100 Guru PAI SMP di Jawa Tengah Ikuti Tes Metode Qiroati untuk Perkuat Pembelajaran Al-Qur’an

Sebanyak 100 guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI SMP se-Jawa Tengah mengikuti Sosialisasi dan Replacement Test Metode Baca Al-Qur’an bersama Lembaga Qiroati Pusat. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Majeng Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Senin, 10 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.30 hingga 15.00 WIB tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi guru PAI dalam mengajarkan membaca Al-Qur’an di sekolah. Peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai metode Qiroati, tetapi juga mengikuti tes kemampuan membaca Al-Qur’an untuk mengetahui tingkat penguasaan masing-masing peserta.

Penguatan kompetensi guru dinilai penting karena pembelajaran Al-Qur’an tidak cukup hanya mengandalkan pemahaman teori tajwid. Kemampuan guru dalam menerapkan metode secara tepat turut menentukan kualitas bacaan dan proses belajar peserta didik.

Baca juga: Mushaf Al Quran Berusia 3 Abad Dipamerkan di Makkah, Mengingatkan Panjangnya Sejarah Penulisan Mushaf

Guru PAI Diperkuat Dengan Metodologi Membaca Al-Qur’an

Kegiatan diawali dengan sambutan Katim SMP Bidang PAI Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Moch. Moeizzoeddin. Acara kemudian dilanjutkan dengan laporan sekaligus pembukaan oleh Ketua MGMP PAI SMP Provinsi Jawa Tengah, Syaekudin.

Sosialisasi selanjutnya dipandu Siti Aisyah Dahlan bersama Tim Qiroati Pusat dari Kota Semarang. Para guru mendapatkan penjelasan mengenai sejarah, prinsip, keunggulan, serta sistem pembelajaran yang diterapkan dalam metode Qiroati.

Selain menerima materi, peserta juga diberikan kesempatan untuk mengukur kemampuan membaca Al-Qur’an melalui tes. Kegiatan tersebut membuat proses sosialisasi tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga memberikan gambaran mengenai kemampuan membaca peserta.

Metode Qiroati Menekankan Bacaan Tartil

Dalam kegiatan tersebut dijelaskan bahwa Qiroati merupakan metode praktis untuk pembelajaran membaca Al-Qur’an yang dirintis KH. Dachlan Salim Zarkasyi sejak 1963.

Salah satu penekanan metode Qiroati adalah kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil. Pembelajaran tajwid tidak hanya diberikan dalam bentuk teori, tetapi langsung diterapkan ketika peserta membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Pendekatan tersebut membuat kemampuan membaca menjadi bagian utama dalam proses pembelajaran. Guru tidak hanya dituntut memahami aturan tajwid, tetapi juga mampu menerapkannya secara benar dan konsisten ketika membaca.

Tajwid Tidak Berhenti Pada Penguasaan Teori

Pembelajaran membaca Al-Qur’an memiliki tantangan tersendiri. Seseorang dapat memahami teori tajwid, tetapi penerapannya saat membaca belum tentu sesuai dengan kaidah yang dipelajari.

Metode Qiroati menempatkan praktik membaca sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran. Kesalahan bacaan dapat diamati secara langsung sehingga guru dapat mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.

Dengan pendekatan tersebut, proses belajar diharapkan tidak sekadar membuat peserta didik mengetahui teori tajwid. Kemampuan membaca dengan makhraj, harakat, panjang pendek bacaan, dan ketentuan lainnya juga menjadi perhatian.

Ada Standar Kompetensi Guru Dalam Metode Qiroati

Dalam penerapannya, metode Qiroati memiliki sejumlah standar yang perlu diperhatikan. Salah satunya berkaitan dengan kompetensi guru yang ditandai dengan kepemilikan syahadah.

Selain kompetensi pengajar, terdapat MMQ yang menjadi sarana untuk menjaga kualitas dan standar pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran juga memperhatikan sejumlah aspek, mulai dari kompetensi guru hingga jumlah peserta didik dan waktu pembelajaran.

Dukungan pengelolaan dan anggaran juga menjadi bagian yang diperlukan agar pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan secara konsisten. Dengan standar tersebut, kualitas pembelajaran diharapkan tidak bergantung pada kemampuan individu semata.

Placement Test Digunakan Untuk Memetakan Kemampuan

Salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut adalah pelaksanaan placement test atau tes penempatan. Tes ini digunakan untuk mengetahui kemampuan peserta dan menentukan tingkat atau jilid pembelajaran yang sesuai.

