar memiliki arti penting bagi penyelenggaraan konferensi. Karena itu, Kementerian Agama tidak hanya mengirimkan undangan secara administratif, tetapi berencana menemui langsung para tokoh yang menjadi sasaran undangan.
Kunjungan ke Mesir dan Arab Saudi direncanakan pada 1–4 September 2026. Agenda tersebut akan digunakan untuk menyampaikan undangan secara langsung kepada Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Al-Tayeb serta tokoh lainnya yang diharapkan hadir dalam IGIC.
“Melalui pertemuan ini, kami ingin menyampaikan permohonan untuk mengundang Grand Syekh Al-Azhar agar dapat menghadiri konferensi tersebut. Rencananya, kami akan menyampaikan undangan secara langsung pada 1–4 September, baik di Kairo maupun di Arab Saudi,” jelas Menag.
Kehadiran Grand Syekh Al-Azhar juga sejalan dengan rancangan besar IGIC yang memang menempatkan sejumlah imam dan ulama internasional sebagai pembicara utama. Dalam agenda konferensi yang dipublikasikan panitia, Ahmed Al-Tayeb tercantum bersama Syekh Abdurrahman As-Sudais dan Nasaruddin Umar dalam salah satu sesi panel utama.
Bukan Sekadar Pertemuan Tokoh Islam
Gagasan IGIC telah dibangun sejak beberapa bulan sebelum konferensi utama. Sejumlah kegiatan bridging digelar di berbagai daerah sebagai rangkaian menuju pertemuan internasional tersebut, termasuk di Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Banten, dan Jawa Timur.
Rangkaian tersebut menunjukkan upaya panitia membawa isu peran imam dari tingkat lokal menuju pembahasan internasional. Dalam sejumlah kegiatan sebelumnya, Nasaruddin Umar juga menekankan bahwa imam tidak cukup hanya menjalankan fungsi kepemimpinan salat, tetapi perlu mengambil peran dalam menjaga persatuan dan membangun kedamaian di tengah masyarakat.
Perspektif itu menjadi salah satu dasar penting dalam penyelenggaraan IGIC. Masjid ditempatkan sebagai ruang yang memiliki fungsi sosial dan kemasyarakatan, sementara imam diharapkan mampu menjadi figur yang menjembatani perbedaan serta menyampaikan pesan keagamaan yang menyejukkan.
Gagasan tersebut juga mendapat perhatian dalam kegiatan persiapan IGIC di sejumlah daerah. Forum-forum bridging sebelumnya mengangkat isu toleransi, harmoni sosial, diplomasi keagamaan, serta kontribusi imam dalam menjaga persatuan masyarakat.
Dua Grand Imam Dunia Diproyeksikan Hadir
Ketua Steering Committee International Grand Imam Conference, Mohammad Sabilul Alif, mengatakan pertemuan dengan Kedutaan Besar Mesir menjadi bagian dari persiapan menghadirkan dua tokoh besar dunia Islam.
“Hari ini Panitia International Grand Imam Conference mendampingi Menteri Agama bertemu Kedutaan Mesir. Agenda hari ini adalah menyampaikan bahwa kita akan mengundang dua tokoh grand imam besar, yaitu Grand Syekh Al-Azhar dan Syekh Sudais, yang nantinya akan menjadi tamu kehormatan kita,” kata Sabilul Alif.
Syekh Abdurrahman As-Sudais merupakan Imam Besar Masjidil Haram yang juga tercantum dalam daftar tokoh utama IGIC 2026. Bersama Grand Syekh Al-Azhar dan sejumlah ulama dari negara lain, kehadiran mereka diharapkan memberi dimensi internasional yang kuat terhadap forum tersebut.
Sabilul menilai konferensi ini dapat menjadi ruang diplomasi keagamaan yang mempertemukan pengalaman para imam dari berbagai latar belakang. Peran masjid dalam membangun perdamaian menjadi salah satu isu yang ingin diperkuat melalui pertemuan tersebut.
Baca juga: Mudah dan Transparan, Begini Wajah Baru Pelayanan Lewat PTSP Kemenag
Dubes Mesir Bantu Sesuaikan Jadwal Grand Syekh
Duta Besar Mesir untuk Indonesia, H.E. Mr. Yasser Elshemy, menyambut baik rencana Kementerian Agama tersebut. Ia bahkan membahas kemungkinan penyesuaian waktu pertemuan dengan Grand Syekh Al-Azhar agar agenda kunjungan dari Indonesia dapat berjalan sesuai jadwal.
“Saya menanyakan rencana perjalanan Anda agar dapat menyesuaikan jadwal pertemuan dengan Grand Syekh Al-Azhar. Biasanya, Grand Syekh kembali ke kampung halamannya di Luxor setiap akhir pekan untuk bertemu keluarganya,” ujar Dubes Yasser.
Pembicaraan mengenai jadwal tersebut menjadi bagian penting dari proses diplomasi sebelum undangan resmi disampaikan langsung. Kementerian Agama ingin memastikan pertemuan di Mesir dapat berlangsung pada waktu yang memungkinkan untuk bertemu dengan Grand Syekh.
Pertemuan di Kedutaan Besar Mesir turut dihadiri Wakil Duta Besar Mesir untuk Indonesia Mr. Amr Mokhtar, Tenaga Ahli Menteri Agama Bunyamin Yafid, serta Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat.
Indonesia Ingin Bawa Pesan Perdamaian dari Masjid
Penyelenggaraan IGIC 2026 menempatkan Indonesia dalam posisi sebagai tuan rumah forum yang membawa isu keagamaan ke ranah diplomasi internasional. Sebelumnya, pemerintah telah menyampaikan bahwa forum ini diarahkan untuk memperkuat konektivitas kepemimpinan keagamaan Indonesia dengan jaringan imam dari berbagai negara.
Panitia juga merancang konferensi dengan melibatkan peserta dari berbagai kawasan dunia. Situs resmi IGIC mencatat target sekitar 500 peserta yang berasal dari lebih dari lima benua, dengan bahasa kerja Arab, Inggris, dan Bahasa Indonesia.
Rangkaian pembahasan nantinya tidak berhenti pada dialog antarimam. Agenda konferensi mencakup sesi breakout, pembahasan hasil diskusi, penyusunan “Istiqlal Understanding”, hingga agenda kunjungan yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan peserta.
Bagi Indonesia, forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pengalaman kehidupan keagamaan yang tumbuh di tengah masyarakat yang beragam. Pesan yang hendak dibawa cukup jelas: masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat berfungsi sebagai ruang untuk merawat persaudaraan, menyelesaikan perbedaan, dan menyebarkan pesan perdamaian.
Persiapan menuju September kini memasuki tahap diplomasi dengan sejumlah negara dan tokoh utama. Pertemuan Nasaruddin Umar dengan Dubes Mesir menjadi salah satu langkah terbaru sebelum Indonesia secara langsung mengetuk pintu para pemimpin keagamaan dunia untuk hadir di IGIC 2026.