Desil 10 Artinya Apa? Padahal Gaji Biasa! Ternyata Bukan Sekadar Soal Penghasilan

Setelah cek desil ternyata masuk angka 10 pastinya membuat kamu kaget, apalagi jika melihat dari penghasilan biasa saja, bahkan bisa dikatakan pas-pasan.

Istilah Desil 10 kembali ramai diperbincangkan setelah pemerintah membahas rencana penyaluran BBM bersubsidi yang lebih tepat sasaran. Kelompok desil 9 dan 10 menjadi sorotan karena pemerintah tengah mempertimbangkan pembatasan akses Pertalite bagi masyarakat yang berada pada kelompok kesejahteraan paling tinggi.

Kondisi tersebut membuat banyak orang mulai mengecek posisi desil keluarganya melalui layanan Cek Bansos. Sebagian bahkan kaget ketika hasil pencarian menunjukkan Desil 9 atau Desil 10, terutama mereka yang merasa penghasilannya biasa saja, masih memiliki cicilan, atau tinggal di rumah sederhana.

Sebenarnya, Desil 10 artinya keluarga tersebut berada dalam kelompok 10 persen dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi berdasarkan pemeringkatan DTSEN. Namun, angka tersebut tidak berarti seseorang pasti kaya dan juga bukan batas penghasilan tertentu. Ada sejumlah faktor yang membuat sebuah keluarga bisa berada di Desil 10.

Desil 10 Artinya Masuk Kelompok Kesejahteraan Tertinggi

DTSEN membagi keluarga ke dalam 10 kelompok kesejahteraan atau desil. Desil 1 berada pada kelompok 10 persen dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, sedangkan Desil 10 merupakan kelompok 10 persen dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi.

Pembagian ini merupakan peringkat relatif, bukan kategori berdasarkan satu angka penghasilan. Karena itu, tidak ada ketentuan sederhana seperti “penghasilan Rp10 juta pasti Desil 10” atau “penghasilan Rp5 juta pasti Desil 5”.

Posisi sebuah keluarga ditentukan berdasarkan berbagai informasi sosial ekonomi yang digunakan dalam pemeringkatan. BPS menjelaskan bahwa variabel yang diperhitungkan antara lain identitas, pendidikan, ketenagakerjaan, kondisi tempat tinggal, sanitasi, air minum, kesehatan, disabilitas, kepemilikan aset, dan kepemilikan usaha.

Mengapa Penghasilan Pas-Pasan Bisa Masuk Desil 10?

Inilah bagian yang sering membuat masyarakat bingung. Seseorang dapat merasa kondisi ekonominya pas-pasan, tetapi hasil pemetaan justru menunjukkan Desil 10.

Penyebabnya karena desil tidak dihitung hanya dari gaji bulanan. Kondisi keluarga secara lebih luas ikut membentuk posisi kesejahteraan dalam data.

Misalnya, pendapatan seseorang memang tidak terlalu besar, tetapi keluarga tersebut memiliki rumah sendiri, kendaraan, kondisi tempat tinggal yang relatif baik, anggota keluarga yang bekerja, akses layanan dasar yang memadai, atau kepemilikan aset tertentu. Kombinasi informasi tersebut dapat membuat posisi kesejahteraannya berada lebih tinggi dibandingkan keluarga lain.

Karena itu, Desil 10 tidak sama dengan orang kaya. Istilah yang lebih tepat adalah keluarga tersebut berada pada posisi kesejahteraan relatif yang tinggi dalam pemeringkatan data.

Desil Bukan Patokan Gaji

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah mencari tahu “Desil 10 gajinya berapa”. Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak memiliki satu jawaban pasti.

BPS menjelaskan bahwa desil merupakan posisi relatif dalam distribusi kesejahteraan dan tidak dapat disamakan begitu saja dengan pengeluaran atau penghasilan per kapita tertentu.

Dua keluarga dengan pendapatan bulanan yang hampir sama juga bisa memiliki desil berbeda. Perbedaan kondisi rumah, jumlah anggota keluarga, kepemilikan aset, pekerjaan, pendidikan, hingga faktor sosial ekonomi lainnya dapat memengaruhi posisi masing-masing.

Itulah sebabnya hasil Desil 10 sebaiknya tidak dibaca hanya berdasarkan nominal gaji.

Kenapa Desil 10 Sekarang Dikaitkan dengan Pertalite?

Pembahasan Desil 10 menjadi lebih menarik karena pemerintah pada Agustus 2026 sedang membicarakan penyaluran Pertalite agar lebih tepat sasaran.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa pemerintah sedang mendiskusikan pembatasan pembelian Pertalite bagi kelompok ekonomi tertentu. Salah satu opsi yang muncul adalah masyarakat yang berada pada Desil 9 dan Desil 10 tidak lagi mendapatkan akses yang sama terhadap BBM bersubsidi tersebut.