Penentuan tingkat tidak hanya didasarkan pada seberapa lancar seseorang membaca. Jenis kesalahan yang dilakukan juga menjadi bahan pertimbangan dalam pemetaan kemampuan.

Beberapa aspek yang diperhatikan meliputi kesalahan huruf dan harakat, panjang pendek bacaan atau mad, makhraj, dengung, qalqalah, waqaf, kelancaran, bacaan gharib, hingga penguasaan teori tajwid.

Tes Membantu Menentukan Kebutuhan Pembelajaran

Pemetaan melalui placement test memberikan gambaran mengenai bagian yang masih perlu diperbaiki oleh peserta. Dengan mengetahui jenis kesalahan, pembelajaran dapat diarahkan sesuai kebutuhan.

Pendekatan tersebut penting dalam pembelajaran Al-Qur’an karena kemampuan setiap peserta tidak selalu berada pada tingkat yang sama. Ada yang sudah lancar membaca tetapi masih memiliki persoalan pada makhraj, sementara peserta lain mungkin membutuhkan penguatan pada tajwid atau kelancaran.

Hasil pemetaan dapat menjadi bahan untuk menentukan tingkat pembelajaran yang sesuai. Dengan demikian, proses belajar tidak hanya berdasarkan perkiraan kemampuan awal.

Baca juga: Kemenag Luncurkan 40 Buku PAI Terintegrasi Smart PAI, Ada Asisten AI untuk Guru dan Siswa

Guru PAI Memiliki Peran Penting Di Sekolah

Kegiatan yang diikuti guru PAI SMP se-Jawa Tengah tersebut menunjukkan pentingnya peran guru dalam memperkuat literasi Al-Qur’an di lingkungan sekolah.

Guru PAI tidak hanya menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga menjadi salah satu pihak yang membantu peserta didik membangun kemampuan membaca Al-Qur’an. Karena itu, peningkatan kompetensi guru menjadi bagian penting dalam memperbaiki kualitas pembelajaran.

Penguasaan metode, kemampuan membaca, dan konsistensi dalam menerapkan standar pembelajaran dapat memberikan pengaruh terhadap proses belajar siswa.

Dari Kompetensi Guru Menuju Kualitas Bacaan Siswa

Kualitas pembelajaran Al-Qur’an memiliki hubungan erat dengan kompetensi pengajar. Guru yang memahami metode dengan baik akan lebih mudah mengidentifikasi kesalahan bacaan dan memberikan pembinaan kepada peserta didik.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan kegiatan peningkatan kompetensi seperti sosialisasi dan placement test perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pembelajaran Al-Qur’an membutuhkan ketelitian dan konsistensi agar kemampuan membaca peserta didik dapat berkembang.

Dalam konteks pendidikan formal, penguatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran agama yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi membangun keterampilan keagamaan yang dapat dipraktikkan.

Kegiatan Diharapkan Berdampak Pada Sekolah

Katim SMP Bidang PAI Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Moch. Moeizzoeddin, berharap kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi guru PAI, sekolah, dan peserta didik.

Guru yang memiliki kompetensi lebih baik diharapkan dapat membawa hasil pembelajaran ke lingkungan sekolah masing-masing. Pengetahuan mengenai metode dan hasil pemetaan kemampuan dapat menjadi bekal dalam meningkatkan kualitas pembelajaran membaca Al-Qur’an.

Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat peran MGMP PAI sebagai ruang peningkatan kompetensi guru. Melalui kegiatan bersama, guru dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah.

Pembelajaran Al-Qur’an Perlu Dijaga Secara Berkelanjutan

Penguatan metode membaca Al-Qur’an tidak berhenti setelah kegiatan sosialisasi selesai. Penerapannya membutuhkan konsistensi guru, dukungan sekolah, serta proses evaluasi yang dilakukan secara berkala.

Placement test dapat membantu memetakan kemampuan, tetapi hasilnya akan lebih berarti apabila diikuti pembinaan yang sesuai. Guru perlu mengetahui perkembangan kemampuan membaca peserta didik dan memberikan penguatan pada bagian yang masih mengalami kesulitan.

Kegiatan MGMP PAI bersama Lembaga Qiroati Pusat di Jawa Tengah menjadi salah satu langkah untuk memperkuat hal tersebut. Dengan guru yang semakin kompeten dan metodologi pembelajaran yang terjaga, kemampuan membaca Al-Qur’an peserta didik diharapkan dapat berkembang secara lebih baik.

Leave a Comment