Pembahasan tersebut muncul setelah pemerintah menyoroti masih adanya masyarakat yang dinilai mampu tetapi menggunakan BBM bersubsidi. Dengan menggunakan data sosial ekonomi seperti DTSEN, pemerintah ingin mengarahkan subsidi kepada kelompok masyarakat yang dianggap lebih membutuhkan.

Namun, hal yang sangat penting adalah rencana tersebut belum berarti Desil 10 saat ini otomatis dilarang membeli Pertalite. Mekanisme dan waktu penerapannya masih dibahas pemerintah.

Jadi, Desil 10 Sekarang Tidak Boleh Beli Pertalite?

Belum bisa disimpulkan seperti itu.

Per 17 Agustus 2026, informasi yang beredar mengenai pembatasan Pertalite berdasarkan desil masih berkaitan dengan rencana atau pembahasan kebijakan. Pemerintah belum menerapkan ketentuan bahwa setiap orang yang masuk Desil 10 otomatis tidak boleh membeli Pertalite.

Hal ini perlu ditegaskan karena informasi yang belum final dapat dengan mudah berubah menjadi kabar seolah-olah sudah menjadi aturan.

Layanan resmi Subsidi Tepat MyPertamina saat ini masih menjelaskan ketentuan konsumen BBM bersubsidi dan menyebut Pertalite sebagai salah satu BBM yang termasuk dalam skema tersebut.

Kenapa Pemerintah Ingin Mengaitkan Subsidi dengan Desil?

Persoalan utamanya adalah ketepatan sasaran subsidi. Pemerintah ingin anggaran subsidi energi lebih banyak dinikmati masyarakat yang memang membutuhkan dukungan.

Dalam dokumen kebijakan fiskal, pemerintah memang telah menempatkan peningkatan akurasi data penerima subsidi sebagai salah satu tantangan dalam transformasi kebijakan subsidi. Pemerintah juga mendorong pemutakhiran data masyarakat secara berkala.

Data sosial ekonomi seperti DTSEN kemudian menjadi semakin penting karena dapat digunakan untuk membantu pemerintah menentukan kelompok sasaran berbagai program.

Namun, penerapan untuk BBM tentu membutuhkan mekanisme tersendiri. Tidak cukup hanya dengan mengatakan seseorang berada pada Desil 10, lalu otomatis transaksi di SPBU ditolak.

Pembatasan Pertalite Masih Menjadi Perdebatan

Rencana tersebut juga mendapat perhatian dari kalangan ekonom. Peneliti CSIS Ardhi Wardhana menilai pembatasan hanya kepada Desil 9 dan 10 belum tentu menyelesaikan persoalan kebocoran subsidi BBM.

Menurut analisis yang diberitakan pada Agustus 2026, konsumsi Pertalite oleh kelompok Desil 9 dan 10 disebut berada di bawah 20 persen dari total alokasi nasional pada 2024. Artinya, pembatasan kelompok tersebut saja dinilai belum tentu menyelesaikan seluruh persoalan subsidi yang tidak tepat sasaran.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa penggunaan desil untuk subsidi BBM bukan persoalan sederhana. Pemerintah perlu mempertimbangkan data, konsumsi kendaraan, mekanisme verifikasi, dan dampaknya terhadap kelompok masyarakat yang berada di tengah-tengah atau rentan.

Baca juga: Benarkah Desil 6-10 Tidak Boleh Beli Pertalite? Ini Fakta Aturan 2026

Jangan Samakan Desil 10 dengan Orang Kaya

Kaitan antara Desil 10 dan Pertalite membuat istilah ini semakin sering dianggap sebagai sinonim orang kaya. Padahal, pengertian tersebut terlalu sederhana.

Desil 10 hanya menunjukkan posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan. Seseorang bisa berada pada kelompok tersebut tanpa merasa dirinya kaya dalam kehidupan sehari-hari.

Beban keluarga, cicilan, biaya sekolah, biaya kesehatan, harga kebutuhan pokok, dan berbagai pengeluaran lain tetap bisa membuat sebuah keluarga merasa berat secara finansial.

Karena itu, ketika hasil pengecekan menunjukkan Desil 10, tidak perlu langsung menganggap sistem pasti salah. Periksa terlebih dahulu data yang menjadi dasar pemetaan dan pastikan informasi keluarga yang tercatat memang sesuai.

Bagaimana Jika Merasa Desil 10 Tidak Sesuai?

DTSEN bukan data yang bersifat permanen. Kondisi sosial ekonomi keluarga dapat berubah dan data juga dapat diperbarui.

Layanan resmi Cek Bansos Kemensos menjelaskan bahwa masyarakat dapat mengajukan pembaruan apabila desil yang tercatat tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Pengajuan dapat dilakukan melalui pemerintah desa atau kelurahan dan dinas sosial, maupun melalui mekanisme yang tersedia pada layanan Cek Bansos. Data kemudian diproses dan dihitung kembali secara berkala.

Pembaruan sebaiknya dilakukan berdasarkan kondisi nyata. Jika seseorang memang mengalami perubahan ekonomi, informasi tersebut perlu diperbarui agar data pemerintah semakin mendekati keadaan sebenarnya.

Cara Memahami Desil 10 dengan Contoh Sederhana

Bayangkan seluruh keluarga dalam suatu pemetaan disusun berdasarkan tingkat kesejahteraan. Setelah itu, mereka dibagi menjadi 10 kelompok.

Desil 1 berisi kelompok terbawah, kemudian meningkat sampai Desil 10 sebagai kelompok tertinggi.

Karena sifatnya relatif, posisi tersebut bisa berubah apabila kondisi masyarakat lain berubah atau data keluarga mengalami pembaruan.

Jadi, seseorang yang saat ini berada di Desil 10 bukan berarti akan selamanya berada di Desil 10. Sebaliknya, keluarga yang saat ini berada pada desil rendah juga dapat mengalami perubahan posisi ketika kondisi sosial ekonominya membaik.

Desil 10 dan Bansos Memiliki Hubungan yang Berbeda dengan Pertalite

Untuk bantuan sosial, desil menjadi salah satu informasi penting dalam menentukan sasaran program. Layanan resmi Cek Bansos menyebut kelompok Desil 1 sampai 4 sebagai kelompok 40 persen terbawah yang dapat diusulkan untuk penerima PKH dan Sembako, sesuai ketentuan program.

Karena itu, Desil 10 umumnya tidak berada dalam kelompok sasaran utama PKH dan Sembako berdasarkan kriteria desil tersebut.

Sementara untuk Pertalite, pembahasan pemerintah saat ini memiliki konteks berbeda. Desil 9 dan 10 justru menjadi kelompok yang sedang dibicarakan untuk kemungkinan pembatasan akses subsidi. Namun, ketentuan final mengenai mekanisme tersebut masih menunggu keputusan pemerintah.

Perbedaan ini penting agar masyarakat tidak menganggap semua program pemerintah menggunakan aturan desil yang sama.

Desil 10 Bisa Berubah Jika Data Ekonomi Berubah

Kondisi keluarga tidak selalu sama dari tahun ke tahun. Seseorang bisa kehilangan pekerjaan, mengalami penurunan pendapatan, kehilangan sumber usaha, atau mengalami perubahan kondisi rumah tangga.

Sebaliknya, kondisi ekonomi juga dapat membaik. Perubahan tersebut dapat memengaruhi posisi kesejahteraan ketika data diperbarui.

Karena itu, hasil Desil 10 sebaiknya dipandang sebagai gambaran kondisi berdasarkan data yang digunakan pada saat pemeringkatan, bukan label permanen terhadap seseorang.

Baca juga: Cara Mengajukan Sanggah Bansos Jika Desil Tidak Sesuai di Aplikasi Cek Bansos Kemensos

Hal yang Paling Penting Saat Mengecek Desil 10

Jika hasil pengecekan menunjukkan Desil 10, jangan hanya melihat angka tersebut. Perhatikan juga apakah data keluarga yang digunakan memang sesuai.

Beberapa hal yang dapat diperiksa antara lain:

  • data NIK dan anggota keluarga;
  • pekerjaan anggota keluarga;
  • kondisi tempat tinggal;
  • kepemilikan aset;
  • status usaha;
  • kondisi ekonomi terbaru;
  • informasi lain yang berkaitan dengan data sosial ekonomi.

Jika ditemukan ketidaksesuaian, gunakan jalur resmi untuk mengajukan pembaruan data.

Desil 10 Bukan Label Kekayaan dan Belum Berarti Dilarang Beli Pertalite

Ramainya pembahasan Pertalite membuat Desil 10 kini memiliki perhatian baru. Pemerintah memang sedang membahas kemungkinan pembatasan Pertalite bagi kelompok Desil 9 dan 10 sebagai bagian dari upaya memperbaiki ketepatan sasaran subsidi.

Namun, masyarakat perlu membedakan antara rencana kebijakan dan aturan yang sudah berlaku. Sampai 17 Agustus 2026, pembatasan Pertalite berdasarkan Desil 9 dan 10 masih dalam tahap pembahasan, sehingga tidak tepat mengatakan bahwa semua pemilik status Desil 10 sudah dilarang membeli Pertalite.

Sementara itu, arti Desil 10 sendiri tetap sama: keluarga tersebut berada pada kelompok 10 persen dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi dalam pemeringkatan DTSEN.

Jika kondisi ekonomi sebenarnya tidak sesuai dengan hasil tersebut, data dapat diajukan untuk diperbarui melalui mekanisme resmi. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya memahami arti angka desil, tetapi juga mengetahui apa yang harus dilakukan ketika data yang tercatat berbeda dengan keadaan sebenarnya.

Leave a Comment